Internasional

Kesepakatan Damai Iran-AS Batal, Teheran Klaim Perang Eksistensial

Ringkasan

  • Serangan AS Rabu malam di Iran menewaskan 7 tentara, membatalkan kesepakatan damai Juni dan memicu perang eksistensial Teheran.

Serangan udara Amerika Serikat pada Rabu malam waktu Iran menewaskan tujuh tentara Iran dan memicu pengumuman resmi Teheran bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Washington sudah tidak berlaku. Mohammad Bagher Ghalibaf, perunding utama Iran, menyatakan angkatan bersenjata negaranya kini memiliki kebebasan penuh bertindak atas agresi musuh.

Gelombang serangan terbaru dilaporkan menghantam Bandar Abbas, Chabahar, dan Ahvaz dengan ledakan terdengar di sejumlah lokasi strategis. Militer Iran membenarkan satu serangan mengenai barak di Bampour, sudut tenggara negara, yang menewaskan tujuh personel Brigade 388 dan melukai beberapa lainnya. Mereka menjanjikan balasan menentukan pada waktu yang dianggap tepat.

Ketegangan ini merupakan puncak dari beberapa hari eskalasi yang meruntuhkan memorandum yang disepakati kedua pihak pada 17 Juni lalu. Kesepakatan itu sebelumnya menjadi fondasi gencatan senjata rapuh di tengah krisis yang terus memanas. Washington melancarkan beberapa putaran serangan udara Selasa dan Rabu dini hari ke target militer di pesisir dekat Selat Hormuz serta Pulau Greater Tunb.

Teheran menilai tindakan Amerika telah menggugurkan kewajiban mereka dalam perjanjian. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menegaskan komitmen Iran hanya berlaku selama pihak lawan memenuhi janjinya. Ia menolak kemungkinan pembicaraan baru dengan Washington dan memfokuskan langkah pada pertahanan nasional.

Dampak regional langsung meluas ke negara Teluk. Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan ke Armada Kelima AS di Bahrain serta hub logistik militer di Mina Abdullah, Kuwait. Pertahanan Kuwait menembak jatuh empat rudal jelajah dan 21 drone Iran sepanjang hari, sementara Jordania menghancurkan tiga rudal.

Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk mengecam tindakan Teheran sebagai pengkhianatan yang membawa kekacauan. Bagi Indonesia, pergeseran ini relevan karena Selat Hormuz adalah jalur pasokan minyak dan gas yang memengaruhi harga energi domestik. Kenaikan risiko konflik dapat menekan neraca perdagangan dan memperbesar subsidi BBM dalam negeri.

Pengamat Arab Perspectives Institute, Zeidon Alkinani, menilai kesabaran negara Teluk terhadap Iran mulai menipis meski mereka menolak perang AS-Israel. Jika aliansi regional retak, stabilitas pasokan energi global ikut terancam. Kondisi itu berpotensi memicu volatilitas harga komoditas yang dirasakan konsumen di Asia Tenggara.

Presiden AS Donald Trump memberi peringatan bahwa serangan akan meningkat bila Iran tak kembali ke meja perundingan, termasuk ancaman menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan. Namun ia enggan memberi batas waktu pasti dan hanya menuturkan Iran sebaiknya bersikap tertib. Ghalibaf di sisi lain menekankan negaranya tak pernah menginginkan perang namun wajib siap tempur.

Ia menambahkan diplomasi tetap menjadi instrumen memperkuat kepentingan nasional. Selama Washington patuh pada butir memorandum, Iran membuka pintu dialog. Jurnalis Al Jazeera di Teheran, Resul Serdar, menyebut eskalasi rendah intensitas plus blokade pelabuhan membuat negosiasi sangat sulit.

Militer AS juga mengalihkan dua kapal komersial sebagai bagian dari blokade pelabuhan Iran yang diberlakukan sejak malam sebelumnya. Iran media melaporkan serangan ke fasilitas gudang gandum di Khuzestan, sanggahan Pentagon dibaca sebagai upaya menekan logistik sipil.

Proyeksi ke depan menunjukkan perang rendah intensitas bisa bertahan lama jika tak ada pihak yang mundur. Negara Teluk diprediksi memperkuat pertahanan udara dan menjauhi posisi netral. Bagi Jakarta, diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis menjadi keniscayaan agar gejolak Timur Tengah tak langsung mengguncang ekonomi rakyat.

Mengapa Ini Penting

Konflik ini mengancam kelancaran Selat Hormuz yang menyuplai sebagian besar kebutuhan minyak Indonesia, sehingga berpotensi mengerek harga BBM dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Masyarakat luas di Tanah Air akan merasakan dampak melalui inflasi energi dan biaya logistik yang naik. Di sisi lain, posisi non-blok Indonesia dituntut lebih aktif menjembatani diplomasi agar kestabilan regional tak merugikan ekonomi domestik. Ancaman blokade juga mengingatkan pentingnya akselerasi transisi energi dan cadangan strategis nasional.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit