Nasional

DPR Dorong Jatim Tingkatkan Konektivitas demi Pariwisata Berkualitas

Ringkasan

  • Wakil Ketua Komisi VII DPR Chusnunia Chalim mendesak Pemprov Jatim memperbaiki akses transportasi dan amenitas agar wisatawan betah lebih lama dan belanja lebih banyak di Jawa Timur.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menegaskan perlunya pemangku kebijakan di Jawa Timur bergerak cepat memperkuat konektivitas transportasi. Hal ini dianggap krusial untuk menunjang transformasi sektor pariwisata dari orientasi kuantitas menuju kualitas kunjungan. Pernyataan itu disampaikannya saat kunjungan kerja reses ke Surabaya, Jumat lalu.

Chusnunia mengakui sejumlah destinasi unggulan dan acara berskala nasional di Jatim masih menghadapi kendala akses. Ia menyebut Jember Fashion Carnaval yang akan digelar sebentar lagi sebagai contoh nyata. Acara yang menarik perhatian internasional itu membutuhkan penerbangan langsung serta jaringan transportasi darat yang handal agar mobilitas wisatawan dan peserta lancar.

Masalah konektivitas udara memang menjadi simpul permasalahan klasik. Saat ini rute penerbangan langsung dari dan ke Jakarta maupun Bali ke sejumlah kota di Jatim masih terbatas. Kondisi ini memaksa wisatawan melakukan transit yang memakan waktu dan biaya tambahan. Chusnunia menilai efisiensi waktu perjalanan menjadi faktor penentu keputusan wisatawan memilih destinasi.

Di sisi lain, ketersediaan amenitas pendukung seperti hotel berbintang, penginapan non-bintang, hingga fasilitas umum di area wisata dinilai belum sebanding dengan potensi. Banyak destinasi yang ramai dikunjungi akhir pekan, namun minim pilihan menginap yang nyaman. Hal ini secara langsung memotong kemungkinan wisatawan untuk memperpanjang menginap.

Data yang dikutip Chusnunia menunjukkan rata-rata lama tinggal wisatawan di Jatim hanya 1,5 hari. Angka ini jauh di bawah target ideal tiga hari yang diyakini mampu menggerakkan roda ekonomi lokal lebih maksimal. Selama 1,5 hari, pengeluaran wisatawan cenderung terbatas pada tiket masuk dan konsumsi ringan, belum menyentuh sektor perhotelan, kuliner khas, hingga UMKM kreatif.

Pergeseran paradigma dari quantity tourism ke quality tourism menjadi narasi utama. Fokus tidak lagi pada berapa banyak kepala yang datang, melainkan berapa lama mereka tinggal dan berapa besar uang yang berputar di tingkat desa. Strategi ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mendorong pengeluaran per kapita wisatawan.

Jika target tiga hari tercapai, proyeksi dampak ekonomi signifikan. Sektor perhotelan akan menikmati okupansi akhir pekan yang lebih stabil. Warung makan dan UMKM kuliner mendapat aliran pelanggan berkelanjutan. Penyedia transportasi lokal — dari ojek online hingga rental mobil — mendapat order berulang. Efek multiplier ini yang ingin DPR wujudkan melalui dorongan kebijakan.

Pemprov Jatim sendiri telah mendeklarasikan diri sebagai "provinsi event" untuk menggenjot kunjungan. Namun Chusnunia menegaskan kalender acara padat tidak akan bermakna tanpa didukung infrastruktur yang memadai. Acara besar seperti Jember Fashion Carnaval, Banyuwangi Ethno Carnival, hingga Festival Pesona Madura butuh jaminan aksesibilitas yang konsisten, bukan hanya musiman.

Kendati demikian, sejumlah langkah nyata telah mulai terlihat. Buka rute baru Wings Air ke beberapa kota di Jatim dinilai sebagai sinyal positif. Namun perlu diperluas ke bandara-bandara sekunder yang dekat dengan destinasi wisata utama. Sinergi antara Kementerian Perhubungan, BUMD transportasi daerah, dan maskapai swasta menjadi kunci keberlanjutan rute tersebut.

Menatap ke depan, Chusnunia menuntut komitmen nyata dari Gubernur Jatim dan Forkopimda untuk menyusun rencana aksi terukur. Bukan hanya ceramah di rapat, tapi jadwal pembangunan terminal, perbaikan jalan akses wisata, hingga insentif bagi investor hotel di kawasan prioritas. DPR siap mengawasi melalui fungsi anggaran dan legislasi.

Bagi pelaku usaha pariwisata lokal, sinyal ini membawa harapan sekaligus tantangan. Harapan karena dukungan kebijakan mulai mengarah pada kesejahteraan mereka. Tantangan karena harus siap meningkatkan standar layanan agar layak dijadikan pilihan wisatawan yang bermalam lebih lama. Kualitas pengalaman wisatawan akhirnya ditentukan oleh detail-detail kecil di lapangan.

Mengapa Ini Penting

Berita ini mengungkap kesenjangan fundamental antara ambisi Jatim jadi 'provinsi event' dan realitas infrastruktur yang masih ketinggalan. Rata-rata menginap 1,5 hari berarti uang wisatawan kebanyakan bocor ke luar daerah — ke maskapai penerbangan dan platform booking besar — bukan ke tangan pedagang kecil di desa wisata. Jika target 3 hari terwujud, potensi sirkulasi uang di tingkat UMKM bisa melonjak signifikan. Namun tantangannya bukan cuma bangun bandara, tapi mengubah mentalitas pengelola destinasi dari 'cari tamu' jadi 'rawat tamu'. Tanpa perbaikan kualitas layanan di ujung tombak — kebersihan toilet, keamanan, kelezatan makanan — infrastruktur apa pun tidak akan membuat wisatawan betah.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit