Jakarta akan menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang menyelenggarakan Harmony in Diversity Award 2026 pada 14 hingga 15 Juli 2026. Acara ini merupakan ajang bergengsi yang bertujuan memperkuat solidaritas, kepercayaan, dan kepedulian antar komunitas regional. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa acara ini mencerminkan komitmen kolektif untuk memperkokoh perdamaian, persahabatan, dan persatuan warga di seluruh Asia Tenggara di tengah dunia yang semakin kompleks.
Acara ini diinisiasi oleh Temasek Foundation dari Singapura bekerja sama dengan 5P Global Movement Indonesia. Keduanya meluncurkan program tersebut pada 1 Agustus 2025 di Singapura, sebagai langkah awal membangun jaringan apresiasi terhadap tokoh inspiratif di kawasan.
Dalam jamuan makan malam penyambutan di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Gubernur Pramono menekankan bahwa Jakarta selalu menjunjung nilai-nilai toleransi. Ia menyebut berbagai perayaan yang mendapat ruang di ibu kota, seperti Christmas Carol Kolosal, perayaan Tahun Baru Imlek, parade Ogoh-ogoh, Jakarta Bedug Kolosal, hingga Waisak. Menurutnya, keberagaman adalah sumber kekuatan utama Jakarta.
Berbagai perayaan tersebut menunjukkan kebijakan pemerintah provinsi yang memfasilitasi ruang ekspresi bagi seluruh kelompok masyarakat. Mulai dari acara keagamaan hingga budaya, semuanya diintegrasikan ke dalam kalender kota tanpa membedakan latar belakang.
Penghargaan tahun ini diberikan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo atas perannya memediasi konflik di Mindanao, termasuk melalui Bishops-Ulama Conference. Upaya kardinal tersebut membuktikan bahwa dialog lintas agama dan komunitas mampu membuka jalan menuju perdamaian berkelanjutan.
Acara tersebut juga dihadiri tokoh-tokoh berpengaruh di Asia Tenggara. Mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, Founder and Chair of 5P Global Movement Arsjad Rasjid, serta dua mantan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Marty Natalegawa hadir dalam jamuan tersebut.
Bagi Jakarta, menjadi tuan rumah acara ini berarti memperkuat citra ibu kota sebagai kota yang inklusif di tingkat regional. Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah mempromosikan toleransi sebagai daya tarik wisata budaya dan investasi.
Di tingkat nasional, acara ini menjadi cerminan bahwa Indonesia, dengan keragaman etnis, agama, dan bahasa, mampu menjadi tuan rumah acara internasional yang menghargai pluralisme. Hal ini dapat menginspirasi kebijakan serupa di daerah lain untuk memperkuat kohesi sosial.
Selain itu, pemerintah DKI juga merencakan proyek infrastruktur seperti LRT yang akan terhubung ke JIS dan Halim, serta tempat pertemuan untuk lansia. Semua ini menunjukkan komitmen Jakarta dalam membangun kota yang ramah bagi semua usia dan kelompok.
Ke depannya, Jakarta berpotensi menjadi tuan rumah tahunan bagi acara serupa, mendorong pariwisata budaya dan diplomasi antarkota. Acara ini juga dapat menjadi platform bagi tokoh-tokoh muda Indonesia untuk menunjukkan kontribusi mereka dalam membangun harmoni.
Gubernur Pramono menyatakan bahwa acara ini bukan hanya seremoni, tetapi juga momentum untuk menegaskan kembali bahwa keberagaman adalah aset strategis bagi masa depan Jakarta dan Indonesia.
Secara keseluruhan, Harmony in Diversity Award 2026 menandai langkah penting bagi Jakarta dalam memimpin agenda regional tentang toleransi dan persatuan, sekaligus menjadi contoh bagi kota-kota lain di Asia Tenggara.