Musim kemarau yang melanda Jakarta Utara memberikan dampak serius bagi para nelayan di kawasan Marunda Kepu. Dermaga setempat mengalami penyusutan debit air yang signifikan, menyebabkan sejumlah kapal nelayan kandas dan tidak bisa melaut dengan normal.
Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara, Novy Christine Palit, mengonfirmasi bahwa fenomena ini terjadi akibat kemarau yang masih berlangsung. "Sejumlah kapal nelayan kandas akibat debit air yang menyusut," kata Novy di Jakarta, Senin.
Kondisi ini memaksa nelayan menarik perahu secara manual menuju perairan yang lebih dalam sebelum memulai aktivitas melaut. Pekerjaan yang semestinya ringan menjadi berat dan memakan waktu, mengganggu ritme kerja para nelayan yang biasanya langsung bersandar di dermaga.
Pemerintah Kota Jakarta Utara tidak tinggal diam. Novy menyatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara untuk melakukan pengerukan di lokasi dermaga. Langkah ini diambil dengan tujuan utama memulihkan aktivitas nelayan agar kembali berjalan lancar.
Pengerukan sedimentasi merupakan solusi jangka pendek yang dinilai paling efektif. Semakin dalam perairan, semakin aman kapal untuk bersandar. Namun, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sembarangan karena membutuhkan kajian agar tidak merusak ekosistem pesisir.
Fenomena surutnya air laut di pesisir utara Jawa sebenarnya bukan hal baru. Setiap musim kemarau tiba, sejumlah wilayah pesisir mengalami penyusutan debit air. Namun intensitas tahun ini dinilai lebih ekstrem, sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa kemarau akan berlanjut hingga September.
Dampaknya tidak hanya dirasakan para pemilik kapal. Rantai pasok ikan tangkapan ikut terganggu. Nelayan yang terlambat melaut karena harus menarik kapal secara manual berpotensi kehilangan waktu produktif, dan ini memengaruhi volume tangkapan yang masuk ke pasar.
Di sisi lain, Novy mengungkapkan kabar baik. Sepanjang musim kemarau ini, hasil tangkapan nelayan justru masih cukup baik. "Hasil tangkapan nelayan, khususnya rajungan yang ditangkap menggunakan bubu, masih cukup baik," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun logistik melaut terganggu, produktivitas tangkapan tidak menurun drastis.
Kondisi ini menjadi dilema bagi nelayan. Di satu sisi tangkapan melimpah, tetapi di sisi lain mobilitas mereka terhambat. Jika pengerukan tidak segera dilakukan, bukan tidak mungkin pendapatan nelayan ikut tergerus di tengah musim panen rajungan.
Suku Dinas KPKP Jakarta Utara sebelumnya telah melakukan pendampingan kepada petani dan nelayan dalam menghadapi kemarau yang diprediksi berlanjut. Program adaptasi cuaca ekstrem ini mencakup sosialisasi pola tanam dan penangkapan yang lebih ramah terhadap kondisi lingkungan.
"Kami terus memberikan pendampingan kepada petani dan nelayan agar mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem," kata Novy. Pendampingan ini menjadi krusial mengingat perubahan iklim membuat pola musim semakin tidak menentu.
Pengerukan Dermaga Marunda diharapkan dapat segera direalisasikan mengingat aktivitas perekonomian warga pesisir bergantung penuh pada kelancaran operasional kapal. Pemkot Jakarta Utara perlu memastikan anggaran dan peralatan pengerukan tersedia tepat waktu sebelum kemarau benar-benar mencapai puncaknya.
Ke depan, diperlukan solusi yang lebih permanen. Normalisasi dermaga dan pembangunan pemecah gelombang dapat menjadi pertimbangan agar permasalahan serupa tidak terus berulang setiap tahun. Nelayan Marunda membutuhkan jaminan keamanan dalam menjalankan mata pencaharian mereka tanpa bergantung pada siklus musim yang semakin tidak bersahabat.