Makassar menjadi pusat perhatian nasional pada 8 hingga 12 Juli 2026 setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) sukses menyelenggarakan rangkaian puncak peringatan 46 Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) bersama Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54. Acara yang berlangsung di ibu kota provinsi tersebut tidak hanya menampilkan kekayaan kerajinan Nusantara, tetapi juga menjadi ajang kolaborasi strategis antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat kreatif. Keberhasilan ini mendapat pengakuan langsung dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang hadir dalam penutupan sekaligus menyerahkan apresiasinya.
Dalam sambutannya di Makassar pada Minggu (12/7/2026), Mendagri Tito Karnavian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh panitia dan Pemprov Sulsel, termasuk Gubernur Sulawesi Selatan, atas penyelenggaraan yang berjalan sangat baik. “Terima kasih banyak kepada panitia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pak Gubernur Sulawesi Selatan. Penyelenggaraan acara ini berjalan dengan sangat baik,” ujar Tito. Penilaian tersebut bukan sekadar basa-basi, melainkan mencerminkan standar event nasional yang mampu dikelola oleh pemerintah daerah dengan koordinasi matang.
Lebih dari sekadar seremoni, Tito menekankan bahwa kegiatan berskala nasional ini membawa multiflyer effect bagi perekonomian regional. Menurutnya, transportasi lokal bergerak, penginapan penuh, sektor kuliner berkembang, serta transaksi para tenant UMKM melonjak signifikan. “Acara ini mendapatkan banyak manfaat. Transportasi lokal bergerak, penginapan penuh, kuliner berkembang, termasuk penjualan produk UMKM yang terlihat dari tingginya transaksi para tenan UMKM,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor budaya dan kerajinan dapat menjadi motor penggerak ekonomi nyata di daerah.
Mendagri juga menyoroti pentingnya melestarikan serta mengembangkan potensi kerajinan Indonesia yang selama ini menjadi identitas bangsa. Ia menyebut acara syukuran Dekranas sebagai momentum kebangkitan kembali industri kreatif lokal agar memiliki daya saing global. “Acara ini menghidupkan kembali potensi kerajinan Indonesia yang harus kita jaga dan kembangkan. PR kita sekarang adalah bagaimana kerajinan Indonesia bisa mendunia,” tuturnya. Dalam konteks pasar bebas ASEAN dan globalisasi, produk wastra, aksesori, serta karya tangan Indonesia memang dituntut untuk meningkatkan kualitas standar internasional melalui inovasi desain dan teknologi produksi.
Ketua Panitia Dekranas Ke-46, Sukarniaty Kondolele, membeberkan data empiris mengenai lonjakan aktivitas ekonomi selama lima hari penyelenggaraan. Peningkatan terlihat pada hunian hotel dan penginapan, okupansi restoran, rumah makan, kafe, transportasi udara dan darat, layanan transportasi daring, hingga usaha penyewaan kendaraan. Geliat tersebut membuktikan bahwa event berbasis kerajinan mampu menarik mobilitas tinggi dari peserta lintas provinsi maupun pengunjung umum.
Tidak hanya sektor jasa, aktivitas perdagangan juga merangkak naik di pusat perbelanjaan, toko oleh-oleh, pasar tradisional, jasa perjalanan wisata, percetakan, fotografi, videografi, dekorasi, serta penyelenggara acara. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling merasakan berkah promosi sekaligus perluasan jaringan pemasaran. Berbagai produk unggulan Sulawesi Selatan seperti kerajinan tangan, wastra Nusantara, fesyen, kuliner, kopi lokal, makanan olahan tradisional, aksesori, dan suvenir diperkenalkan kepada audiens nasional.
Kehadiran delegasi dari berbagai provinsi di Indonesia dalam event ini juga memperkuat integrasi ekonomi antarwilayah. Produk lokal Sulsel tidak hanya dipamerkan, tetapi langsung terserap oleh pasar yang lebih luas, sekaligus membuka peluang kerja sama distribusi jangka panjang. Selain itu, sinergi dengan PKK melalui HKG ke-54 menempatkan perempuan sebagai tulang punggung pemberdayaan keluarga dan ekonomi kreatif di akar rumput.
Kesuksesan ini diperkuat oleh fakta pendukung bahwa okupansi hotel di Makassar sempat tembus 90 persen saat puncak HUT Dekranas, serta Pemprov Sulsel masuk lima besar penilaian penghargaan PPD Bappenas. Capaian tersebut mencerminkan tata kelola pemerintahan yang baik dan perencanaan pembangunan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Penghargaan bergengsi ini sekaligus mengonfirmasi bahwa Sulsel konsisten dalam memajukan sektor unggulan daerah.
Dari perspektif yang lebih luas, penyelenggaraan Dekranas ke-46 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memulihkan ekonomi pasca tantangan global. Event yang dikelola dengan profesional dapat mengalihkan ketergantungan pada sumber daya alam ke arah ekonomi kreatif berkelanjutan. Namun, tantangan ke depan adalah menjaga momentum ini agar tidak sekadar menjadi euforia sesaat, melainkan tertransformasi menjadi ekosistem usaha yang tangguh.
Untuk mewujudkan ambisi Mendagri agar kerajinan Indonesia mendunia, diperlukan strategi komprehensif mulai dari sertifikasi mutu, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pemanfaatan platform digital. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi pelaku UMKM dengan pelatihan ekspor dan integrasi sistem pembayaran elektronik. Dengan demikian, apresiasi yang diberikan hari ini akan berujung pada kemandirian ekonomi kerajinan Nusantara di panggung internasional.