Nasional

Mendagri mendorong Dekranasda dan Pemda menggali potensi kerajinan lokal

Ringkasan

  • Menteri Dalam Negeri mendorong Dekranasda dan pemda menggali potensi kerajinan lokal untuk pelestarian budaya, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan ekonomi daerah.

Jakarta, 28 Desember 2026 – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian kembali menegaskan pentingnya pemerintah daerah dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) aktif mengidentifikasi dan mengembangkan potensi kerajinan khas di masing-masing wilayah. Pernyataan ini disampaikan Tito pada acara penutupan peringatan 46 tahun Dekranas yang bertema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” di Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Tito, upaya tersebut tidak hanya bertujuan untuk melestarikan warisan budaya, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta meningkatkan kontribusi sektor kerajinan terhadap perekonomian nasional. Indonesia, kata dia, kaya akan kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni tinggi, seperti tenun yang kini banyak diburu kolektor asing karena keunikannya.

Tito memberikan contoh konkret bagaimana limbah cangkang mutiara di Raja Ampat telah diubah menjadi berbagai produk kerajinan bernilai tinggi oleh pengrajin lokal. Potensi serupa, lanjutnya, masih banyak tersebar di berbagai daerah di Nusantara, mulai dari kerajinan tekstil, wayang, hingga produk berbasis sumber daya alam lainnya.

Data yang disampaikan dalam acara tersebut menunjukkan bahwa pasar kerajinan dunia masih terbuka lebar dengan nilai sekitar Rp500 triliun per tahun. Namun, Indonesia hingga kini belum masuk dalam daftar sepuluh produsen kerajinan terbesar dunia. Padahal, keunggulan utama Indonesia adalah keragaman produk kerajinan yang sulit ditandingi negara lain.

Keunggulan ini, menurut Tito, merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing kerajinan Indonesia di pasar global. Kekayaan budaya, keberagaman suku, serta sumber daya alam yang melimpah menjadi fondasi yang kuat bagi pengembangan industri kreatif yang berkelanjutan. Dekranasda dan pemerintah daerah diharapkan dapat berperan sebagai katalisator dalam mengubah potensi tersebut menjadi produk yang berdaya jual tinggi.

Di era digital, peluang untuk memasarkan kerajinan Indonesia semakin luas. Platform e‑commerce, media sosial, dan teknologi pemasaran digital dapat menjadi jembatan bagi pengrajin untuk terhubung langsung dengan konsumen mancanegara. Namun, tantangan seperti keterbatasan akses internet di daerah terpencil, kurangnya literasi digital, dan masalah standar kualitas masih perlu diatasi bersama.

Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah perlu merancang program yang menggabungkan pelatihan keterampilan, pendanaan, dan pendampingan teknis yang mencakup transformasi digital. Kolaborasi dengan startup teknologi, penyedia layanan broadband, serta lembaga penelitian dapat membantu mengembangkan platform khusus yang mempertemukan pengrajin dengan pembeli potensial, sekaligus melindungi hak kekayaan intelektual atas desain tradisional.

Acara di Makassar juga menjadi momentum bagi pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dan Kota Makassar untuk menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung industri kerajinan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Ketua Dekranasda Sulsel Naomi Octarina, serta Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Kegiatan ini tidak hanya mempererat silaturahmi antar-pemangku kepentingan, tetapi juga diharapkan dapat berdampak nyata terhadap perekonomian daerah.

Ke depan, sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan semangat kewirausahaan pengrajin lokal diharapkan dapat membawa industri kerajinan Indonesia ke pentas dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi kerajinan lokal tidak hanya akan menjadi sumber kebanggaan nasional, tetapi juga kontributor utama dalam devisa negara dan penciptaan lapangan kerja berkelanjutan.

Mengapa Ini Penting

Dorongan ini menyatukan pelestarian budaya dengan agenda ekonomi digital Indonesia, membuka peluang bagi teknologi seperti e‑commerce dan AI untuk menghubungkan pengrajin dengan pasar global. Bagi industri teknologi, ini menciptakan permintaan akan solusi pemasaran digital, sistem pembayaran, dan manajemen hak kekayaan intelektual yang disesuaikan untuk pengrajin tradisional. Keberhasilan upaya ini dapat meningkatkan pendapatan ekspor, mengurangi kesenjangan regional, dan menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam sektor kerajinan berkelanjutan.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit