Jaksa di Milan mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk menghentikan penyelidikan kasus penipuan olahraga yang menjerat Gianluca Rocchi. Mantan penunjuk wasit untuk kompetisi Serie A dan Serie B itu sempat dituduh terlibat dalam pengaturan tugas wasit pada empat pertandingan musim lalu.
Permintaan tersebut disampaikan setelah penyelidikan selama dua tahun tidak menghasilkan bukti adanya pengaturan skor. Rocchi sebelumnya mengambil keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri sementara dari jabatannya pada April lalu guna memperlancar proses hukum.
Kasus ini bermula dari kecurigaan terhadap penunjukan wasit untuk empat laga, termasuk pertandingan Torino melawan Inter Milan di Serie A musim yang baru saja berakhir. Pihak kepolisian dan otoritas sepak bola Italia kemudian membuka investigasi atas dugaan komplisitas penipuan olahraga.
Posisi Rocchi sangat strategis. Ia bertanggung jawab meracik daftar wasit yang memimpin setiap pertandingan di dua divisi teratas Italia. Kesalahan penempatan atau bias dapat memengaruhi hasil laga secara drastis, mengingat sejarah skandal pengaturan pertandingan di negara tersebut.
Italia memang memiliki catatan kelam soal integritas sepak bola. Skandal Calciopoli 2006 masih membekas. Namun, dalam kasus Rocchi, jaksa menyimpulkan tidak ada sistem terstruktur yang dirancang untuk mengintervensi penunjukan wasit. Temuan itu menjadi kunci pelimpahan berkas ke otoritas disiplin.
Bagi pembaca di Indonesia, isu ini relevan dengan tren transformasi digital di kompetisi domestik. Liga 1 dan Liga 2 kerap diwarnai protes terhadap netralitas wasit. Sistem penunjukan arbitrer masih dilakukan secara manual oleh komite wasit PSSI.
Teknologi dapat menjadi penengah. Beberapa startup lokal mulai menawarkan platform analitik pertandingan berbasis kecerdasan buatan untuk mengevaluasi kinerja wasit. Penerapan VAR (Video Assistant Referee) di Indonesia masih terbatas, namun algoritma penjadwalan otomatis berpotensi menekan risiko intervensi manusia.
Perbandingan dengan Italia memperlihatkan bahwa meski negara dengan infrastruktur sepak bola mapan pun masih bergulat dengan isu transparansi. Adopsi teknologi catatan wasit terdesentralisasi, misalnya blockchain, mungkin menjadi jawaban bagi federasi yang ingin membangun kepercayaan publik.
Rocchi menegaskan posisinya saat mengumumkan pengunduran diri sementara April lalu. "Langkah ini akan membiarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya, dan saya yakin akan keluar tanpa cacat," ucapnya kala itu.
Di sisi lain, jaksa Milan dalam laporannya menegaskan tidak mengidentifikasi adanya sistem terstruktur yang bertujuan mengganggu penunjukan wasit. Meski demikian, mereka meneruskan dokumen ke otoritas peradilan olahraga dan Kejaksaan Umum Komite Olimpiade Italia untuk penilaian disiplin.
Langkah berikutnya berada di tangan otoritas olahraga. Jika ditemukan pelanggaran kode etik meski bukan tindak pidana, Rocchi masih bisa dikenai sanksi administratif. Proses tersebut biasanya berlangsung beberapa bulan ke depan.
Ke depan, federasi sepak bola Italia diprediksi akan memperketat audit penunjukan wasit dengan bantuan piranti lunak. Transparansi algoritma penugasan menjadi keniscayaan di era digital, baik di Eropa maupun di tanah air.