Yos Sonneveld, atlet esports eFootball asal Belanda yang lahir di Jakarta, menyatakan dukungannya kepada Spanyol untuk memenangkan final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Laga penentu itu akan digelar di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin 20 Juli pukul 02.00 WIB.
Pria yang dikenal dengan alias indominator94 tersebut mempunyai garis keturunan Indonesia dari Semarang. Dukungannya kepada La Furia Roja bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan dilatarbelakangi kekecewaan Belanda saat dieliminasi Argentina pada perempat final Piala Dunia 2022. Bagi Yos, Argentina merupakan tim yang pernah menghentikan langkah negaranya, sehingga wajar jika ia ingin melihat tim Amerika Selatan itu dihentikan di panggung tertinggi empat tahun berselang.
Menurut Yos, jalan yang ditempuh Spanyol menuju partai puncak jauh lebih berat dibandingkan Argentina. Tim asuhan Luis de la Fuente harus melewati beberapa negara kuat sejak babak 32 besar. Mereka memulai dengan kemenangan 3-0 atas Austria, lalu menyingkirkan Portugal 1-0 pada babak 16 besar.
Di perempat final, Spanyol menghadapi Belgia yang merupakan peringkat ketiga Piala Dunia 2018. Mereka menang dengan skor 2-1. Pada semifinal, pasukan De la Fuente kembali menunjukkan kualitas dengan mengalahkan Prancis, juara dunia 2018 sekaligus runner-up 2022, melalui dua gol tanpa balas.
Rute Argentina terlihat lebih mulus. Albiceleste memulai babak gugur dengan kemenangan 3-2 atas debutan Tanjung Verde lewat babak tambahan waktu di babak 32 besar. Mereka kemudian mengalahkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar.
Pada perempat final, Argentina menang 3-1 atas Swiss yang bermain dengan sepuluh orang, juga melalui extra time. Di semifinal, tim besutan Lionel Scaloni itu mengalahkan Inggris 2-1 setelah tertinggal satu gol hingga menit ke-84. Perbandingan jalur ini yang membuat Yos menilai Spanyol lebih layak mendapat dukungan.
Kehadiran atlet esports dalam narasi Piala Dunia menunjukkan betapa besar irisan antara dunia olahraga tradisional dan kompetisi digital di era sekarang. Di Indonesia, komunitas eFootball dan PES (Pro Evolution Soccer) telah berkembang pesat, dengan banyak pemain lokal berlaga di turnamen regional hingga global. Dukungan semacam ini dari atlet virtual turut mempertebal antusiasme penonton tanah air yang mengonsumsi kedua ekosistem secara bersamaan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertarungan dua raksasa. Kehadiran figur seperti Yos yang punya akar di Semarang menjadi representasi bagaimana diaspora Indonesia di Eropa tetap terhubung dengan identitas asalnya sembari berkiprah di industri game kompetitif. Hal ini membuka peluang promosi budaya lewat medium esports yang belum banyak digarap di dalam negeri.
Industri esports Tanah Air juga diuntungkan oleh momentum ini. Turnamen eFootball lokal kerap menyesuaikan jadwal saat ajang sepak bola nyata berlangsung, sehingga menciptakan sinergi penonton. Ketika atlet level internasional seperti Yos memberi prediksi dan dukungan, basis pengguna game di Indonesia cenderung lebih termotivasi mengikuti kompetisi serupa.
"Selain itu, menurut saya, jalan Spanyol menuju final lebih berat dibandingkan Argentina," kata Yos saat ditemui di acara Oranye Esports Bola Culture di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta Selatan. Ia menambahkan harapan agar Spanyol tampil apik dan mengalahkan Argentina di final nanti.
Yos memprediksi Spanyol menang 3-1. Tiga gol La Furia Roja disebutnya akan datang dari Mikel Oyarzabal, Mikel Merino, dan Lamine Yamal. Sementara satu-satunya gol Argentina diprediksi dicetak Enzo Fernandez. Prediksi tersebut lahir dari analisisnya terhadap performa kedua tim di sepanjang turnamen.
Ke depan, kolaborasi antara federasi sepak bola dan komunitas esports diproyeksikan makin erat, termasuk di Indonesia. Ajang seperti Piala Dunia dapat dijadikan pintu masuk bagi brand lokal untuk menyponsori atlet eFootball sebagai duta nonton bareng digital. Tren ini juga mendorong munculnya konten kreator olahraga berbasis simulasi yang memberikan perspektif alternatif di luar jurnalisme konvensional.
Langkah Yos memberi dukungan terbuka juga mencerminkan pergeseran peran atlet game dari sekadar pemain menjadi opinion leader olahraga. Hal serupa berpotensi terjadi di scene eFootball Indonesia, di mana pemain muda mulai punya pengaruh terhadap opini suporter lewat platform livestreaming dan media sosial.