Nasional

Kebakaran Rumah di Tanjung Priok Diduga Akibat Korsleting, Satu Keluarga Selamat

Ringkasan

  • Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Utara memadamkan kebakaran rumah seluas 15 meter persegi di Jalan Papanggo Raya, Tanjung Priok, Jumat siang, diduga akibat korsleting saat pemilik sedang memasak.

Api melahap sebuah rumah tinggal di Jalan Papanggo Raya, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat siang. Kejadian berlangsung sekitar pukul 09.52 WIB dan berhasil dikendalikan petugas pemadam kebakaran kurang dari 30 menit kemudian.

Menurut Kepala Siops Sudin Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, Gatot Sulaeman, kebakaran diduga bermula dari fenomena listrik atau korsleting di area dapur. Saat itu pemilik rumah, seorang kepala keluarga yang menghuni tempat bersama lima orang anggota keluarga lainnya, sedang memasak namun meninggalkan kompor untuk keluar sesaat.

Ketika pemilik kembali ke dapur, asap tebal sudah menggelegar ruangan. Teriakan meminta tolong pun terdengar, sementara salah satu anaknya berlari menuju Pos Pemadam Kebakaran Warakas untuk meminta bantuan. Respon cepat dari warga sekitar menjadi faktor penentu agar api tidak meluas ke rumah tetangga.

Petugas mengerahkan lima unit mobil pemadam dan 25 personel untuk mengatasi api yang sudah menguasai struktur kayu dan atap rumah. Pada pukul 10.23 WIB, api dinyatakan padam sepenuhnya dan situasi aman. Untungnya tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini, meski properti milik keluarga tersebut habis terbakar.

Kasus ini menambah deretan kebakaran rumah tangga di Jakarta sejak awal tahun. Hanya beberapa hari sebelumnya, kebakaran juga melanda kontrakan di Cakung, Jakarta Timur, serta sejumlah unit hunian di wilayah Tanjung Priok yang sama. Pola serupa — diduga korsleting listrik — berulang menjadi penyebab utama.

Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) DKI Jakarta mencatat peningkatan kasus kebakaran rumah tangga selama musim hujan dan musim panas bergantian. Penggunaan alat elektronik berlebihan, instalasi listrik tidak standar, dan kebiasaan meninggalkan masakan di atas kompor menjadi tiga faktor dominan. Rumah seluas 15 meter persegi yang terbakar kali ini mencerminkan kerentanan hunian padat di kawasan pesisir.

Kawasan Tanjung Priok memang dikenal padat penghuni dengan jalur evakuasi sempit. Banyak rumah dibangun berbagi dinding tanpa jalur pemadam kebakaran yang memadai. Kondisi ini memperparah risiko saat kebakaran terjadi, apalagi jika titik api bermula dari instalasi listrik yang sudah usang atau overloaded.

Gatot Sulaeman mengimbau warga untuk rutin memeriksa instalasi listrik rumah, tidak menggunakan stop kontak berganda untuk beban besar, dan tidak pernah meninggalkan kompor menyala tanpa pengawasan. "Pencegahan jauh lebih murah daripada biaya pemadaman dan kerugian properti," ujarnya saat ditemui di lokasi.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Bapak Sarno (52), mengaku sempat kaget mendengar teriakan. "Anak pelapor lari ke pos Warakas, kira-kira 500 meter dari sini. Untung petugas cepat datang," ceritanya. Warga sekitar juga turut membantu mengeluarkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan sebelum api meluas.

Pemadaman kali ini menunjukkan koordinasi yang cukup baik antara pos pemadam kelurahan, Sudin Gulkarmat, dan warga. Namun, kebutuhan akan hydrant dan jalur akses darurat di kawasan padat seperti Papanggo tetap menjadi rumah pekerjaan jangka panjang. Anggaran APBD DKI untuk revitalisasi jaringan hidran dan penambahan unit pemadam di daerah pesisir terus didorong setiap tahun.

Untuk keluarga korban, tim Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Kelurahan Papanggo telah turun memberikan bantuan darurat berupa sembako dan tempat tinggal sementara. Pemerintah kota juga menyiapkan skema bantuan renovasi rumah untuk warga miskin yang terkena bencana kebakaran, sesuai Peraturan Gubernur nomor 102 tahun 2021.

Insiden ini mengingatkan kembali betapa pentingnya literasi keselamatan kebakaran di tingkat RT dan RW. Simulasi rutin, pemasangan alat pemadam ringan (APAR) di setiap rumah, dan pemahaman jalur evakuasi bisa menyelamatkan nyawa. Jakarta yang padat dan vertikal membutuhkan budaya siaga bencana yang internalisasi, bukan sekadar jargon.

Ke depan, Dinas Gulkarmat berencana menambah pos pemadam di wilayah pesisir utara dan memperketat pengawasan izin bangunan soal standar listrik. Kolaborasi dengan PLN untuk audit instalasi di kawasan kumuh juga dijadwalkan triwulan depan. Harapannya, kebakaran sekecil ini tidak terulang, dan warga bisa tidur nyenyak tanpa khawatir api dari sebelah.

Mengapa Ini Penting

Kebakaran rumah tangga di kawasan padat seperti Tanjung Priok bukan hanya soal kerugian material, tapi nyawa ratusan warga yang terancam karena jalur evakuasi sempit dan instalasi listrik tidak layak. Kasus ini mengungkap keterbatasan infrastruktur pencegahan di wilayah pesisir Jakarta Utara — hydrant minim, akses mobil pemadam sulit, dan kesadaran warga soal safety listrik masih rendah. Pola berulang korsleting di rumah ukuran 15 m² menunjukkan betapa rawan hunian miskin terhadap bencana kecil yang berdampak besar. Tanpa intervensi sistemik: audit listrik massal, penambahan pos pemadam, dan edukasi rutin di tingkat RT, insiden serupa akan terus berulang setiap musim transisi. Ini bukan soal 'nasib', tapi kegagalan perencanaan kota yang adil.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit