Empat ruang kelas dan satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi, Jakarta Selatan, ambruk sejak dua tahun lalu atau tepatnya awal 2024. Hingga pekan ini, bangunan tersebut masih dalam kondisi terbengkalai dan belum ada tanda-tanda perbaikan dari pemerintah setempat.
Kondisi di lokasi menunjukkan suasana mencekam. Gerbang sekolah digembok dan dijaga satpam. Tidak ada aktivitas guru maupun siswa saat pagi hari. Puing-puing berserakan, atap genteng dan tiang penyangga ambruk menimpa lemari, meja, dan kursi. Buku serta topi siswa terlihat berserakan di lantai. Sekolah yang terletak di tengah permukiman padat penduduk itu nyaris tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Informasi yang dihimpun, bangunan ambruk saat proses Pilkada 2024. Namun, hingga menjelang pertengahan 2026, perbaikan tak kunjung direalisasikan. Orang tua murid yang prihatin menyuarakan keluhan melalui media sosial, khususnya di platform Threads. Akun @evie_afridaoctafiani menyoroti kondisi SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang memprihatinkan.
"Kami sebagai orang tua murid sangat prihatin. Sekolah-sekolah lain sudah memiliki gedung bertingkat, bahkan ada yang dilengkapi lift. Sementara itu, anak-anak kami harus menjalani kegiatan belajar dalam kondisi yang jauh dari layak," demikian kutipan yang beredar. Mereka juga mengeluhkan bahwa siswa tidak bisa mengikuti kegiatan mengaji karena jam masuk sekolah pukul 12.30 WIB selama hampir dua tahun terakhir.
Dampak robohnya ruang kelas ini jelas mengganggu proses belajar mengajar. Siswa terpaksa beraktivitas di ruang yang tidak memadai. Keselamatan mereka pun terancam karena ada bagian bangunan yang masih rapuh. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan belum memberikan pernyataan resmi mengenai kapan renovasi akan dimulai.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan infrastruktur pendidikan di Jakarta. Beberapa sekolah negeri lainnya juga mengalami kondisi serupa akibat usia bangunan tua dan minimnya perawatan. Anggaran renovasi yang terbatas atau birokrasi yang lambat kerap menjadi kendala. Publik pun mulai mempertanyakan prioritas pemerintah dalam menangani sekolah-sekolah yang sudah tidak layak.
Para orang tua berharap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno dapat segera turun tangan. Mereka mendesak agar pembangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 direalisasikan demi masa depan anak-anak.
Tak hanya sekolah ini, banyak sekolah negeri di Jakarta yang membutuhkan perhatian serius. Idealnya, setiap anak berhak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Kejadian seperti ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera melakukan audit dan perbaikan menyeluruh terhadap infrastruktur pendidikan.
Ke depannya, diharapkan ada komitmen kuat dari Pemprov DKI untuk mengalokasikan anggaran renovasi sekolah secara bertahap. Transparansi dan pengawasan publik juga perlu ditingkatkan agar dana yang telah dianggarkan tepat sasaran. Jika tidak, nasib siswa-siswi di sekolah-sekolah tua seperti SDN Kebayoran Lama Selatan 09 akan terus terabaikan.
Kondisi ini juga menjadi gambaran ironis di ibu kota. Di tengah megapolitan yang terus berkembang, masih ada anak-anak yang harus belajar di bangunan roboh. Kesenjangan fasilitas pendidikan semakin nyata. Sekolah swasta di Jakarta sudah banyak yang bertingkat dan modern, sementara sekolah negeri seperti ini masih bergulat dengan keamanan dasar.
Perbaikan infrastruktur sekolah harus menjadi prioritas, bukan sekadar wacana. Tekanan publik melalui media sosial mungkin bisa mempercepat respons pemerintah. Namun, idealnya kebutuhan ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari melalui perencanaan anggaran yang matang.
Kasus SDN Kebayoran Lama Selatan 09 adalah bukti bahwa urusan pendidikan masih jauh dari kata layak di tengah klaim kemajuan Jakarta.