Hujan lebat yang berlangsung berhari-hari memicu banjir besar dan tanah longsor di Bangladesh, dengan korban meninggal mencapai 50 jiwa dan lebih dari 1 juta orang terisolasi. Sonakshi Dey, Direktur Program IFRC di Bangladesh, menyatakan kepada CNA bahwa upaya pertolongan terkendala oleh berbagai hambatan lapangan.
Kerusakan pada lebih dari 10.700 fasilitas air dan sanitasi memperparah krisis. Akses terhadap air minum bersih menjadi prioritas utama karena ancaman penyakit menular seperti demam berdarah dengue dan kolera meningkat tajam di tengah genangan.
Bangladesh memang berada di dataran rendah dengan topografi yang sulit dijangkau saat musim hujan. Namun, intensitas curah hujan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi mencerminkan pola musim hujan biasa.
Perubahan iklim memperburuk siklus monsoon di Asia Selatan. Ilmuwan mencatat bahwa pemanasan global membuat bentuk presipitasi lebih ekstrem, sehingga banjir, erosi sungai, dan longsor terjadi dalam skala lebih luas dan destruktif.
Sebelum banjir menerjang, negara itu sejak Maret sudah berjuang melawan wabah campak dengan hampir 750 kematian akibat kasus terkonfirmasi dan suspect. IFRC yang menangani wabah tersebut kini harus membagi sumber daya untuk merespons bencana hidrometeorologi sekaligus wabah penyakit.
Bagi Indonesia, bencana ini menyoroti kerentanan serupa di kawasan tropis yang sama-sama bergantung pada musim hujan. Berbeda dengan Bangladesh, Indonesia telah mengadopsi sistem peringatan dini berbasis sensor dan satelit dari BMKG, serta aplikasi pemantauan banjir seperti Siaga Bencana.
Start-up lokal seperti Drone Emprit dan perangkat lunak pemetaan bencana membantu relawan memetakan titik rawan secara real-time. Meski demikian, tantangan distribusi bantuan di daerah terpencil seperti Papua dan Nusa Tenggara masih mirip dengan hambatan di tujuh distrik Bangladesh.
Persoalan kesehatan pasca-banjir juga relevan bagi Indonesia. Kementerian Kesehatan biasa menyiagakan posko penyakit berbasis air melalui telemedicine, namun infrastruktur yang rusak kerap memutus jaringan. Pengalaman Bangladesh mengingatkan bahwa kolaborasi teknologi kesehatan dan logistik harus diperkuat sebelum bencana, bukan sesudahnya.
“Situasi ini sangat serius. Masalah utama adalah akses menjangkau warga karena topografi geografis negara juga sangat sulit,” ucap Sonakshi Dey dalam wawancara Selasa (14/7). Ia menambahkan bahwa relawan terus memantau rumah tangga untuk deteksi dini penyakit agar pengobatan dapat segera diberikan.
Bantuan tidak hanya dari IFRC. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF turut terlibat dalam pengiriman peralatan kesehatan dan sanitasi. Di Cox’s Bazar, lebih dari 180.000 penduduk terdampak, termasuk 152.000 pengungsi Rohingya yang tinggal di shelter darurat di lereng bukit gundul.
IFRC sedang mengajukan akses ke Dana Respons Darurat Bencana untuk Bangladesh, selain menggunakan dana respons cepat yang tersedia. Relawan Bulan Sabit Merah Bangladesh sudah disebar di distrik terdampak guna pencarian dan penyelamatan serta distribusi logistik.
Dengan pemadaman listrik dan ruang hidup terendam air, banyak warga mengandalkan makanan kering seperti beras ketan pipih atau biskuit. Mengingat tren iklim yang memburuk, banjir seperti ini diprediksi akan makin sering melanda Asia Selatan dan menuntut investasi adaptasi jangka panjang.