Tim nasional Prancis tersingkir dari semifinal Piala Dunia setelah kalah 2-0 dari Spanyol di Dallas, Texas, pada 15 Juli, meninggalkan generasi pemain berbakat mereka dalam kekecewaan mendalam. Kekalahan tersebut memicu spekulasi kuat bahwa Zinedine Zidane akan segera mengambil alih tim untuk mengubah potensi individu menjadi trofi internasional ketiga.
Kekalahan di Dallas menjadi pukulan telak karena cara Prancis bermain. Mereka datang dengan enam kemenangan beruntun dan ambisi melaju ke final Piala Dunia ketiga secara berturut-turut. Spanyol memberikan ujian sesungguhnya dan mengalahkan Prancis secara teknis serta taktik. Anak-anak asuh Didier Deschamps tidak pernah terlihat mampu membalikkan jalannya laga.
Ini merupakan kekalahan ketiga berturut-turut Prancis dari Spanyol di semifinal turnamen besar, menyusul Euro 2024 dan Nations League. Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, Desire Doue, hingga Bradley Barcola gagal memanfaatkan peluang emas. Padahal, mayoritas dari mereka masih akan berada di usia puncak saat Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Spanyol menguasai penguasaan bola dan ritme permainan. Upaya Prancis menekan lawan justru kacau karena banyak kesalahan teknis. Mbappe menilai timnya tidak menjalankan rencana taktik maupun kualitas teknik yang seharusnya. Rayan Cherki, yang masuk di babak kedua, menyebut Prancis kalah karena diri sendiri, bukan wasit atau Spanyol.
Kekalahan ini mengakhiri 14 tahun kepemimpinan Deschamps, yang akan turun usai perebutan tempat ketiga pada Sabtu nanti. Deschamps mulai menangani tim pada 2012, saat Prancis masih trauma dari krisis Piala Dunia 2010 akibat pemberontakan pemain dan boikot latihan. Dia membawa gelar juara 2018 dan final 2022 dengan pendekatan pragmatis serta disiplin turnamen.
Era Deschamps membuktikan Prancis selalu jadi kekuatan di turnamen besar. Namun gaya mainnya kerap tidak mengoptimalkan talenta penyerang yang melimpah. Situasi yang diwariskan kini jauh lebih sehat ketimbang 2012. Prancis memiliki kekayaan pemain yang tak tertandingi sebagian besar rival Eropa.
Zidane belum diumumkan secara resmi. Mantan kapten dan pelatih Real Madrid itu sejak lama dianggap pewaris alami. Tantangannya bukan mencari pemain, melainkan struktur yang memaksimalkan kolektivitas. Evolusi permainan Prancis selama turnamen, termasuk kebangkitan Olise sebagai kreator, jadi modal bagus baginya.
Bagi Indonesia, situasi ini relevan sebagai cermin pembinaan usia dini. Teknologi video analitik dan scouting Eropa memungkinkan Prancis mendeteksi bakat sejak belia. Sementara itu, klub lokal kita masih bergantung pada kompetisi tradisional tanpa infrastruktur data serupa. Kegagalan mengelola talenta jadi pelajaran bahwa modal bintang tak cukup tanpa sistem.
Kolapsnya Prancis melawan Spanyol menunjukkan pekerjaan rumah besar untuk mengubah potensi jadi prestasi berkelanjutan. Generasi Mbappe belum habis, tapi kesempatan di level tertinggi terbatas. Mereka sudah kalah final 2022 lewat adu penalti dan disingkirkan Spanyol di tiga turnamen beruntun.
"Kami tidak memainkan laga yang kami inginkan, baik secara taktik maupun teknik," kata Mbappe. "Saat Anda tidak melakukan yang seharusnya di semifinal Piala Dunia, Anda tidak menang." Cherki menambahkan, "Kami kalah dari diri sendiri."
Zidane diperkirakan akan langsung menyusun skema untuk Euro 2028 dan Piala Dunia 2030. Federasi Prancis butuh transisi mulus agar generasi emas tak berakhir hanya dengan penyesalan. Tren sepak bola modern menuntut pelatih dengan otoritas simbolik sekaligus visi teknis seperti Zidane.
Ke depan, kompetisi antarnegara akan makin ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan pemain bintang ke dalam sistem. Prancis jadi laboratorium terbuka bagi negara lain, termasuk Indonesia, tentang pentingnya manajemen bakat dan kepemimpinan teknis.