Nasional

Harga Pangan Melonjak: Cabai Rawit Sentuh Rp58.400, Telur Rp29.000 per Kilo

Ringkasan

  • Data PIHPS Bank Indonesia menunjukkan harga cabai rawit merah mencapai Rp58.400 per kilogram dan telur ayam ras Rp29.000 per kilogram di tingkat pedagang eceran nasional pada Rabu (15/1) pukul 06.47 WIB.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia mencatatkan tekanan harga pada sejumlah komoditas utama di tingkat eceran. Cabai rawit merah menjadi sorotan utama setelah menyentuh level Rp58.400 per kilogram, naik signifikan dibandingkan rentang normal Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram beberapa bulan lalu. Telur ayam ras pun melonjak ke Rp29.000 per kilogram, melewati harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.000 per kilogram.

Sementara itu, komoditas lain pun menunjukkan gerakan serupa. Bawang merah dan bawang putih masing-masing tercatat di Rp44.700 dan Rp44.150 per kilogram. Beras kualitas medium I mencapai Rp16.350 per kilogram, sedangkan daging sapi kualitas I menembus Rp150.350 per kilogram. Minyak goreng kemasan bermerek I dijual Rp24.200 per liter, jauh di atas harga patokan pemerintah.

Kenaikan ini tidak terlepas dari faktor musiman dan rantai pasok. Musim hujan yang berkepanjangan sejak akhir tahun lalu mengganggu panen cabai dan sayuran di sentra produksi utama seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Lahan basah menghambat pengaplikasian pupuk dan panen, sekaligus memperlambat distribusi akibat akses jalan yang tergenang.

Di sisi permintaan, persiapan menjelang bulan Ramadan 1446 H yang diperkirakan jatuh pada Maret mendorong spekulasi pedagang besar. Distributor cenderung menahan stok untuk menunggu harga puncak, sementara petani kecil justru kehilangan daya tawar karena keterbatasan modal dan akses pasar. Asimetri informasi ini memperparah kesenjangan harga antara tingkat petani dan eceran.

Kebijakan impor yang dinilai terlambat juga jadi pemicu. Kuota impor bawang putih dan gula yang baru terbitkan awal Januari belum sepenuhnya terealisasi di pasar. Untuk telur, kebijakan pembatasan ekspor ke Singapura sejak Oktober 2024 seharusnya menstabilkan pasokan domestik, namun realisasi justru menunjukkan kekurangan sekitar 10-15 persen dari kebutuhan harian nasional.

Dampak bagi rumah tangga terasa nyata. Survei cepat di sejumlah pasar tradisional Jakarta dan Bandung menunjukkan ibu rumah tangga mulai mengurangi porsi cabai dan beralih ke bumbu instan. Warung makan dan UMKM kuliner mengeluhkan margin keuntungan yang menyusut, terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi porsi. Indeks harga konsumen (IHK) Januari 2025 diproyeksi naik 0,3-0,5 persen month-to-month, didorong komponen makanan, minuman, dan tembakau.

Bank Indonesia melalui PIHPS terus memantau gerakan harga harian sebagai indikator awal tekanan inflasi. Gubernur Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan BI siap mengoperasikan instrumen kebijakan moneter dan makroprudensial jika inflasi inti menunjukkan tren naik berkelanjutan. Saat ini inflasi inti masih terkendali di level 2,1 persen YoY per Desember 2024, namun risiko upside semakin nyata.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengaku sudah menggelar operasi pasar modal (OPM) beras dan telur di 50 kota sejak awal Januari. Namun realisasi di lapangan menunjukkan volume masih terbatas. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menilai intervensi pasar harus dibarengi perbaikan logistik dan penyederhanaan izin distribusi antar pulau.

Dari sisi petani, Serikat Petani Indonesia (SPI) menilai harga tinggi di tingkat eceran tidak sepenuhnya dinikmati petani. Harga beli cabai rawit di tingkat petani masih berkisar Rp35.000-Rp40.000 per kilogram. Margin besar tertelan oleh tengkulak dan biaya transportasi yang melonjak 20-30 persen akibat kenaikan biaya solar dan tol.

Ke depan, tren harga akan sangat bergantung pada realisasi panen musim hujan Februari-Maret dan kebijakan impor pemerintah. Jika cuaca membaik dan impor gula serta bawang putih masuk masif minggu depan, koreksi harga mungkin terjadi. Namun, risiko El Niño yang diprediksi BMKG melemah di kuartal II 2025 justru berpotensi memicu kenaikan lagi menjelang Lebaran.

Bagi konsumen, diversifikasi konsumsi dan pembelian di pasar grosir atau aplikasi e-commerce pertanian seperti Sayurbox dan TaniHub bisa jadi alternatif menekan beban belanja. Pemerintah perlu mempercepat digitalisasi rantai pasok melalui platform Sistem Informasi Harga (SIH) agar transparansi harga meningkat dan praktik spekulasi bisa diminimalisir.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan harga pangan strategis ini mengancam daya beli rumah tangga menjelang Ramadan, memaksa Bank Indonesia dan Kementerian Perdagangan mempercepat operasi pasar dan impor untuk menstabilkan inflasi inti. Jika tidak terkendali, tekanan ini akan merambat ke inflasi inti dan memaksa BI mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berdampak pada biaya pinjaman UMKM dan pertumbuhan ekonomi. Asimetri harga antara petani dan eceran juga memperparah ketimpangan pendapatan di sektor pertanian.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit