Nasional

Dari Lumpur Banjir ke Istana: Perjuangan Queen Menuju Paskibraka Nasional 2026

Ringkasan

  • Zilqueensa Abintary, pelajar SMA di Aceh Tamiang penyintas banjir, lolos menjadi Paskibraka nasional 2026 usai juara satu dari tingkat kabupaten hingga provinsi.

Zilqueensa Abintary Laudicia Simatupang, yang kerap disapa Queen, membuktikan bahwa trauma bencana tidak harus menghentikan langkah seseorang meraih cita-cita. Siswi SMA Negeri 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, ini berhasil menembus seleksi Paskibraka tingkat nasional untuk upacara HUT ke-81 Republik Indonesia pada 2026. Prestasi tersebut semakin istimewa karena ia menyandang status sebagai penyintas bencana hidrometeorologi yang melanda wilayahnya pada akhir 2025.

Keberhasilan Queen tidak datang dengan mudah. Ia mencatatkan diri sebagai peringkat pertama dalam ujian akademik dan fisik sejak tahap kabupaten hingga provinsi. Berkat konsistensi tersebut, namanya bersama M Hibban Annapis asal SMA Modal Bangsa Aceh Besar resmi mewakili Aceh di jenjang nasional. Queen mengungkapkan rasa syukurnya karena berhasil melewati semua tahapan tes yang ketat dengan hasil memuaskan.

Bencana yang mengubah jalannya kehidupan Queen terjadi pada akhir 2025. Banjir besar melanda Aceh Tamiang dan merendam rumah keluarganya hingga ketinggian empat meter. Lumpur tebal menutupi seluruh bagian rumah, termasuk merusak barang-barang usaha binatu milik orang tuanya. Musibah itu membuat aktivitas sekolah Queen terhenti selama dua bulan karena kondisi wilayah tempat tinggalnya lumpuh total.

Ketika sekolah libur paksa dan lingkungan porak-poranda, semangat Queen untuk menjadi anggota Paskibraka sempat meredup. Namun, tekadnya kembali menyala ketika kondisi mulai pulih. Ia sadar bahwa bencana tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berjuang. Keputusan untuk bangkit itulah yang kemudian mengantarkannya kembali ke jalur persiapan seleksi yang sangat menuntut ketahanan fisik dan mental.

Proses seleksi Paskibraka di Aceh Tamiang sendiri digelar sejak Februari 2026, sebuah momen ketika daerah tersebut belum sepenuhnya kondusif pascabencana. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh Tamiang, Agusliana Devita, menuturkan bahwa panitia terpaksa memanfaatkan jalan di kompleks perkantoran untuk lokasi tes. Hal itu disebabkan lapangan terbuka dan sarana olahraga masih dipenuhi oleh pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Antusiasme pelajar di tengah kondisi darurat mencerminkan resiliensi generasi muda Aceh Tamiang yang patut dicontoh. Tercatat ada 300 anak mendaftar seleksi meski wilayahnya masih berstatus keadaan darurat. Angka partisipasi tersebut membuktikan bahwa krisis infrastruktur dan trauma kolektif tidak mengikis motivasi mereka untuk berprestasi di tingkat nasional.

Pencapaian Queen juga menjadi catatan sejarah bagi Aceh Tamiang. Agusliana menegaskan bahwa ini adalah prestasi pertama kali sejak kabupaten tersebut berdiri, yakni mampu melahirkan putra-putri terbaik yang meraih rangking satu tingkat provinsi di tengah keterbatasan fasilitas. Keberhasilan ini sekaligus menepis anggapan bahwa daerah yang sedang berduka sulit menghasilkan prestasi gemilang.

Di tingkat nasional, lonjakan jumlah peserta dan kualitas seleksi Paskibraka terus meningkat setiap tahun. Kasus Queen menunjukkan bahwa seleksi berbasis kecakapan akademik dan fisik yang ketat mampu menjaring talenta dari wilayah paling terdampak bencana sekalipun. Ini menjadi evaluasi bagi sistem pembinaan kepemimpinan pemuda di Indonesia bahwa kesetaraan akses harus tetap terjaga meski dalam situasi kontingensi.

"Saya sangat siap, secara mental dan fisik untuk menjalani Paskibraka di tingkat pusat," tegas Zilqueensa mengenai persiapannya menyambut upacara kemerdekaan mendatang. Ia telah menegaskan kesiapannya menjalani rutinitas latihan intensif sebagai pasukan pengibar bendera pusaka.

Di sisi lain, Agusliana Devita menyampaikan kebanggaannya yang mendalam. "Ini luar biasa, saat Aceh Tamiang dalam kondisi tidak baik-baik, bisa melahirkan anak berprestasi di tengah keterbatasan. Kami sangat bangga," pungkasnya. Dukungan dari pemerintah daerah pun dipastikan akan terus mengalir agar Queen dan rekannya dapat fokus mengikuti pemusatan latihan nasional.

Ke depan, Queen akan menjalani serangkaian pemusatan latihan nasional yang lebih berat dibandingkan tahap sebelumnya. Ia dituntut mempertahankan kebugaran serta disiplin tinggi agar terpilih sebagai barisan inti pengibar bendera Merah Putih pada 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka. Fokus utamanya saat ini adalah menjaga kestabilan mental agar tidak terbebani oleh ekspektasi publik.

Tren partisipasi pemuda daerah dalam program Paskibraka nasional diproyeksikan akan semakin inklusif. Pengalaman Aceh Tamiang membuktikan bahwa dengan manajemen seleksi darurat yang tepat, daerah bencana pun bisa berkontribusi maksimal. Prestasi Queen bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan simbol kebangkitan sosial yang menginspirasi banyak pelajar di Indonesia untuk tetap berdaya di atas kesulitan.

Mengapa Ini Penting

Keberhasilan Zilqueensa menembus Paskibraka nasional dari wilayah bencana menyoroti pentingnya ketahanan psikologis dan akses pendidikan inklusif di daerah kontingensi. Prestasi ini meruntuhkan stigma bahwa musibah alam otomatis mematikan potensi prestasi pemuda setempat. Pemerintah daerah lain dapat mengadopsi model manajemen seleksi darurat Aceh Tamiang untuk memastikan talenta tidak terabaikan saat krisis. Lebih dari itu, kisah ini menjadi pengingat nasional bahwa pemulihan pasca-bencana harus menyertakan ruang aspirasi bagi generasi muda.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit