Nasional

Belasan Hektare Gunung Gombak Ponorogo Terbakar, Pemadaman Manual Berjam-jam

Ringkasan

  • Kebakaran hutan di Gunung Gombak, Ponorogo, menghanguskan 15 hektare lahan sejak Senin sore hingga Selasa dini hari.
  • Petugas gabungan berjibaku delapan jam memadamkan api secara manual.

Api berkobar di lereng Gunung Gombak, Ponorogo, sejak Senin sore dan baru berhasil dipadamkan delapan jam kemudian pada Selasa dini hari. Total 15 hektare lahan hutan dan semak belukar hangus dalam insiden yang memaksa ratusan personel gabungan turun ke lapangan dengan peralatan seadanya.

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menyatakan titik api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 15.00 WIB di bagian bawah lereng sebelum merambat cepat ke sisi utara, barat, timur, hingga sebagian selatan gunung. Kobaran sempat mendekati pemukiman warga hingga jarak seratus meter, namun berkat upaya pemadaman manual, tidak ada rumah yang terbakar.

Gunung Gombak atau yang lazim disebut Gunung Nglarangan terletak di Dukuh Karanggayam, Desa Sukosari, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Kawasan pegunungan ini ditutupi vegetasi kering selama puncak musim kemarau, menjadikannya lumbung bahan bakar alami yang sangat rentan terhadap percikan api sekecil apa pun.

Penyebab pasti kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan aparat kepolisian dan BPBD setempat. Namun, pola serupa kerap muncul di wilayah Jawa Timur setiap kali kemarau panjang tiba, di mana aktivitas manusia seperti pembakaran lahan untuk perkebunan, ritual keagamaan, atau puntung rokok yang tidak dipadamkan menjadi pemicu umum bencana.

Tahun ini, catatan curah hujan di Ponorogo tergolong minim sejak awal Juni, membuat lantai hutan berupa gambut dangkal dan tumpukan serasah daun di lereng gunung mengering dan berubah menjadi bahan bakar mudah terbakar. Kondisi itu diperparah oleh hembusan angin yang membawa bara api ke arah utara, barat, dan timur sehingga luasan terbakar meluas pesat.

Peristiwa ini menambah panjang daftar bencana kebakaran hutan di Tanah Air yang tiap tahun menelan korban lingkungan dan ekonomi. Berbeda dengan karhutla di Sumatra atau Kalimantan yang kerap menghasilkan asap lintas batas negara, peristiwa Ponorogo berskala lokal namun tetap mengancam ketersediaan sumber air bersih bagi desa-desa di sekitar lereng.

Masyarakat di Dukuh Karanggayam merupakan kelompok paling terdampak karena jarak permukiman mereka dengan lokasi kebakaran hanya selempar batu. Selain harus bersiaga menghadapi risiko fisik, mereka juga diminta waspada terhadap munculnya titik api baru di malam hari yang bisa saja terbang dari sisa bara yang belum mati sepenuhnya.

Dari perspektif teknologi kebencanaan, penanganan di Gunung Gombak masih mengandalkan metode tradisional seperti gepyok dan pembuatan sekat bakar. Padahal, sistem pendeteksi dini berbasis sensor termal, kamera inframerah, atau drone survei sudah digunakan di beberapa hutan konservasi di Indonesia, tetapi belum menjangkau gunung-gunung kecil di Jawa yang justru padat penduduk di kaki lerengnya.

"Api berasal dari bagian bawah lereng kemudian menjalar ke atas. Untuk penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," kata Masun saat dikonfirmasi pada Selasa (14/7). Ia menambahkan bahwa proses pemadaman melibatkan personel BPBD, TNI, Polri, Perhutani, relawan, pemerintah desa, dan warga sekitar yang bekerja bahu-membahu.

Menurut Masun, petugas mulai beroperasi sekitar pukul 16.00 WIB dan baru bisa merestorasi kondisi aman pada tengah malam. "Api tidak sampai masuk ke permukiman warga. Namun, petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru," ujarnya menegaskan pentingnya kewaspadaan meski api utama telah padam.

Selain di Gunung Gombak, BPBD Ponorogo mencatat kejadian karhutla di kecamatan lain seperti Sampung, Sambit, dan Balong. Instansi tersebut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak membakar lahan maupun meninggalkan sumber api di kawasan terbuka, serta memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.

Mengacu pada tren musim kemarau yang diprakirakan berlangsung hingga akhir tahun, potensi karhutla di wilayah berbukit Jawa Timur akan tetap tinggi. Investasi pada alat pemadaman modern, penyebaran sistem peringatan dini, dan edukasi warga desa menjadi kunci penting mencegah terulangnya tragedi 15 hektare lahan hangus seperti yang baru saja terjadi.

Mengapa Ini Penting

Kejadian ini memaparkan kerentanan pegunungan Jawa terhadap kebakaran saat kemarau, meski skalanya tak separah Sumatra atau Kalimantan. Minimnya peralatan modern seperti drone thermal di level desa memperlambat penanganan dan meningkatkan risiko perluasan. Degradasi lahan pascaapi mengancam pasokan air warga sekitar dalam jangka panjang. Edukasi pencegahan dan kolaborasi lintas sektor harus diintensifkan agar frekuensi karhutla menurun.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit