Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa sektor kepemudaan kini menempati posisi utama dalam agenda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Fokus tersebut bukan lagi sekadar urusan olahraga, melainkan pembentukan karakter dan kapasitas pemimpin bangsa di masa depan.
Langkah strategis yang diambil adalah penyusunan cetak biru atau blueprint kepemudaan nasional yang dirancang untuk jangka panjang, yakni hingga 100 tahun ke depan. Rencana induk ini digodok sebagai respons atas tantangan global dan perubahan demografi yang kian cepat.
Peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 menjadi titik tolak penting bagi Kemenpora. Erick menilai strategi kepemudaan yang diterapkan saat ini tidak boleh lagi sama dengan visi yang dibayangkan para pendiri bangsa satu abad lalu. Lanskap dunia telah berubah drastis, terutama dalam aspek teknologi, ekonomi, dan geopolitik.
Data terbaru menunjukkan bahwa 23,8 persen dari total populasi Indonesia merupakan kelompok usia muda, yang setara dengan 64 juta jiwa. Jumlah sebesar ini sejatinya merupakan modal demografi yang luar biasa. Namun, indeks kepemudaan nasional justru menunjukkan tren stagnan atau pertumbuhan yang lambat.
Kondisi itu memicu kekhawatiran akan nasib bonus demografi. Apabila negara gagal menyiapkan ekosistem yang mendukung, ledakan jumlah pemuda justru berpotensi menjadi beban sosial dan ekonomi. Sebaliknya, dengan cetak biru yang tepat, 64 juta anak muda tersebut dapat berubah menjadi mesin produktivitas dan inovasi.
Bagi ekosistem teknologi dan ekonomi digital Tanah Air, kebijakan ini membawa implikasi yang sangat mendalam. Generasi muda saat ini merupakan tulang punggung industri teknologi, mulai dari pengembang perangkat lunak, pencipta konten, hingga pelaku usaha rintisan (startup). Tanpa penguatan karakter dan literasi digital yang berkelanjutan, daya saing Indonesia di era ekonomi berbasis kecerdasan buatan dan komputasi awan akan tertinggal dari negara tetangga di Asia Tenggara.
Pembangunan kepemudaan tidak lagi bisa dipandang sebagai kegiatan ekstrakurikuler belaka. Ini adalah investasi strategis yang menentukan kualitas inovasi, produktivitas, serta daya saing teknologi nasional. Negara-negara dengan ekosistem teknologi matang seperti Singapura dan Korea Selatan telah lama menjadikan penguatan SDM muda berbasis digital sebagai prioritas anggaran negara, bukan sekadar program tahunan yang bersifat insidental.
Di sisi lain, tantangan terbesar Kemenpora adalah memastikan anggaran yang digelontorkan benar-benar menyentuh akar permasalahan. Selama ini, program kepemudaan kerap dikritik karena outputnya yang tidak terlihat secara instan. Padahal, pembentukan pola pikir kompetitif dan adaptif terhadap disrupsi teknologi membutuhkan proses panjang yang tidak bisa diukur dalam hitungan triwulan.
“Kalau Bapak Ibu ingat, pertama kali saya sudah angkat isu itu. Dan Alhamdulillah dari beberapa diskusi dengan pakar yang kita bentuk, kita melihat tahun 2028 adalah peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda,” ujar Erick dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI yang dipantau melalui kanal resmi parlemen, Selasa. Ia menekankan perlunya lompatan strategi yang berbeda dari era sebelumnya.
Erick menambahkan, Kemenpora akan memperkuat paradigma penggunaan anggaran berbasis manfaat. Setiap rupiah APBN harus berdampak langsung terhadap sosial ekonomi dan pembangunan sumber daya kepemudaan. “Untuk itu di anggaran tahun 2027 angka untuk sektor kepemudaan kita tingkatkan hampir tiga kali lipat, mudah-mudahan tidak dikurangi lagi,” kata dia.
Kenaikan anggaran hampir tiga kali lipat pada 2027 menandakan pergeseran prioritas yang signifikan. Langkah ini diharapkan mampu memicu program nyata, seperti inkubasi talenta digital, pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi, dan penguatan infrastruktur ruang kreatif di daerah terluar.
Ke depan, keberhasilan cetak biru ini akan bergantung pada kolaborasi lintas kementerian dan swasta. Kemenpora tidak mungkin bekerja sendirian dalam mencetak pemimpin masa depan. Sinergi dengan Kementerian Pendidikan, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta pelaku industri teknologi menjadi kunci agar visi satu abad kepemudaan tidak sekadar menjadi dokumen tertulis.