Nasional

Kirab Budaya Festival Lima Gunung XXV: Semangat Gotong Royong Seniman Petani di Lereng Merbabu

Ringkasan

  • Kirab budaya Festival Lima Gunung XXV di Magelang menampilkan seniman petani mandiri yang mengandalkan gotong royong tanpa sponsor.

Pada Minggu, 12 Juli 2026, kawasan lereng Gunung Merbabu di Desa Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu dari sebuah perhelatan budaya yang sarat makna. Ratusan seniman anggota Komunitas Lima Gunung mengikuti kirab budaya sebagai bagian dari pembukaan Festival Lima Gunung (FLG) XXV. Suasana pagi hingga sore hari diisi dengan derap langkah peserta yang membawa artefak dan simbol budaya lokal, menyeruak di tengah pesona alam pegunungan yang sejuk. Acara tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah pernyataan eksistensi petani yang juga berkiprah sebagai pelestari warisan leluhur.

Komunitas Lima Gunung merupakan wadah para seniman petani yang berasal dari lima kawasan pegunungan di Jawa Tengah, yakni Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong, dan Sumbing. Sejak awal berdirinya, komunitas ini mengusung semangat bahwa kesenian tidak harus bergantung pada elit kota atau modal besar. Mereka mengolah lahan di siang hari dan mempertunjukkan seni di malam hari, menjadikan budaya sebagai napas kehidupan sehari-hari. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa desa dan lereng gunung mampu melahirkan pusat kreativitas yang organik dan berakar kuat pada nilai lokal.

Festival Lima Gunung XXV yang digelar kali ini merupakan edisi ke-25, sebuah pencapaian luar biasa untuk sebuah festival mandiri. Tanpa sponsor korporat maupun dukungan dana dari pihak luar, seluruh biaya penyelenggaraan ditanggung secara swadaya oleh anggota komunitas dan warga sekitar. Pola gotong royong menjadi tulang punggung mulai dari persiapan panggung, konsumsi, hingga keamanan acara. Model ini berbeda tajam dengan festival-festival kontemporer yang kerap diwarnai baliho iklan dan interveni komersial, sehingga menjaga kemurnian pesan seni yang disampaikan.

Perjalanan panjang FLG selama 25 tahun mencerminkan resiliensi budaya di tengah arus modernisasi yang masif. Di era di mana banyak tradisi lokal terancam tergerus oleh hiburan global, komunitas ini justru konsisten mementaskan bentuk seni seperti tayub, jathilan, dan teater rakyat yang lahir dari keseharian petani. Kirab budaya yang menelusuri jalanan desa tersebut menjadi simbol visual bahwa memori kolektif masih hidup dan dirawat oleh generasi penerus. Keberlanjutan festival ini memberi pelajaran berharga tentang pentingnya regenerasi berbasis komunitas.

Dalam kirab tersebut, para seniman mengenakan busana tradisional dengan aksesoris yang terbuat dari bahan alam seperti janur, bambu, dan kain perca. Mereka membawa gunungan yang melambangkan kesuburan alam serta memikul instrumen musik tradisional yang dimainkan sepanjang jalan. Tidak hanya dari kalangan dewasa, anak-anak petani turut dilibatkan, menunjukkan bahwa proses belajar budaya terjadi secara langsung di lapangan. Hal ini mempertegas bahwa FLG bukan ajang perlombaan, melainkan ritual sosial yang mempersatukan berbagai lapis usia.

Magelang dan sekitarnya memang dikenal sebagai salah satu lumbung budaya di Jawa Tengah. Keberadaan Candi Borobudur hingga kawasan pegunungan membuat wilayah ini memiliki daya tarik wisata yang tinggi. Namun, Festival Lima Gunung sengaja dijauhkan dari kemasan pariwisata massal agar tidak kehilangan otentisitas. Masyarakat setempat lebih memilih kehadiran penonton yang datang karena ketulusan daripada konsumsi ekonomi semu. Pendekatan ini menciptakan ekosistem budaya yang sehat dan berkelanjutan.

Dari sudut pandang pembangunan ekonomi kreatif, model swadaya yang diterapkan Komunitas Lima Gunung dapat menjadi inspirasi bagi sektor lain, termasuk komunitas teknologi Indonesia. Ketahanan sebuah gerakan dapat dibangun melalui kolaborasi setara tanpa harus tunduk pada pendanaan eksternal yang mendikte arah. Di sisi lain, kemajuan digital membuka peluang pendokumentasian kirab dan pertunjukan melalui platform terbuka, asalkan dilakukan dengan menghormati hak kekayaan intelektual komunitas adat. Sinergi antara budaya lokal dan alat bantu modern dapat memperluas dampak positif tanpa merusak otonomi.

Pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan lain diharapkan dapat memberikan dukungan infrastruktur ringan tanpa mencabut jiwa kemandirian festival. Misalnya, penyediaan akses jaringan internet untuk siaran langsung atau pelatihan dokumentasi foto bagi pemuda desa. Namun, kendali penyiaran dan narasi harus tetap di tangan seniman petani agar tidak terjadi eksploitasi representasi. Festival Lima Gunung XXV di lereng Merbabu telah membuktikan bahwa keagungan budaya tidak selalu butuh panggung mewah, melainkan komitmen bersama yang tulus.

Mengapa Ini Penting

Festival dengan model swadaya murni ini menunjukkan bahwa komunitas berbasis nilai dapat bertahan tanpa bergantung pada modal korporat, sebuah pelajaran penting bagi ekosistem startup dan teknologi Indonesia yang sering terjebak pada pendanaan eksternal. Kehadiran konten budaya akar rumput juga memperkaya korpora data lokal yang kian dibutuhkan untuk pengembangan kecerdasan buatan berbahasa Indonesia. Selain itu, kolaborasi antara tradisi dan alat digital dapat mendorong inklusi ekonomi kreatif pedesaan jika dilakukan dengan prinsip kepentingan komunitas. Hal ini relevan bagi pembaca yang memandang teknologi sebagai sarana emansipasi dan bukan alat eksploitasi.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit