Nasional

Marinir TNI AL Pererat Kemitraan dengan Marinir AS di RIMPAC 2026

Ringkasan

  • Jumat lalu, pejabat tinggi Marinir TNI AL bertemu Marinir AS di RIMPAC Distinguished Visitors Day, Hawaii, untuk memperkuat kerja sama operasi amfibi dan pertahanan.

Jumat lalu, sejumlah pejabat tinggi Korps Marinir TNI AL menghadiri acara RIMPAC Distinguished Visitors Day di Hawaii. Kehadiran mereka menandai upaya konkret untuk mempererat kerja sama militer antara Indonesia dan Amerika Serikat. Mayor Jenderal TNI (Mar) Oni Junianto, Komandan Pasmar 2, bersama Laksamana Pertama TNI Mochammad Riza (Waasops Kasal) dan Kolonel Laut (P) Rio Henrymuko, bertemu langsung dengan Deputy Commander Major General Matthew T. Mowery. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai aspek operasi amfibi, pertukaran teknologi pertahanan, dan rencana penguatan kerja sama bilateral di masa depan.

Seusai pertemuan resmi, delegasi Marinir Indonesia berkesempatan mengunjungi kapal serbu amfibi USS Essex (LHD-2). Mereka meninjau ruang operasi, hangar helikopter, dan fasilitas pendaratan. Petugas dari kapal menjelaskan sistem senjata, kemampuan evakuasi medis, serta kesiapan tempur kapal tersebut. Kunjungan ini memberikan gambaran nyata tentang standar logistik dan teknologi yang dimiliki marinir Amerika Serikat, yang dapat menjadi referensi bagi modernisasi alutsista Indonesia.

Latihan RIMPAC 2026 merupakan ajang multilateral terbesar di kawasan Pasifik. Sebanyak 31 negara mengirimkan sekitar 30.000 personel, 28 kapal perang, 5 kapal selam, 30 pesawat tempur, dan 20 unit pasukan darat. Acara yang berlangsung dari 24 Juni hingga 31 Juli ini bertujuan meningkatkan interoperabilitas antar angkatan laut, profesionalisme prajurit, dan memperkuat kerja sama pertahanan maritim guna menghadapi berbagai tantangan keamanan regional maupun global. Keikutsertaan Indonesia dalam acara ini menunjukkan komitmen Jakarta untuk menjadi aktor utama dalam keamanan maritim Indo‑Pasifik.

Bagi Indonesia, kerja sama dengan marinir Amerika Serikat memiliki makna strategis. Negara kepulauan ini mengandalkan kemampuan amfibi untuk menjaga kedaulatan di wilayah perairan luas, mulai dari perbatasan laut dengan Australia hingga Selat Malaka yang ramai lalu lintas. Selain itu, dinamika di Laut Cina Selatan mendorong kebutuhan akan aliansi yang dapat memberikan jaminan keamanan dan kebebasan navigasi. Kedekatan dengan AS membuka peluang bagi Indonesia untuk mengakses teknologi mutakhir, seperti sistem pendaratan amfibi canggih, drone maritim, dan peralatan pencarian dan penyelamatan.

Di dalam negeri, Korps Marinir telah menyelesaikan sertifikasi tank amfibi BMP‑3F, yang merupakan hasil modernisasi dari industri pertahanan lokal. Sertifikasi ini menunjukkan kemampuan Indonesia untuk mengembangkan dan memelihara alutsista berat secara mandiri. Melalui kerja sama dengan AS, diharapkan terjadi transfer pengetahuan yang dapat mempercepat pengembangan platform amfibi asli buatan Indonesia di masa depan.

Oni Junianto menyatakan, “Kunjungan ini memperkuat hubungan Indonesia‑AS dan menjadi batu loncatan bagi kerja sama pertahanan yang lebih luas. Kami berharap interaksi seperti ini terus berlanjut dan memberi manfaat nyata bagi keamanan maritim kawasan.” Pernyataan tersebut mencerminkan harapan bahwa pertemuan ini tidak hanya bersifat simbolis, melainkan juga menghasilkan program konkret.

Bagi komunitas pertahanan Indonesia, keterlibatan dalam RIMPAC 2026 membawa dampak positif yang luas. Selain meningkatkan kemampuan operasional prajurit, kerja sama ini membuka peluang bagi industri lokal untuk berpartisipasi dalam rantai pasok global, mulai dari produksi komponen hingga pemeliharaan peralatan. Di sisi lain, pemerintah dapat mengoptimalkan anggaran pertahanan dengan berbagi sumber daya dan pengetahuan teknis.

Ke depan, langkah selanjutnya meliputi pelaksanaan latihan gabungan amfibi antara Pasmar 2 dan Marinir AS, kemungkinan pengembangan prototipe kapal pendarat generasi baru hasil kerja sama riset, serta integrasi sistem latihan simulasi yang dapat digunakan bersama. Tren ini menunjukkan pergeseran dari kerja sama bilateral tradisional menuju kemitraan strategis yang lebih holistik, mencakup industri, akademisi, dan lembaga penelitian.

Pertemuan di Hawaii ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia terus proaktif dalam membentuk arsitektur keamanan maritim di Indo‑Pasifik. Dengan memanfaatkan peluang yang ada, marinir Indonesia siap menghadapi tantangan keamanan masa depan sambil memperkuat posisi negara sebagai aktor utama dalam stabilitas regional.

Mengapa Ini Penting

Kemitraan ini penting bagi Indonesia karena membuka akses ke teknologi amfibi mutakhir dan memperkuat kemampuan menjaga kedaulatan di wilayah perairan strategis. Kerja sama dengan Marinir AS juga mendukung industri pertahanan lokal dalam mengembangkan alutsista asli, serta meningkatkan interoperabilitas dalam latihan multilateral terbesar di Pasifik. Bagi masyarakat Indonesia, hal ini berarti keamanan maritim yang lebih baik, potensi lapangan kerja di sektor pertahanan, dan posisi yang lebih kuat dalam dinamika keamanan regional. Ke depan, kemitraan ini dapat menjadi fondasi bagi kerja sama teknologi dan industri yang lebih luas, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan nasional melalui industri pertahanan yang mandiri.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit