Aktor dan presenter Mediacorp, Ben Yeo, menutup seluruh enam gerai sup ikan irisannya setelah menanggung kerugian lima digit dollar Singapura. Ia beralih ke usaha kuliner baru berupa warung zi char tetangga bergaya lama bernama 20 Dishes Only yang mulai beroperasi di sebuah kedai kopi di Yishun awal bulan ini.
Langkah tersebut menandai perubahan arah bisnis pangan yang cukup drastis bagi publik figur asal Singapura tersebut. Gerai anyarnya sengaja dirancang sebagai tempat makan sederhana dengan menu terbatas demi menjaga efisiensi biaya dan harga terjangkau bagi warga sekitar.
Penutupan enam gerai sup ikan bukan keputusan mendadak. Yeo sebelumnya merintis usaha tersebut sebagai bagian dari ekspansi bisnis kuliner personalnya yang memanfaatkan popularitas nama di layar televisi. Namun, tekanan operasional dan margin tipis pada segmen makanan berkuah membuat proyek itu berakhir dengan rugi besar.
Kerugian lima digit yang ia sebut merujuk pada angka minimal 10.000 dollar Singapura, setara lebih dari Rp115 juta berdasarkan kurs saat ini. Bagi pelaku usaha mikro, angka itu cukup untuk membiayai satu gerai kecil selama bertahun-tahun. Yeo memilih tidak melanjutkan model bisnis yang terbukti tidak berkelanjutan.
Beralih ke zi char, yakni masakan ala restoran tepi jalan bergaya Cina-Singapura, menjadi pilihan rasional. Model ini biasanya menawarkan lauk-pauk hemat yang dimasak pesanan dan cocok dengan selera keluarga menengah ke bawah. Di Yishun, kawasan padat penduduk, permintaan akan makanan terjangkau tetap stabil.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini relevan dengan tren wirausaha selebriti yang marak di dalam negeri. Banyak publik figur Tanah Air membuka usaha kuliner dengan modal nama besar, namun tak sedikit yang gulung tikar karena minim riset pasar. Yeo memberi contoh bahwa penyesuaian model bisnis tetap perlu dilakukan meski memiliki modal popularitas.
Di Indonesia, bisnis serupa seperti warung makan keluarga atau depot tingkat RT/RW kerap menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Kegagalan ritel makanan premium selebriti di Jakarta dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa konsumen lebih memilih harga wajar daripada kemasan merek mewah. Hal ini selaras dengan langkah Yeo yang memangkas jenis usaha ke format paling esensial.
Dampak yang lebih luas terlihat pada cara pelaku industri kuliner merancang ketahanan bisnis di masa inflasi. Menyediakan 20 jenis hidangan saja sudah cukup untuk menekan waste dan simplifikasi rantai pasok. Strategi serupa mulai diuji oleh kedai kopi independen di Bandung dan Yogyakarta yang membatasi menu untuk efisiensi stok.
Yeo mendeskripsikan 20 Dishes Only sebagai warung zi char lama yang dekat dengan lingkungan warga. Ia ingin tempat itu menjadi pilihan makan malam yang tak membebani kantong pelanggan harian. Konsep itu lahir dari pengalaman rugi yang ia ambil sebagai pelajaran operasional langsung.
"Saya belajar bahwa menjalankan dapur bukan soal popularitas, tapi soal disiplin biaya," ucap Yeo merujuk keputusannya merombak usaha pangan. Pernyataan itu mencerminkan kesadaran pelaku bisnis hiburan yang mulai melihat detail margin keuntungan secara nyata.
Ke depan, Yeo akan fokus mengelola satu outlet di Yishun sebagai uji coba ketahanan format zi char terbatas. Jika respons positif, ekspansi bertahap ke kawasan HDB lain mungkin dilakukan tanpa membuka banyak cabang sekaligus. Pendekatan hati-hati ini berbeda dari ekspansi agresif sup ikan yang sebelumnya ia jalani.
Tren penyederhanaan menu diperkirakan makin kuat di Asia Tenggara seiring naiknya biaya sewa dan bahan baku. Pengusaha kuliner Indonesia dapat mengambil pelajaran dari transisi Yeo: menutup usaha yang tak efisien lebih baik daripada memaksakan kerugian berlanjut. Efisiensi, bukan eksklusivitas, menjadi kunci di pasar menengah saat ini.