Nasional

Hanya 0,5 Persen Warga Indonesia Jadi Mahasiswa Pascasarjana

Ringkasan

  • Hanya 0,5 persen warga Indonesia menempuh pendidikan pascasarjana.
  • Universitas Brawijaya berkomitmen mendukung akses melalui beasiswa dan dukungan riset.

Hanya sekitar 0,5 persen dari total penduduk Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan pascasarjana, menandakan betapa terbatasnya akses ke pendidikan tinggi di luar batas negeri. Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo, menyampaikan hal ini dalam acara Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (Ordik) Pascasarjana UB di Malang pada Sabtu lalu.

Angka yang disebutkan oleh Prof Widodo mencerminkan realitas signifikan dalam sistem pendidikan nasional. Dengan populasi yang melebihi 270 juta jiwa, jumlah mahasiswa pascasarjana yang berada di bawah setengah persen menunjukkan celah yang perlu diisi agar Indonesia mampu bersaing di era global. Menurutnya, para mahasiswa pascasarjana bukan sekadar bagian dari kalangan elit akademik, tetapi juga kunci untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan solusi inovatif bagi berbagai tantangan sosial.

Latar belakang rendahnya partisipasi ini tertuang dalam sejumlah faktor struktural. Biaya hidup yang tinggi, terbatasnya beasiswa, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan lanjutan menjadi hambatan utama. Selain itu, budaya masyarakat yang masih banyak menilai nilai pendidikan berdasarkan gelar saja, tanpa memandang kualitasnya, juga memengaruhi minat masuk ke program pascasarjana.

Dampaknya luas bagi bangsa. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, ketersediaan tenaga ahli yang berpendidikan tinggi menjadi krusial untuk mendukung transformasi ekonomi, inovasi teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Universitas Brawijaya, sebagai salah satu institusi ternama di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi, berupaya memperkuat perannya melalui berbagai kebijakan inklusif.

Salah satunya adalah dukungan terhadap beasiswa. Prof Widodo menjelaskan bahwa UB bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Bappenas, BRIN, hingga instansi pemerintah lainnya, untuk memberikan fleksibilitas keuangan bagi mahasiswa pascasarjana. Beasiswa ini tidak hanya membantu biaya kuliah, tetapi juga menjamin akses ke fasilitas penelitian yang relevan.

Direktur Sekolah Pascasarjana UB, Prof Dr Moh Khusaini, menambahkan bahwa pada tahun akademik 2026/2027, UB berhasil menampung sebanyak 2.195 mahasiswa pascasarjana, terdiri dari 1.446 mahasiswa S2 dan 749 mahasiswa S3. Jumlah ini tersebar di seluruh program studi, baik di bawah fakultas maupun Sekolah Pascasarjana.

Dukungan riset juga menjadi pembeda utama pendidikan pascasarjana di UB. Menurut Prof Widodo, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proyek riset bersama dosen dan guru besar. Pendanaan yang tersedia bagi dosen pun dapat dimanfaatkan untuk mendanai kegiatan penelitian mahasiswa, sehingga tidak perlu mereka menanggung biaya sendiri.

Hal ini mencerminkan komitmen UB untuk menciptakan lingkungan akademik yang kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, para lulusan pascasarjana diharapkan kembali ke masyarakat sebagai agen perubahan yang bertanggung jawab.

Perspektif lain dari Prof Widodo menekankan pentingnya peran intelektual dalam menyelesaikan permasalahan nasional. "Mereka adalah tulang punggung untuk kegiatan riset dan inovasi," ujurnya. Oleh karena itu, UB terus memperkuat kerja sama dengan berbagai lembaga untuk memperluas jangkauan dampak pendidikan pascasarjana.

Pandangan Prof Khusaini juga menyoroti komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas SDM nasional. "Kami berkomitmen untuk berkontribusi dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di tanah air," katanya. Dengan produksi hampir 2.000 lulusan pascasarjana setiap tahun, UB turut mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Tren ke depan menunjukkan pentingnya kolaborasi antarinstitusi serta pemerataan akses pendidikan. Jika kebijakan seperti beasiswa dan dukungan riset dapat diperluas, maka potensi pertumbuhan mahasiswa pascasarjana di Indonesia sangat besar. Namun, hal ini memerlukan komitmen pemerintah, dana yang cukup, dan partisipasi aktif seluruh pihak terkait.

Sehingga, langkah-langkah konkret perlu diambil untuk mendorong sistem pendidikan nasional agar lebih inklusif dan kompetitif. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar, tetapi juga negara yang memiliki SDM unggul dan siap menghadapi tantangan global.

Mengapa Ini Penting

Rendahnya persentase mahasiswa pascasarjana di Indonesia justru bertepatan dengan ambisi Indonesia Emas 2045 yang menuntut SDM berkualitas tinggi. Tanpa akselerasi akses pendidikan lanjutan, terutama di bidang riset dan inovasi, impian menjadi negara maju akan kesulitan tercapai. Keterlibatan kampus seperti UB yang konsisten memberi beasiswa dan fasilitas riset menjadi model yang perlu direplikasi secara nasional agar tidak hanya kualitasnya meningkat, tetapi juga keadilan pendidikan terjaga.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
22 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit