European Athletics dan European Broadcasting Union (EBU) meluncurkan panduan penyiaran pada Rabu untuk menghentikan pelecehan seksual terhadap atlet wanita melalui pengambilan gambar dan tayangan ulang. Langkah ini diambil setelah banyak atlet mengeluhkan sudut kamera tertentu yang membuat mereka tidak nyaman dan mengalihkan perhatian dari prestasi olahraga mereka.
Panduan bertajuk “Raising the Bar” itu berisi arahan teknis bagi stasiun penyiaran agar tidak lagi menggunakan bidikan close-up berkepanjangan pada bagian tubuh tertentu, pengambilan dari sudut rendah di belakang atau dari bawah atlet, serta slow-motion yang tidak menambah pemahaman penonton terhadap pertandingan. Tujuannya agar siaran tetap fokus pada performa atlet dan menekan risiko footage dipotong lalu disebar secara tidak pantas di media sosial.
Keluhan soal pelecehan visual bukanlah hal baru di dunia siaran olahraga. Selama bertahun-tahun, atlet wanita kerap menjadi objek bidikan kamera yang justru menonjolkan fisik而不是 kemampuan teknis mereka. Masukan langsung dari atlet menjadi pemicu utama penyusunan panduan ini, karena mereka merasa terekam dalam sudut yang mempermalukan saat sedang berkompetisi.
Dobromir Karamarinov, Presiden European Athletics, menegaskan bahwa penyusunan panduan pengambilan gambar merupakan langkah krusial untuk menghapus representasi berbahaya terhadap perempuan di olahraga. Ia menekankan bahwa hal tersebut tetap harus menjaga kualitas penceritaan dan keunggulan teknis siaran. Panduan ini dirilis sebagai jawaban atas tekanan moral dari komunitas atlet yang ingin perlindungan saat tampil di depan publik.
Glen Killane, Direktur Eksekutif EBU Sport, memaparkan bahwa seksualisasi atlet wanita lewat sudut kamera dan editing masih menjadi masalah besar di banyak siaran. Menurutnya, bidikan yang berlama-lama pada tubuh, kamera sudut rendah yang merekam sisi revealing, dan slow-motion berlebihan tanpa tujuan teknis banyak ditemukan dalam liputan atletik wanita saat ini. Pilihan-pilihan visual itu mengalihkan perhatian dari pencapaian luar biasa dan keterampilan atlet, sekaligus berpotensi melanggengkan stereotip negatif.
Di Indonesia, isu serupa kerap muncul dalam siaran olahraga meski belum ada regulasi khusus yang mengaturnya. Liputan pertandingan voli pantai atau bulu tangkis putri, misalnya, acap kali menyorot penampilan fisik而不是 strategi permainan. Tanpa panduan seperti yang dilakukan Eropa, editor gambar di tanah air masih bebas menentukan sudut kamera tanpa mempertimbangkan kenyamanan atlet. Hal ini menunjukkan perlunya kesadaran industri penyiaran lokal akan etika visual.
Panduan EBU menyertakan ilustrasi animasi untuk lompat tinggi, lompat galah, lompat jauh, lompat tiga langkah, dan lari dengan membedakan sudut “positif” dan “negatif” lewat tanda centang dan silang. Pada nomor lompat tinggi, misalnya, kamera rendah dari bawah atlet berisiko menghasilkan gambar yang mempermalukan, dan slow-motion saat melewati mistar justru mengurangi wawasan teknis serta memunculkan citra tidak pantas. Penjelasan serupa juga diberikan untuk merekam emosi, perayaan, dan interaksi dengan pelatih secara hormat.
Mantan juara lompat jauh dunia Ivana Spanovic mendorong stasiun penyiaran menggunakan sudut inovatif seperti aerial view dan grafis edukatif untuk menjelaskan aspek teknis pertandingan. Atlet Serbia itu menuturkan bahwa olahraga menyediakan banyak peluang menampilkan teknik dan keindahan gerak, termasuk slow-motion yang justru menonjolkan presisi seperti momen take-off atau langkah sempurna. Pandangan ini menggeser fokus dari tubuh atlet ke keahlian mereka.
Dokumen panduan tersebut terbuka untuk digunakan seluruh penyiaran dan dinyatakan bukan sekadar batasan, melainkan awal percakapan antara broadcaster, sutradara, kameramen, dan atlet. European Athletics dan EBU ingin proses produksi ke depan melibatkan dialog berkelanjutan agar perlindungan atlet wanita menjadi bagian dari standar siaran, bukan sekadar respon sesaat terhadap kritik.
Ke depan, langkah Eropa ini berpotensi menjadi rujukan federasi olahraga lain di berbagai benua, termasuk Asia. Jika tren penyiaran etis meluas, atlet wanita dapat berkompetisi tanpa kecemasan akan pelecehan visual yang viral di internet. Di Indonesia, organisasi seperti PBSI atau PSSI dapat mengadopsi semangat serupa lewat pedoman internal bagi kru televisi mitra.
Revolusi sudut kamera ini juga menandai pergeseran industri penyiaran olahraga dari sekadar hiburan visual ke arah penghormatan terhadap prestasi. Teknologi broadcast yang makin canggih sebaiknya digunakan untuk mengedukasi penonton tentang teknik olahraga, bukan menyajikan objektifikasi. Langkah Eropa patut menjadi cetak biru bagi ekosistem siaran yang lebih adil bagi atlet perempuan di seluruh dunia.