Pemerintah Kota Bandarlampung secara resmi membuka layanan kesehatan gratis di seluruh puskesmas untuk masyarakat yang kesehatannya terganggu akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kebijakan ini diumumkan Wali Kota Eva Dwiana pada hari Minggu sebagai respons cepat terhadap keluhan warga yang mulai mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi mata.
Seluruh puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Bandarlampung telah disiapkan untuk melayani warga yang datang dengan keluhan kesehatan terkait abu vulkanik. Wali Kota Eva Dwiana mengimbau masyarakat yang merasakan gangguan pernapasan, batuk berdahak, atau mata perih untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat tanpa menunggu gejala memburuk.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa hari lalu telah menebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah di Provinsi Lampung dan Banten. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gunung berapi tersebut mengalami peningkatan aktivitas dengan status Siaga atau Level III sejak bulan Oktober lalu. Hujan abu yang terjadi akhir pekan lalu tercatat cukup tebal di beberapa kecamatan, mengganggu aktivitas harian warga.
Debu vulkanik yang mengandung partikel halus berbahaya bagi kesehatan karena dapat menembus saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan pada paru-paru. Anak-anak, lansia, serta penderita asma dan bronkitis kronis menjadi kelompok paling rentan. Data Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung menunjukkan peningkatan kunjungan puskesmas terkait ISPA sebesar 15 persen selama tiga hari terakhir dibandingkan minggu normal.
Selain dampak kesehatan, abu vulkanik juga mengganggu transportasi dan aktivitas ekonomi. Jarak pandang di sejumlah jalan raya menurun drastis, memaksa sejumlah pengendara berhenti di pinggir jalan. Permukaan aspal yang dilapisi abu basah menjadi licin, meningkatkan risiko kecelakaan. Wali Kota meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib memakai masker N95 atau masker kain berlapis saat terpaksa keluar rumah.
Pemkot juga mengkoordinasikan dengan BPBD Kota Bandarlampung untuk melakukan penyemprotan air di jalan-jalan utama guna menurunkan partikel abu yang terbang. Tim dari Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala di lima titik pengamatan. Hasil terbaru menunjukkan indeks kualitas udara (IKU) di kota ini masuk kategori "tidak sehat" dengan konsentrasi PM2.5 melebihi ambang batas baku mutu udara.
"Kami harap warga tidak panik, tetap tenang serta mengikuti informasi terkini terkait GAK. Terpenting tetap waspada saat beraktivitas di luar rumah serta memakai masker untuk sementara waktu," ujar Eva Dwiana. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota telah menyiapkan stok masker dan ob-obatan cukup di setiap puskesmas serta pos kesehatan desa (Poskesdes).
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan yang secara geografis lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau juga mengeluarkan imbauan serupa. Bupati Nanang Ermanto meminta warga di wilayah pesisir barat tetap waspada namun tidak perlu mengungsi karena aktivitas gunung belum menunjukkan tanda-tanda erupsi besar. PVMBG mencatat erupsi terakhir berupa letusan strombolian dengan ketinggian kolom abu 500 meter dari puncak.
Dampak abu vulkanik ini menyoroti kerentanan kota-kota pesisir di Lampung dan Banten terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sebagai gunung api aktif yang terletak di Selat Sunda, GAK telah bere erupsi berkala sejak munculnya dari lautan pada tahun 1927. Mitigasi bencana yang terfokus pada evakuasi tsunami perlu diperluas untuk mencakup manajemen risiko kesehatan dari hujan abu berulang.
Ahli kesehatan lingkungan dari Universitas Lampung, Dr. Rina Marlina, menilai respons Pemkot Bandarlampung tepat sasaran namun perlu dilengkapi dengan sistem early warning berbasis kualitas udara real-time. "Warga butuh informasi harian soal aman tidaknya udara di lingkungan mereka, bukan hanya imbauan umum memakai masker," katanya saat dihubungi secara terpisah.
Langkah selanjutnya, Pemkot berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk menilai kebijakan pembelajaran daring bagi siswa SD dan SMP jika kualitas udara tidak membaik dalam dua hari ke depan. Sementara itu, tim medis dari RSUD Dr. H. Abdul Moeloek siap dikerahkan ke puskesmas yang mengalami lonjakan pasien. Masyarakat diimbau memantau informasi resmi melalui akun media sosial Pemkot Bandarlampung dan website BPBD.