Pemerintah Kota Malang kembali membuktikan komitmennya dalam sektor kesehatan dengan meraih Penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Awards 2026 kategori utama. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas keberhasilan kota ini menghadirkan perlindungan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warganya, tanpa terkecuali kemampuan ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Wahyu Hidayat dan Wakil Wali Kota Ali Muthohirin, sektor kesehatan ditempatkan sebagai prioritas utama melalui program Dasa Bakti Unggulan Ngalam Tahes. Program ini mencakup penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan mutu rumah sakit dan puskesmas, digitalisasi layanan, serta percepatan penurunan stunting dan peningkatan kesehatan ibu dan anak.
Capaian ini tidak terlepas dari kolaborasi erat dengan BPJS Kesehatan, pemerintah pusat, Pemprov Jawa Timur, serta dukungan anggaran APBD untuk pembiayaan peserta Penerima Bantuan Iuran Daerah (PBID). Sinergi pentahelix melibatkan rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, kader Posyandu, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan memperluas jangkauan layanan.
Data menunjukkan tren positif yang konsisten. Cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang awal 2021 masih 94,77 persen, naik menjadi 95,61 persen di pertengahan tahun yang sama. Tahun 2022 mencatat 98,61 persen, lalu tembus 100 persen awal 2023. Puncaknya tercapai 107,88 persen pada 2024, kemudian 105,47 persen di 2025, dan per 1 Januari 2026 tercatat 105,85 persen.
Angka di atas 100 persen mencerminkan keberhasilan mendaftarkan warga melebihi target populasi yang terproyeksikan. Hal ini menunjukkan efektivitas upaya identifikasi dan pendaftaran warga yang sebelumnya belum tercover, termasuk pekerja informal, lansia, dan kelompok rentan lainnya yang sering terlewat dalam sistem jaminan sosial.
Dampak kebijakan ini terlihat jelas pada indikator pembangunan manusia. Berdasarkan data BPS Kota Malang, usia harapan hidup warga mencapai 75,88 tahun pada 2025 — melebihi rata-rata nasional. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik menjadi 85,55, pertumbuhan ekonomi 5,92 persen, sementara tingkat kemiskinan turun ke 3,85 persen. Kesehatan terbukti menjadi fondasi yang mendorong produktivitas dan kesejahteraan.
Wali Kota Wahyu Hidayat menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar memenuhi target kinerja, melainkan memastikan hak warga untuk hidup sehat dan produktif. "Kami ingin memastikan seluruh warga memperoleh akses layanan yang mudah, cepat, dan berkualitas," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan geseran paradigma dari pendekatan administratif ke pendekatan berbasis hak dan kualitas layanan.
Digitalisasi menjadi salah satu strategi kunci untuk mempercepat akses. Sistem rujukan yang terintegrasi, aplikasi layanan kesehatan berbasis mobile, dan pemanfaatan data real-time memungkinkan pengambilan keputusan berbasis bukti. Hal ini mengurangi waktu tunggu, mencegah kebocoran dana, dan meningkatkan transparansi pengelolaan jaminan kesehatan di tingkat daerah.
Kendati demikian, tantangan ke depan tetap ada. Pertumbuhan angka peserta yang melebihi proyeksi populasi menuntut efisiensi pengelolaan dana dan ketersediaan tenaga kesehatan yang proporsional. Penyakit tidak menular (PTM) dan stunting memerlukan intervensi jangka panjang yang melibatkan perubahan perilaku masyarakat, bukan sekadar penyediaan fasilitas.
Model Malang layak dijadikan referensi bagi kota-kota menengah lain di Indonesia. Kombinasi komitmen kepemimpinan, kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, dan pendekatan berbasis data menciptakan ekosistem kesehatan yang tangguh. Keberhasilan ini membuktikan bahwa Universal Health Coverage bukan sekadar jargon, melainkan target terukur yang dapat dicapai dengan manajemen yang tepat.
Ke depan, Pemerintah Kota Malang berkomitmen terus memperkuat kualitas layanan melalui penguatan fasilitas primer, perluasan jaringan kerja sama, dan inovasi layanan berbasis teknologi. Fokus akan dialihkan dari pencapaian cakupan kuantitatif ke peningkatan kualitas outcome kesehatan — mengurangi angka kematian ibu dan bayi, menurunkan prevalensi stunting, serta mengelola beban penyakit tidak menular yang meningkat seiring peningkatan usia harapan hidup.