Kairo menjadi saksi pernyataan tegas dari pimpinan baru Liga Arab. Sekretaris Jenderal Nabil Fahmy menyatakan bahwa membela hak-hak sah rakyat Palestina serta mengakhiri pendudukan wilayah mereka akan menjadi agenda utama organisasi tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers perdana Fahmy di kantor pusat Sekretariat Jenderal di ibu kota Mesir tersebut pada Senin (13/7).
Fahmy secara gamblang menyoroti sejumlah konflik di Timur Tengah yang membutuhkan perhatian segera. Ia menekankan bahwa Yerusalem harus tetap menjadi titik fokus utama dalam menghadapi segala upaya yang mencoba mengubah status hukum atau menghapus identitas Arab kota suci tersebut. Komitmen ini menegaskan bahwa isu Palestina tidak akan tergeser oleh dinamika geopolitik lain di kawasan.
Penunjukan Fahmy sebagai Sekjen Liga Arab sebelumnya disambut baik oleh pemerintah Mesir. Kehadirannya membawa napas baru bagi organisasi pan-Arab yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan internal terkait soliditas dalam merespons krisis di Gaza dan Tepi Barat. Fahmy mengambil posisi yang sangat kritis terhadap tindakan Israel yang dinilainya telah melampaui batas kemanusiaan.
Menurut Fahmy, apa yang terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat bukan sekadar konflik bersenjata biasa. Ia menyebutnya sebagai kejahatan genosida yang berkelanjutan. Situasi ini, tegasnya, menuntut sikap dan aksi nyata yang tegas dari negara-negara Arab, sebanding dengan beban tanggung jawab historis yang mereka pikul atas nasib saudara mereka di Palestina.
Agresi militer Israel, lanjut Fahmy, tidak hanya terpaku pada wilayah Palestina. Tindakan tersebut telah meluas ke Lebanon melalui serangan dan pelanggaran yang terus-menerus di Beirut serta Lebanon Selatan. Langkah itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon dan hukum internasional yang berlaku.
Liga Arab juga kembali menyoroti pendudukan Dataran Tinggi Golan milik Suriah. Fahmy menilai pengabaian terhadap resolusi legitimasi internasional terkait Golan sangat mencolok. Organisasi tersebut menolak segala upaya untuk memaksakan fakta di lapangan dengan menggunakan kekuatan bersenjata, sebuah pesan yang ditujukan kepada pihak-pihak yang mencoba mengubah peta kawasan secara sepihak.
Bagi Indonesia, pernyataan Liga Arab ini memiliki resonansi yang kuat. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara tradisional menjadikan kemerdekaan Palestina sebagai pilar utama politik luar negeri. Posisi Fahmy yang mendesak penuntutan hukum terhadap pelaku kejahatan perang selaras dengan upaya diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Dampaknya bagi masyarakat Indonesia terlihat dari tingginya tingkat empati dan solidaritas yang terus mengalir. Isu Palestina sering kali mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi umat, seperti boikot produk yang terafiliasi dengan pendudukan. Selain itu, stabilitas Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap harga energi global, yang pada gilirannya berdampak langsung pada inflasi dan biaya subsidi di dalam negeri.
Fahmy menegaskan komitmen hukum organisasinya dengan menyatakan dukungan penuh terhadap penuntutan para pelaku genosida. "Genosida tidak mengenal batas waktu, dan mereka yang melakukannya hari ini akan diadili esok," ujar dia. Pernyataan ini memberikan sinyal bahwa Liga Arab akan mendorong instrumen hukum internasional, termasuk Mahkamah Internasional, untuk memproses pelanggaran hak asasi yang terjadi.
Ia menambahkan, "Kota Yerusalem akan terus menjadi fokus utama kami dalam menghadapi segala upaya untuk mengubah statusnya atau menghapus identitas Arabnya." Penekanan pada Yerusalem menunjukkan bahwa isu status quo kota tersebut tetap menjadi garis merah bagi dunia Arab, terlepas dari normalisasi hubungan yang dilakukan sebagian negara dengan Israel.
Fahmy mencatat bahwa kawasan Arab saat ini memasuki fase yang sangat kritis. Diperlukan langkah bersama yang lebih waspada dan proaktif guna melindungi kepentingan negara-negara anggota serta mengamankan kapasitas strategis kawasan dari intervensi luar.
Penyelesaian seluruh krisis di dunia Arab, menurut Fahmy, harus bersumber dari kemauan negara-negara Arab itu sendiri. Hanya kesepakatan yang dicapai secara mandiri oleh negara-negara kawasan yang mampu menghasilkan solusi berkelanjutan. Ke depan, Liga Arab diproyeksikan akan mengambil peran lebih aktif dalam membangun front diplomasi yang solid demi menekan agresi militer dan memastikan hak Palestina dipulihkan.