Nasional

KONI Dorong Kongres Biasa PSSI Bahas Pembinaan Prestasi dan Tata Kelola

Ringkasan

  • Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, meminta Kongres Biasa PSSI menjadikan pembinaan prestasi dan tata kelola organisasi sebagai agenda diskusi demi ekosistem sepak bola nasional yang lebih baik.

Kongres Biasa PSSI di Jakarta, Senin, menjadi panggung harapan baru bagi pembinaan sepak bola nasional. Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI Purn. Marciano Norman, meminta forum tertinggi federasi itu menjadikan pembinaan prestasi dan tata kelola organisasi sebagai bahan diskusi utama. Menurut dia, ekosistem sepak bola Indonesia hanya akan terbentuk jika organisasi PSSI berjalan dengan tata kelola yang baik.

"Karena saya selalu berpandangan bahwa hanya dengan organisasi PSSI yang tata kelolanya baik akan melahirkan kompetisi yang baik, akan melahirkan prestasi dari tim nasional yang baik," ujar Marciano dalam pidatonya di Kongres Biasa PSSI, Senin.

Pernyataan itu disampaikan di tengah agenda kongres yang dihadiri pemilik hak suara dari Asprov PSSI, klub Liga 1, dan klub Liga 2. Agenda utamanya meliputi laporan kegiatan dan keuangan PSSI tahun buku 2025, rencana anggaran 2026, serta pembahasan status klub dan regulasi transfer pemain. Namun Marciano menegaskan pembahasan teknis itu harus berjalan seiring dengan visi besar pembinaan prestasi.

Ia menilai sepak bola Indonesia kini berada dalam fase perkembangan signifikan. Sejumlah hasil positif tim nasional menjadi bukti bahwa perbaikan di berbagai lini mulai menuai hasil. Meski begitu, Marciano mengingatkan evaluasi terhadap kompetisi tetap diperlukan agar prestasi tidak berhenti di satu momentum.

Tata kelola memang menjadi kata kunci dalam berbagai pembicaraan tentang masa depan sepak bola Indonesia. Kompetisi yang sehat tidak lahir dari sekadar jadwal pertandingan atau kontrak pemain. Dibutuhkan regulasi yang konsisten, transparansi dalam pengelolaan liga, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Ketika semua elemen itu tersambung, pembinaan pemain muda dan performa timnas akan mengikuti.

Kongres Biasa PSSI kali ini menjadi penting karena menyatukan suara dari federasi, klub, dan Asprov dalam satu forum. Jika pembinaan prestasi masuk dalam diskusi resmi, ada peluang untuk menyelaraskan program-program pusat dan daerah. Selama ini salah satu tantangan terbesar sepak bola Indonesia adalah ketimpangan pembinaan antara Jawa dan luar Jawa, serta antara klub profesional dan sekolah sepak bola.

Dari sisi penyelenggaraan, Marciano juga menyoroti rencana PON ke-22 yang akan berlangsung di NTT dan NTB pada 2028. Ia ingin pelaksanaan cabang sepak bola di ajang itu lebih baik dibandingkan dengan PON 2024 di Aceh-Sumatera Utara. Ini bukan sekadar soal teknis, tetapi juga menyangkut kualitas kompetisi dan pengalaman atlet-atlet daerah.

PON merupakan salah satu wahana pembinaan atlet dari berbagai provinsi. Karena itu, harapan KONI agar sepak bola PON 2028 berjalan lebih baik menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, KONI, dan PSSI. Infrastruktur, manajemen pertandingan, serta kesiapan tim-tim kontestan perlu dipersiapkan sejak dini.

Di sisi lain, kebutuhan evaluasi kompetisi domestik makin mendesak. Liga Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, misalnya kualitas wasit, keamanan stadion, hingga kesejahteraan pemain di level bawah. Pembahasan yang berkelanjutan dalam kongres diharapkan tidak berhenti pada laporan keuangan, tetapi menghasilkan kebijakan yang bisa dirasakan langsung oleh klub dan suporter.

Marciano menyebut rangkaian kompetisi yang dilaksanakan liga Indonesia harus berjalan baik dan terus dievaluasi. Harapannya, perbaikan demi perbaikan dapat berlangsung setiap musim. Dengan begitu, klub peserta mendapat kepastian, pemain memiliki ruang berkembang, dan timnas bisa memetik manfaat dari kompetisi yang kompetitif.

Kongres ini merupakan fase awal dari rangkaian kerja panjang PSSI. Setelah agenda laporan dan pengesahan regulasi, langkah konkret di lapangan menjadi ujian sesungguhnya. KONI Pusat memberi sinyal bahwa pembinaan prestasi tidak bisa lagi ditunda.

Ke depan, sinergi antara KONI, PSSI, dan pemerintah perlu diperkuat. Sepak bola bukan cabang olahraga biasa; ia menyentuh jutaan masyarakat dan menjadi alat pemersatu. Jika Kongres Biasa ini mampu melahirkan komitmen bersama terhadap tata kelola dan pembinaan prestasi, fondasi sepak bola Indonesia akan jauh lebih kokoh menghadapi era kompetisi yang semakin berat.

Mengapa Ini Penting

Pembahasan pembinaan prestasi di Kongres Biasa PSSI menjadi sangat penting karena selama ini evaluasi tata kelola sering hanya berhenti di tataran wacana. Jika KONI dan PSSI benar-benar menyelaraskan program pembinaan, maka kompetisi domestik dan timnas akan mendapatkan dampak langsung. Selain itu, perhatian terhadap PON 2028 menunjukkan bahwa pembangunan sepak bola Indonesia tidak boleh terpusat di Pulau Jawa. Masyarakat yang selama ini menantikan prestasi timnas layak memperoleh kepastian bahwa federasi dan komite olahraga bekerja dalam satu visi.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
3 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit