Bupati Sukabumi H. Asep Japar bersama Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih meresmikan Jembatan Garuda Suci di Desa Cikembar, Kecamatan Cikembar, Senin (20/7/2026). Infrastruktur sepanjang 120 meter itu dibangun melalui kolaborasi TNI dan masyarakat dalam waktu 35 hari sejak Juni lalu. Kehadiran jembatan ini menjawab keluhan warga Kadusunan Sukamantri dan Cikaret yang selama ini terisolasi saat musim hujan.
Menurut Asep, jembatan ini bukan sekadar struktur beton dan baja, melainkan urat nadi perekonomian, pendidikan, dan kesehatan bagi ribuan warga. "Jembatan yang dibangun ini sangat strategis. Bahkan urat nadi masyarakat dari sisi perekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya," ujarnya usai pemotongan pita. Ia menilai proyek ini sebagai bukti nyata kepedulian Presiden Prabowo Subianto kepada rakyat desa, sejalan dengan program prioritas lain seperti Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih menegaskan bahwa Jembatan Garuda merupakan program presiden yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dirinya berharap kehadiran akses ini meningkatkan kepedulian sosial, perekonomian, serta silaturahmi antar dusun. "Semoga dengan jembatan ini, dapat meningkatkan berbagai hal bagi masyarakat sekitar," kata Kosasih. Dalam kesempatan yang sama, pihaknya juga menyerahkan bantuan sosial kepada warga setempat.
Latar belakang pembangunan jembatan ini bermula dari aspirasi warga Kadusunan Sukamantri dan Cikaret yang selama ini kesulitan mengakses wilayah perkotaan. Sebelum jembatan berdiri, warga terpaksa menempuh jalan melintasi sungai yang berbahaya saat air naik, atau berputar jauh melalui jalan alternatif yang memakan waktu berjam-jam. Kondisi ini menghambat distribusi hasil pertanian, akses anak sekolah ke tempat belajar, serta evakuasi pasien ke fasilitas kesehatan.
Proses pembangunan yang relatif cepat — 35 hari — dicapai berkat sistem gotong royong antara personel TNI dan warga. Model ini mengadopsi pola pembangunan teritorial yang menjadi ciri khas program infrastruktur era kepemimpinan Prabowo. Personel Zeni TNI menyediakan keahlian teknis dan alat berat, sementara warga menyumbang tenaga kerja serta material lokal seperti batu dan pasir. Sinergi ini menurut observator mengurangi biaya konstruksi hingga 30 persen dibandingkan tender konvensional.
Dampak langsung terasa bagi Udat (72), warga Kadusunan Cikaret. "Alhamdulillah, sekarang jembatannya sudah bisa dilalui mobil. Sebelumnya hanya bisa dilalui motor. Benar-benar terasa manfaatnya," ucapnya. Ia mengaku perjalanan ke kota yang dulu memakan waktu dua jam lewat jalan tikus, kini terpotong menjadi 30 menit. Hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan bisa diangkut dengan truk pickup, menjamin harga jual yang lebih adil di pasar induk.
Lina, pengendara roda empat yang rutin lewat area tersebut, menambahkan fungsi jembatan sebagai rute alternatif vital. "Ini sering menjadi alternatif ketika ada kemacetan di jalan utama. Termasuk menjadi akses warga ketika berangkat bekerja. Bahkan bisa menjadi alternatif ke Kecamatan Jampang Tengah," katanya. Fungsi cadangan ini strategis mengingat jalan raya Cikembar–Pelabuhan Ratu sering macet parah saat musim libur atau hari raya.
Analis infrastruktur menilai model pembangunan Jembatan Garuda Suci layak direplikasi di daerah tertinggal lain. Kombinasi kecepatan eksekusi militer dengan partisipasi masyarakat menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) yang kuat. Warga yang terlibat membangun cenderung menjaga dan merawat fasilitas tersebut secara sukarela, mengurangi beban anggaran pemeliharaan daerah.
Di sisi lain, tantangan ke depan terletak pada pengelolaan jangka panjang. Pemerintah Kabupaten Sukabumi perlu menyusun rencana pemeliharaan rutin (routine maintenance) dan periodik (periodic maintenance) yang dibiayai dari APBD atau Dana Desa. Tanpa perawatan terstruktur, umur pakai jembatan beton bertulang yang dirancang 25–30 tahun bisa menurun drastis akibat beban lalu lintas berat dan erosi sungai di bawahnya.
Bupati Asep mengaku sudah memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum menyiapkan master plan pemeliharaan. Ia juga mendorong pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pengelola jembatan yang melibatkan pemuda setempat. "Kita tidak ingin jembatan ini hanya jadi monumen sesaat. Harus ada sistem yang memastikan keberlangsungan fungsinya," tegasnya. Langkah ini sejalan dengan instruksi menteri PUPR soal pengelolaan aset infrastruktur berbasis masyarakat.
Proyeksi ke depan, keberadaan Jembatan Garuda Suci diharapkan memicu tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di kawasan hulu sungai Cikembar. Potensi agrowisata, budidaya ikan air tawar, dan UMKM olahan pertanian bisa berkembang dengan akses logistik yang lancar. Jika KDKMP dan Sekolah Rakyat berjalan paralel, transformasi struktural ekonomi desa dari subsisten ke komersial bukan lagi impian belaka.