Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan Se-Indonesia Tahun 2026 di Auditorium Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Rabu (15/7/2026). Program berskala nasional ini mengusung tema "Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam" dan menempatkan UIN SMH Banten sebagai tuan rumah.
Keesokan harinya, total 1.400 mahasiswa dikerahkan ke desa-desa di Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten, Kabupaten Lebak. Wilayah ini dipilih karena beririsan langsung dengan kawasan Suku Baduy — komunitas yang dikenal mempertahankan kearifan lokal lingkungan secara ketat hingga kini. Dari jumlah tersebut, 1.200 mahasiswa berasal dari UIN Banten yang telah dilepas lebih dulu ke berbagai kecamatan, sementara 240 sisanya merupakan delegasi khusus dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia.
Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Rektor UIN SMH Banten, Muhammad Ishom, menegaskan bahwa kawasan Baduy adalah episentrum pembelajaran ekoteologi yang sesungguhnya. "Orang Baduy memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Di Baduy Dalam ada penolakan modernisasi demi kemurnian alam, dan Baduy Luar meski terbuka tetap ketat menjaga kelestarian," ujarnya. Ishom menambahkan, kehadiran penganut Sunda Wiwitan di Banten — yang dijuluki "Seribu Kiai, Seribu Pesantren" — menciptakan ruang alami bagi mahasiswa belajar harmoni antarkeyakinan secara langsung.
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar memberikan landasan filosofis yang mendalam. Ia membedakan tiga tingkatan keilmuan: ilmuwan yang menguasai teori, intelektual yang mempraktikkannya, dan cendekiawan yang ilmunya berdampak langsung pada masyarakat. "Di perguruan tinggi umum, masyarakat mungkin hanya melihat 'undzur ma qala' (lihat apa yang dikatakan). Tapi tuntutan untuk alumni UIN dan PTK tidak cukup itu, masyarakat akan melihat 'undzur man qala' (siapa yang mengatakan)," tegasnya. Menurutnya, muruah — menjaga kepantasan diri — menjadi syarat mutlak seorang cendekiawan beragama.
Nasaruddin juga mewanti-wanti mahasiswa untuk menanggalkan arogansi akademik setibanya di lokasi. Masyarakat desa, kata dia, adalah laboratorium kehidupan di mana kearifan lokal telah teruji waktu. "Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam karena mereka bersahabat dengan alam. Kalian nanti akan melihat jarak antara apa yang diketahui di bangku kuliah sebagai kebenaran, dengan apa yang diamalkan masyarakat lokal. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Kalian dituntut bukan hanya jadi orang pintar, tapi harus jadi orang arif," pesannya.
Sebagai bekal karakter, Menag merangkum delapan nilai dalam akronim ISTIQAMAH: Ikhlas, Sabar, Tawaduk, Ihsan (menebar kebajikan), Qanaah (merasa cukup), Akhlak, Muruah (menjaga kepantasan), dan Al-haya' (memiliki rasa malu). Ia mengaitkan hal ini dengan metode dakwah kultural Wali Songo yang merangkul tradisi — seperti penggunaan bedug untuk harmoni — tanpa membenturkan keyakinan lokal. Pendekatan ini diharapkan menjadi kompas mahasiswa dalam berbaur dengan masyarakat Baduy.
Dari sisi kebijakan, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menegaskan KKN Nusantara sebagai respons konkret PTKI terhadap tantangan zaman, khususnya krisis lingkungan dan sosial. Paradigma ekoteologi menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh yang bertanggung jawab moral menjaga kelestarian bumi. "Mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian sebagai bagian tridarma, tapi hadir sebagai agen pemberdayaan yang mengintegrasikan nilai keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi," kata Sahiron.
Ekoteologi, lanjutnya, adalah wujud nyata semangat wasathiyyah (moderasi beragama) yang tidak sekadar membangun harmoni antar manusia, tapi menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Untuk mewujudkannya, mahasiswa dibekali metodologi kontekstual: Asset Based Community Development (ABCD), Participatory Action Research (PAR), Community Based Research (CBR), dan Service Learning (SL) yang berfokus pada potensi desa, bukan kekurangannya.
Pendekatan berbasis aset (ABCD) ini krusial mengingat sejarah pengabdian mahasiswa yang sering terjebak paradigma "defisit" — melihat masyarakat sebagai objek bantuan. Di Baduy, mahasiswa dihadapkan pada komunitas yang justru memiliki sistem pengelolaan hutan, pertanian, dan tata ruang yang lebih berkelanjutan dari banyak kebijakan modern. Belajar dari mereka berarti mengakui kearifan lokal sebagai pengetahuan setara, bukan sekadar budaya yang diteliti.
Keberadaan Sunda Wiwitan di wilayah yang sama menambah lapisan kompleksitas. Mahasiswa PTKI tidak hanya belajar ekologi, tapi juga tata kelola keberagamaan di ruang publik. Banten dengan tradisi pesantrennya yang kental menjadi laboratorium alami bagaimana Islam Nusantara berdialog dengan kepercayaan leluhur tanpa asimilasi paksa. Ini uji nyata bagi narasi moderasi beragama yang sering hanya bersifat ceremonial di tingkat kebijakan.
Proyek ini juga menguji kemampuan institusi keagamaan menerjemahkan doktrin ke aksi nyata. Jika KKN Nusantara VI berhasil membuktikan mahasiswa PTKI mampu jadi agen perubahan yang menghormati kearifan lokal, ini bisa jadi model replikasi untuk program pengabdian lain — baik di lingkungan Kemenag maupun Kementerian Pendidikan. Kunci keberadaannya ada pada konsistensi: apakah metodologi ABCD dan PAR benar-benar diinternalisasi, atau hanya jadi jargon di laporan akhir.
Lebak, dengan segala kerumitan sosio-ekologisnya, kini jadi panggung uji bagi generasi cendekiawan muda Islam Indonesia. Tiga minggu ke depan akan menunjukkan apakah mereka benar-benar "bersahabat dengan alam" sebagaimana pesan Menag, atau hanya wisata intelektual yang meninggalkan jejak kertas di laporan akuntabilitas.