Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah menjaga harga Kopi Gayo di tingkat petani. Saat ini, harga di Bener Meriah mencapai Rp110.000 per kilogram, melonjak dari sebelumnya Rp50.000. Kunjungan kerja ke Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, pada Selasa menjadi momentum pengecekan langsung.
Kenaikan signifikan itu disebut Mentan sebagai capaian yang harus dipertahankan. Ia mengingatkan agar manfaat pertumbuhan pasar kopi dunia benar-benar dirasakan oleh pelaku utama sektor perkebunan. Tanpa pengawalan tata niaga, lonjakan harga bisa menguap di tengah jalan.
Kopi Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan Aceh dengan reputasi internasional. Selama bertahun-tahun, petani menghadapi fluktuasi harga yang dipengaruhi tengkulak dan rantai pasok panjang. Rendahnya posisi tawar membuat nilai jual biji kopi sering tidak sebanding dengan kualitasnya.
Presiden Prabowo Subianto melalui arahan kepada jajaran menteri telah menekankan penguatan sistem ekspor nasional. Tujuannya agar Indonesia tidak sekadar memasok bahan baku mentah, tetapi mampu menentukan harga komoditas unggulan. Kopi menjadi salah satu front line dalam strategi tersebut.
Di sisi lain, bencana alam seperti banjir dan longsor pernah menekan produksi Kopi Gayo. Peneliti Universitas Syiah Kuala mencatat gangguan iklim mengurangi volume panen beberapa musim terakhir. Kondisi ini membuat stabilisasi harga menjadi semakin krusial untuk melindungi pendapatan pekebun.
Dampak kebijakan ini melampaui Aceh. Jika tata niaga kopi berhasil diperbaiki, model serupa bisa diterapkan pada komoditas perkebunan lain seperti kakao, kelapa sawit, dan kopi robusta di Jawa. Petani di daerah penghasil akan mendapatkan referensi baru tentang distribusi nilai tambah.
Bagi konsumen dalam negeri, harga eceran mungkin tidak langsung turun. Namun, kesejahteraan petani yang meningkat berarti ketahanan pangan dan pasokan berkualitas terjaga. Indonesia sebagai produsen kopi ketiga terbesar dunia butuh pondasi petani yang kuat untuk bersaing di pasar global.
Menurut analisis ekonomi pertanian, intervensi pemerintah melalui bantuan bibit dan perluasan lahan dapat memicu multiplier effect. Uang dari hasil panen akan berputar di ekonomi lokal Aceh, mendongkrak usaha mikro di sekitar sentra kopi. Ini bukan sekadar soal harga, melainkan ekosistem.
Mentan mengutip laporan pemerintah daerah bahwa harga di tingkat petani kini Rp110 ribu per kilogram. “Dulu Rp50 ribu per kilogram. Harga naik, ini harus dijaga,” tegasnya di hadapan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dan sejumlah bupati. Dialog tersebut memfokuskan strategi pengembangan komoditas.
Amran menambahkan, Indonesia harus memiliki posisi tawar kuat sebagai produsen. “Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya. Pernyataan itu sejalan dengan rencana penguatan ekspor di bawah koordinasi Kementan.
Proyeksi ke depan, pemerintah mengalokasikan bantuan pengembangan kopi di Aceh seluas 17.000 hektare dengan total 17 juta batang bibit. Program tersebut diperkirakan mendongkrak pendapatan pekebun hingga Rp4 triliun. Sinergi pusat, daerah, dan petani menjadi kunci.
Tahun depan, dukungan serupa akan dilanjutkan. Potensi besar masyarakat Aceh yang pekerja keras dan didukung pemda membuat sentra kopi dunia semakin kokoh. Kopi Gayo bukan hanya minuman, tetapi instrumen pemerataan kesejahteraan di Tanah Rencong.