Pengendara akhirnya bisa melintasi Jalan Kapten Tendean menuju arah Blok M setelah JPO Tendean dibongkar akibat kecelakaan truk pengangkut alat berat. Pembukaan kembali jalan berlangsung Selasa (14/7) pukul 21.45 WIB, hampir empat jam setelah proses penghancuran selesai.
Di lokasi terlihat tangga JPO sudah dipotong-potong dan besi-besi penyangganya diangkut oleh truk pengangkut menuju gudang Dinas Bina Marga DKI. Proses ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan struktur yang tersisa aman sebelum lalu lintas diizinkan kembali mengalir.
Kecelakaan terjadi dini hari sekitar pukul 01.00 WIB ketika truk bernomor polisi B xxxx XX mengangkut alat berat dari kawasan Summarecon Bogor menuju Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan. Sopirnya diketahui sedang bermain ponsel dan tidak memperhatikan ketinggian muatan yang melebihi batas aman.
Tabrakan membuat struktur JPO mengalami kerusakan parah. Bagian tangga terlihat terpisah dari badan jembatan, sementara satu kaki penyangga terangkat ke atas akibat benturan truk bermuatan crane yang melintas di bawahnya. Kondisi ini memaksa pihak berwenang untuk membongkar seluruh bangunan guna mencegah runtuh total.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Polisi berhasil mengamankan sopir truk untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Penyidik telah memeriksa rekaman telemetri kendaraan dan menemukan bahwa sopir tidak mengaktifkan sistem peringatan ketinggian saat melewati jembatan.
Kasudin Perhubungan Jakarta Selatan, Bernad Octavianus Pasaribu, mengatakan, “Tadi malam sudah harus selesai.” Pernyataan ini mencerminkan upaya cepat yang dilakukan pemerintah daerah untuk memulihkan akses jalan bagi ribuan pengguna setiap harinya.
Kerugian materiil akibat kejadian ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Biaya tersebut mencakup penggantian material JPO, upah pekerja, serta dampak tidak langsung berupa kerugian ekonomi akibat kemacetan yang terjadi selama proses pembongkaran.
JPO Tendean merupakan salah satu jalur penyeberangan penting yang menghubungkan kawasan bisnis Blok M dengan wilayah permukiman di sekitarnya. Keberadaannya sangat vital untuk mengurangi risiko pengguna jalan lintas dari kendaraan bermotor. Di kota-kota besar Indonesia lain, insiden serupa juga pernah terjadi, menunjukkan bahwa pengawasan terhadap ketinggian muatan kendaraan masih menjadi masalah serius.
Bagi para komuter, penutupan jalan ini menimbulkan dampak signifikan. Banyak yang harus mencari rute alternatif melalui Jalan Senopati atau Jalan Wijaya, yang akhirnya menambah volume kendaraan di kawasan tersebut. Kemacetan yang terjadi pada Selasa sore hingga malam hari dilaporkan mencapai 30 menit hingga satu jam, tergantung dari arah perjalanan.
Kejadian ini memicu seruan untuk perbaikan sistem pengawasan lalu lintas. Para ahli mengusulkan penerapan teknologi pemantauan ketinggian muatan yang lebih canggih, termasuk sensor otomatis yang dapat menghentikan kendaraan sebelum memasuki jembatan. Koordinasi yang lebih erat antara Dinas Perhubungan, Polda Metro Jaya, dan pengelola proyek konstruksi juga dinilai perlu ditingkatkan.
Ke depan, pemerintah daerah berencana untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh JPO di Jakarta Selatan. Pemeriksaan struktur, batas ketinggian, dan pemasangan rambu-rambu peringatan akan menjadi prioritas dalam program peningkatan keselamatan jalan. Selain itu, kampanye kesadaran publik bagi pengemudi truk pengangkut alat berat akan digencarkan untuk mencegah insiden serupa terulang.
Kecelakaan ini menjadi pengingat bahwa kelalaian pengemudi dapat berakibat fatal tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi infrastruktur publik yang digunakan oleh ribuan orang setiap hari. Keselamatan jalan harus senantiasa menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan, terutama di wilayah perkotaan yang padat seperti Jakarta.