Sebanyak 103 anak dari kawasan Jabodetabek mendaftar untuk unjuk gigi dalam kompetisi menggambar dan melukis di festival "Colour of Indonesia: Cita Anak Bangsa dalam Warna Kemerdekaan". Dari jumlah tersebut, 29 finalis terbaik akhirnya tampil di Habitat Park, SCBD, Jakarta, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Mereka terdiri dari 10 finalis kategori menggambar untuk usia 8-12 tahun, 10 finalis kategori melukis umum, dan sembilan finalis dari kategori melukis difabel untuk usia 13-16 tahun.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang lomba. Panitia merancangnya sebagai ekosistem kreatif yang menyatukan kompetisi, edukasi, dan kolaborasi. Festival ini merupakan bagian dari peringatan Hari Anak Nasional sekaligus upaya memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Acara dibuka dengan aksi melukis bersama oleh sejumlah pejabat dan tokoh, termasuk Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung Reda Manthovani dan Direktur PT Tempo Inti Media Impresario Ali Nur Yasin.
Ali Nur Yasin menegaskan bahwa Colour of Indonesia didesain sebagai ruang yang lebih luas dari sekadar kompetisi. "Hari ini bukan sekadar perlombaan menggambar dan melukis, melainkan juga ruang bagi anak-anak Indonesia untuk mengekspresikan mimpi, harapan, semangat, dan kecintaan mereka kepada Indonesia melalui karya seni," ujar Ali. Ia menambahkan bahwa festival ini menjadi ruang edukasi, apresiasi, kolaborasi, dan inspirasi bagi generasi muda.
Di balik penyelenggaraannya, terdapat kolaborasi lintas sektor. Ali Nur Yasin menyebutkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara, dunia usaha, media, dan masyarakat merupakan fondasi penting untuk menciptakan ruang tumbuh bagi anak-anak Indonesia. Pernyataan ini sejalan dengan kehadiran berbagai pihak, termasuk perwakilan dari MIND ID, yang mendukung jalannya acara.
Seni dan budaya ditempatkan sebagai jembatan utama untuk mengenal jati diri. Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana, Cahaya Manthovani, menyampaikan bahwa ruang berekspresi perlu terus dihadirkan agar generasi muda semakin dekat dengan budaya bangsanya. "Karena itu kami terus menghadirkan ruang agar anak-anak Indonesia bisa mengenal, mencintai, dan menghidupkan kembali budaya bangsanya," kata Cahaya.
Kompetisi ini mendapat apresiasi tinggi dari jajaran juri yang terdiri dari kartunis senior Tempo Imam Yuni, desainer senior dan ilustrator Tempo Kendra Paramitha, serta seniman mural sekaligus dosen Institut Kesenian Jakarta Guntur Wibowo. Penilaian mereka tidak hanya fokus pada aspek teknis seni, tetapi juga pada orisinalitas gagasan dan kedalaman pesan yang terkandung dalam karya.
Kualitas karya peserta ternyata melampaui ekspektasi banyak pihak, termasuk Reda Manthovani. Ia terkesan dengan ide-ide luar biasa yang dituangkan baik oleh anak-anak disabilitas maupun nondisabilitas. "Baik anak-anak yang disabilitas maupun nondisabilitas, itu idenya sama-sama luar biasa. Saya lihat juga hasil karyanya ini di luar dugaan," ungkap Reda. Ia bahkan menyebutkan bahwa karya-karya ini berpotensi untuk dimonetisasi.
Potensi ekonomi dari karya seni anak menjadi sorotan penting dalam festival ini. Reda Manthovani berharap agar kegiatan serupa tidak berhenti di tahap kompetisi semata. Ke depannya, ia menginginkan agar karya-karya peserta mendapatkan ruang apresiasi yang lebih luas dan memiliki nilai ekonomi. "Ke depan, harapannya, event seperti ini bisa diperluas. Bukan sekadar lomba, tapi juga hasil karya lomba ini ada event tersendiri, bisa dimonetisasi," tuturnya.
Festival Colour of Indonesia pada akhirnya menjadi representasi nyata dari harapan besar untuk generasi muda. PT Tempo Inti Media Impresario, sebagai penyelenggara, konsisten menghadirkan ruang positif bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas melalui seni. Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia, tepat dalam semangat perayaan kemerdekaan.