Wisatawan yang berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, disambut pemandangan langka pada pagi Minggu (12/7/2026). Suhu udara yang turun drastis hingga minus tiga derajat Celcius telah membekukan uap air di permukaan, menciptakan lapisan embun beku yang menutupi hamparan rumput, tanaman, hingga kompleks Candi Arjuna. Fenomena ini, yang dikenal lokal sebagai "embun upas", telah menjadi daya tarik musiman yang ditunggu-tunggu para pencinta alam dan fotografer.
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian embun beku di Dieng merupakan fenomena alami yang berulang terjadi pada musim kemarau, kira-kira bulan Juni hingga September. Pemicunya adalah angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dari benua Australia menuju wilayah Indonesia. Udara kering ini memiliki kelembapan rendah, sehingga pada malam hari terjadi pendinginan radiatif yang intensif di permukaan tanah, menurunkan suhu hingga di bawah titik beku air.
Proses fisika di balik fenomena ini melibatkan sublimasi, di mana uap air di udara berubah langsung menjadi padat (kristal es) tanpa melewati fase cair, karena suhu permukaan sudah di bawah nol derajat Celcius. Berbeda dengan embun biasa yang terbentuk saat suhu turun hingga titik embun (dew point) namun masih di atas nol derajat, embun beku membutuhkan kondisi suhu negatif. Ketinggian Dieng yang mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut memperparah pendinginan ini karena tekanan udara lebih rendah dan laju penurunan suhu lebih cepat.
Di Lapangan Pandawa, sekelompok wisatawan terlihat bersemangat mengabadikan momen langka ini. Beberapa di antara mereka memegang termometer digital yang menunjuk angka minus tiga derajat Celcius, membuktikan seberapa dinginnya suhu di puncak Dieng pada pagi hari. Pemandangan rumput yang biasanya hijau segar kini berubah putih bersih seperti disiram salju, menciptakan kontras visual yang memukau terhadap langit biru cerah pagi musim kemarau.
Kompleks Candi Arjuna, situs warisan sejarah Hindu kuno dari abad ke-8 Masehi, tampak megah di tengah hamparan embun beku. Arsitektur batu andesit candi-candi kecil tersebut kini diliputi lapisan es tipis yang memantulkan sinar matahari, menambah kesan mistis dan sakral di tempat yang memang dikenal sebagai tempat pemujaan leluhur. Para pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga merenung sejarah peradaban di tengah keheningan pagi yang membeku.
Fenomena embun beku ini memberikan dampak ganda bagi ekonomi lokal. Sektor pariwisata Dieng mengalami lonjakan kunjungan pada musim kemarau, menggerakkan usaha mikro seperti homestay, warung makan, penyewaan jaket tebal, hingga pandu wisata lokal. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisata terus mengoptimalkan promosi "Dieng Frost Season" sebagai produk andalan, termasuk menyediakan informasi real-time suhu dan keamanan bagi wisatawan melalui media sosial resmi.
Namun, di balik keindahan terselubung risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Paparan suhu ekstrem negatif berpotensi menyebabkan hipotermia, bekuan kulit (frostbite), hingga gangguan pernapasan bagi orang yang tidak siap. BMKG dan Dinas Kesehatan setempat rutin mengeluarkan peringatan dini agar wisatawan membawa pakaian hangat berlapis, sarung tangan, topi, dan sepatu tertutup. Disarankan pula untuk tidak beraktivitas terlalu lama di ruang terbuka tanpa perlindungan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Secara ilmiah, pemantauan fenomena embun beku di Dieng juga menjadi indikator penting bagi para klimatolog dalam memahami dinamika monsun dan perubahan iklim regional. Data suhu minimum harian yang dicatat stasiun pengamatan BMKG Dieng digunakan untuk memvalidasi model prediksi cuaca dan mengkaji tren penurunan suhu ekstrem dari tahun ke tahun. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa Indonesia, meskipun berada di kawasan tropis, memiliki mikroklimat unik di dataran tinggi yang mampu menampilkan karakteristik iklim subtropis musiman.