Kebakaran hebat melanda area perkebunan tebu di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Senin (13/7) pagi sekitar pukul 09.45 WIB. Peristiwa tersebut berawal dari aktivitas pembakaran rumput oleh seorang warga yang kemudian merembet secara cepat ke lahan perkebunan akibat tiupan angin.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luasan lahan yang terdampak kebakaran mencapai 4,5 hektare. Beruntung, peristiwa ini tidak memakan korban jiwa, namun kerugian material bagi petani dan pengelola lahan cukup signifikan di tengah upaya pemulihan sektor pertanian pasca-guncangan iklim.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa dinamika cuaca saat ini menjadi faktor pemicu utama meluasnya api. Musim kemarau yang tengah berlangsung diperparah oleh fenomena El Nino moderat, membuat kondisi vegetasi di berbagai wilayah menjadi jauh lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.
Praktik membakar lahan atau rumput memang kerap dilakukan sebagian warga sebagai cara instan membersihkan area. Tanpa perhitungan matang terkait arah angin dan kelembapan tanah, tindakan tersebut berubah menjadi ancaman serius. Kelalaian satu orang bisa merugikan banyak pihak, terutama ketika indeks bahaya kebakaran hutan dan lahan sedang meningkat.
Di Sragen sendiri, komoditas tebu merupakan bagian penting dari mata pencaharian lokal serta menyuplai pabrik gula di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Kebakaran seluas 4,5 hektare bukan angka yang kecil bagi petani kecil yang mengandalkan hasil panen musiman. Hilangnya batang tebu yang siap atau mendekati panen berarti hilangnya pendapatan tunai yang telah dinantikan berbulan-bulan.
Dampak kebakaran ini tidak hanya menyentuh aspek ekonomi petani, tetapi juga menambah beban operasional pemerintah daerah untuk penanggulangan bencana. Sementara itu, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Sragen dan Dinas Pemadam Kebakaran harus mengerahkan sumber daya untuk pemadaman darat secara intensif.
Kasus di Sragen ini menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran lahan tidak hanya terjadi di wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan. Pulau Jawa dengan tingkat kepadatan penduduknya yang tinggi pun rentan terhadap bencana akibat kelalaian manusia, apalagi saat musim kemarau ekstrem melanda.
Menurut para ahli klimatologi, pola kemarau tahun ini membawa risiko lebih tinggi karena anomali suhu permukaan laut yang memicu El Nino. Masyarakat diharapkan lebih waspada dan menghentikan kebiasaan membakar sampah atau rumput di area terbuka. Peralihan ke metode pengolahan lahan mekanis atau kompos perlu digalakkan di tingkat desa.
"Yang terbakar diperkirakan mencapai 4,5 hektare dan tidak menimbulkan korban jiwa," ujar Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta. Ia menekankan bahwa peristiwa di Sukodono harus menjadi pembelajaran serius bagi masyarakat luas mengenai bahaya membakar lahan tanpa pertimbangan risiko kebakaran susulan.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi bahwa proses pemadaman berlangsung hingga Senin sore. Petugas di lapangan melaporkan kondisi kebakaran telah memasuki tahap pendinginan. Kendati demikian, personel tetap bersiaga untuk memastikan seluruh sisa bara api benar-benar padam dan tidak memicu kebakaran susulan di malam hari.
Ke depan, penguatan sistem peringatan dini di tingkat kecamatan menjadi krusial. Pemerintah daerah Sragen perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas warga di area perkebunan, terutama saat indeks cuaca ekstrem meningkat. Sosialisasi larangan pembakaran lahan terbuka wajib dilakukan secara berulang menjelang musim kemarau panjang.
Kolaborasi antara BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat dalam pembentukan relawan peduli api di desa juga harus diperluas. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, kerugian akibat kelalaian kecil seperti bakar rumput dapat dicegah sejak dini. Keselamatan lahan pertanian merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan pangan nasional.