Kebakaran hebat yang melanda bar musik Rong Beer Na Lat Phrao di Bangkok pada Minggu malam memakan korban jiwa sedikitnya 33 orang, termasuk empat dari enam anggota inti band Totsakan yang sedang tampil saat api menyambar langit-langit tempat itu. Peristiwa yang terjadi pada 12 Juli 2026 tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus memicu tanya publik mengenai standar keamanan tempat hiburan malam di Thailand.
Tim layanan darurat Erawan melaporkan bahwa selain 33 orang tewas, puluhan lainnya mengalami luka-luka dengan 17 di antaranya dirawat dalam kondisi kritis. Kepala Institut Forensik Bangkok, Wiroon Supasingsiripreecha, menyatakan mayoritas korban meninggal akibat menghirup asap, sementara sebagian kecil lainnya tewas karena luka bakar langsung. Penyebab pasti kebakaran masih diselidiki, namun polisi memeriksa kemungkinan penggunaan busa peredam suara yang mudah terbakar, akses keluar yang terbatas, serta status izin operasional bar tersebut.
Totsakan merupakan band tetap di Rong Beer Na Lat Phrao yang setiap Minggu malam memainkan musik akar rakyat bernuansa ceria, genre yang lazim digemari di wilayah pedesaan Thailand dengan perpaduan alat musik tradisional dan modern. Malam nahas itu, personel band lebih dulu melihat percikan dari pemutus arus listrik yang diduga memicu api cepat menjalar ke langit-langit. Saksi menyebut ruangan langsung gelap gulita dan pengunjung berlomba menuju pintu keluar sempit yang jumlahnya terbatas.
Kekacauan berlangsung demikian cepat sehingga keluarga korban baru mengetahui siapa yang selamat beberapa jam setelah api padam. Vokalis sekaligus pemimpin band, Atipat Wijan yang akrab disapa Ice, kehilangan pacarnya sekaligus penyanyi perempuan utama, Nahatai Sajjalert atau Breeze, yang tidak sempat tertolong meski tubuhnya tak menunjukkan luka bakar. Ice mengisahkan ia sempat membantu tim medis melakukan resusitasi, namun nyawa Breeze tak dapat dikembalikan.
Kehilangan beruntun dialami grup itu ketika keyboardis Preutthipong Pudmon alias Kwang dipastikan tak berhasil keluar dari bar, setelah sebelumnya sempat simpang siur kabar ia dirawat di rumah sakit. Drummer Nattapat Thamnita atau Biw awalnya dievakuasi kritis namun meninggal kemudian. Duka bertambah pada Rabu ketika penyanyi pria lainnya, Thitiwat Kaewkanha atau Din, tutup usia setelah sebelumnya ditemukan di rumah sakit dengan luka bakar mencapai 80 persen tubuh.
Adik keyboardis Kwang, Chanyanuch Pudmon, menunjukkan kesanggupan hati yang jarang terlihat di tengah tragedi. Saat menjemput jenazah kakaknya di Institut Forensik, ia berkata bahwa almarhum tak ingin melihat orang-orang bersedih, melainkan mengingat senyumnya di atas panggung saat memainkan musik yang dicintainya. Ucapan itu beredar luas di media Thailand dan menjadi salah satu sudut manusiawi dari peristiwa memilukan tersebut.
Di Indonesia, insiden serupa pernah terjadi pada kasus kebakaran diskotek dan kafe yang menelan korban massal, sehingga tragedi Bangkok kembali menyoroti pentingnya regulasi ketat bagi tempat hiburan. Pengamat kebakaran dalam negeri kerap menekankan bahwa material interior seperti busa peredam suara harus memenuhi standar tidak mudah terbakar, serta jalur evakuasi wajib bebas halangan dan dilengkapi lampu darurat. Kejadian di Bangkok menunjukkan celah yang masih sama di banyak negara berkembang.
Bagi pembaca Indonesia, berita ini relevan karena menunjukkan betapa rentannya pengunjung tempat hiburan jika pengawasan izin dan prosedur keselamatan lalai. Pintu darurat yang terkunci atau tak terjangkau, ditambah minimnya alarm kebakaran, dapat berujung bencana dalam hitungan menit. Keluarga korban di Thailand pun mulai menuntut kompensasi, dengan pengacara pemilik bar menyebut angka awal 10.000 baht atau sekitar 300 dolar AS per keluarga yang dinilai tak cukup untuk biaya pemakaman.
Salah satu penyintas, Natthaphong Lakhorn, menuturkan ia duduk dekat panggung saat asap putih muncul dan awalnya mengira efek dry ice sebelum menyadari itu awal kebakaran. Ia berhasil keluar lewat pintu belakang dekat kamar mandi dengan bantuan satpam yang memakai senter, berbeda dengan klaim polisi bahwa pintu itu tak digunakan. Pengalaman serupa kerap ditemui korban selamat kebakaran lain di mana komunikasi darurat gagal saat listrik padam.
Sementara itu, Kanticha Singkhon datang ke kantor polisi untuk mengambil tas dan barang ibunya yang menjadi korban. Kini ia harus menanggung tanggung jawab merawat adiknya. Ia berharap pemilik bar proaktif mendatangi keluarga korban yang sebagian besar berasal dari daerah jauh dan akan segera pulang ke kampung halaman.
Penyelidikan kepolisian Thailand diperkirakan akan memperluas cakupan ke penggunaan material bangunan dan prosedur darurat di bar lain di Bangkok. Jika ditemukan pelanggaran serius, pemilik tempat hiburan dapat face hukuman berat serta pencabutan izin. Pemerintah setempat juga tertekan untuk merevisi aturan keselamatan guna mencegah terulangnya tragedi dengan korban puluhan jiwa.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa industri hiburan malam harus menempatkan keselamatan di atas keuntungan. Investasi pada sistem deteksi dini dan pelatihan evakuasi bukan sekadar kepatuhan administratif, melainkan nyawa yang tak tergantikan. Ke depan, publik Thailand dan negara tetangga termasuk Indonesia akan menuntut transparansi penuh atas standar keamanan setiap ruang publik tertutup.