Internasional

Jersey Piala Dunia Jadi Alat Politik Elite Sayap Kanan Amerika Latin

Ringkasan

  • Elite sayap kanan Brasil dan Kolombia pakai jersey timnas sebagai simbol politik jelang pemilu 2026.

Kandidat presiden sayap kanan di Brasil dan Kolombia menggunakan seragam tim nasional sepak bola sebagai simbol patriotisme dalam pemilu 2026. Strategi ini memanfaatkan popularitas sepak bola untuk meraih dukungan massa menjelang putaran akhir yang digelar pada Oktober mendatang.

Di Brasil, jersey kuning-hijau yang legendaris telah berubah menjadi medan pertarungan politik. Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan presiden Jair Bolsonaro, menyebut kostum tersebut sebagai 'jersey Bolsonaro' saat timnas berlaga di Piala Dunia 2026. Di Kolombia, presiden terpilih Abelardo de la Espriella juga mengenakan jersey kuning nasional di masa kampanye untuk menunjukkan kesetiaan pada negara.

Fenomena ini bukan sekadar gimmick busana. Pakar sosiologi olahraga Bryan Clift menilai seragam sepak bola adalah jalur cepat bagi politisi untuk menyambungkan diri dengan nasionalisme rakyat. Di negara di mana sepak bola menempati posisi tertinggi dalam budaya, kostum tersebut memiliki kekuatan luar biasa untuk membayangkan kebersamaan kolektif.

Brasil telah mengoleksi lima gelar juara dunia, sementara Argentina menyusul dengan tiga trofi. Kolombia belum pernah juara dunia namun mendominasi Copa America dalam beberapa tahun terakhir. Bintang-bintang Amerika Latin juga merumput di liga top Eropa, sehingga basis penggemar internasional mereka memperkuat dukungan saat kembali membela negara.

Joey D'Urso, penulis buku More Than A Shirt (2025), menjelaskan bahwa sepak bola menjadi penanda identitas utama bangsa-bangsa Amerika Latin. Negara Eropa memiliki ratusan tahun sejarah sebagai sumber pengenalan global. Amerika Latin justru sering berada di pinggiran percakapan sejarah dan ekonomi internasional.

Di atas lapangan, Brasil bukan sekadar ikut serta tetapi menjadi negara paling sukses dalam sejarah Piala Dunia. Kebanggaan yang dibangkitkan para pemain kemudian dikapitalisasi gerakan politik untuk mendongkrak elektabilitas. Jersey pun berubah menjadi seragam siap pakai bagi kandidat populis karena banyak pendukung sudah memilikinya di lemari.

Paulo Duarte, kolektor jersey Brasil berusia 39 tahun, menyaksikan langsung pergeseran makna di negaranya. Ayah dan pamannya membawanya ke stadion sejak kecil, dan ia kini mengelola toko online penjual jersey. Saat membawa kostum kuning-hijau ke luar negeri, orang asing selalu menyapa dengan senyum dan pujian untuk Brasil.

Di tanah air, Duarte merasa sedih melihat jersey itu diperebutkan elit politik. Ia menilai politisi dari berbagai kubu memanfaatkan kaus tersebut untuk kepentingan sendiri. 'Saya sedih karena politisi mengambil keuntungan dari jersey ini, dan kedua kubu melakukannya,' ujarnya.

Carlos Suarez, strateg utama kampanye de la Espriella, mengungkap alasan di balik pemakaian jersey Kolombia. Mereka melihat kostum itu sebagai simbol persatuan, kekuatan, patriotisme, dan cinta tanah air. Pendukung merasa kandidat tersebut benar-benar bangga berbuat untuk Kolombia.

Di Indonesia, fenomena serupa pernah muncul saat jersey timnas digunakan sebagai atribut kampanye pilkada atau pemilu oleh sejumlah figur publik. Namun penggunaannya belum sedominan di Amerika Latin karena sepak bola domestik kita masih kalah pamor dari politik identitas keagamaan. Masuknya merek lokal seperti Mills dan Specs dalam produk jersey resmi menunjukkan potensi komersial yang bisa diseret ke ranah politik.

Menjelang pemilu Brasil Oktober 2026, perebutan simbol jersey diprediksi makin sengit. Kolombia pun masih membawa aroma politik dari kostum tersebut meski sudah tersingkir dari Piala Dunia. Tren ini membuktikan bahwa sepak bola di Amerika Latin telah melampaui olahraga dan menjadi alat negosiasi kekuasaan.

Mengapa Ini Penting

Indonesia memiliki ikatan emosional kuat dengan timnas sepak bola, sehingga potensi jersey dikapitalisasi politisi lokal sangat nyata pada pemilu mendatang. Fenomena ini mengingatkan publik untuk kritis membedakan dukungan olahraga dan preferensi politik agar ruang publik tidak terpolarisasi melalui simbol suci fanatisme. Branding jersey sebagai alat politik juga berdampak pada industri merchandising lokal yang bisa terbelah mengikuti afiliasi kubu.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit