Presiden Argentina Javier Milei melayangkan protes resmi kepada pemerintah Inggris terkait manuver kapal perang HMS Medway di perairan dekat Kepulauan Malvinas. Langkah diplomatik itu disampaikan hanya beberapa jam setelah tim nasional sepak bola Argentina menyingkirkan Inggris pada semifinal Piala Dunia di Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7).
Kementerian Luar Negeri Argentina menyatakan penolakan keras terhadap pelayaran kapal Inggris tersebut yang dianggap memasuki perairan teritorial tanpa pemberitahuan sebelumnya. Menteri Luar Negeri Pablo Quirno membagikan salinan nota protes melalui akun X resminya dan menegaskan bahwa insiden terjadi pada 1 hingga 2 Juli saat HMS Medway menuju Punta Arenas, Chile.
Nota diplomatik sebenarnya sudah diserahkan ke Kedutaan Besar Inggris di Buenos Aires pada 13 Juli. Argentina menilai tindakan kapal perang itu meningkatkan ketegangan di Atlantik Selatan dan merupakan bagian dari pola sepihak London yang bertentangan dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sengketa kedaulatan atas Malvinas, yang oleh Inggris disebut Falkland, telah berlangsung puluhan tahun dan sempat memicu perang pada 1982.
Kepulauan Malvinas berada sekitar 480 kilometer dari pantai Argentina dan dikuasai Inggris sejak 1833. Buenos Aires mengklaim kepulauan serta Georgia del Sur dan Sandwich del Sur sebagai wilayah tak terpisahkan. PBB sejak 1965 telah mengeluarkan resolusi yang mendorong kedua pihak menyelesaikan sengketa secara damai melalui perundingan.
Manuver militer kapal perang di tengah sengketa wilayah selalu berpotensi memicu eskalasi. Bagi Argentina, kehadiran HMS Medway tanpa koordinasi dianggap sebagai provokasi terselubung. Inggris memandang pelayaran tersebut sebagai hak operasional di perairan yang mereka kuasai.
Bagi pembaca Indonesia, peristiwa ini relevan sebagai contoh bagaimana sengketa teritorial dapat memengaruhi hubungan diplomatik dua negara. Indonesia sendiri memiliki pengalaman serupa terkait perairan di Laut Cina Selatan dan batas maritim dengan negara tetangga. Prinsip pemberitahuan pelayaran militer merupakan isu penting dalam hukum internasional yang juga berlaku di perairan Nusantara.
Ketegangan Atlantik Selatan menunjukkan bahwa olahraga dan diplomasi kadang berjalan beriringan namun tak boleh dicampuradukkan. Milei dengan tegas memisahkan kemenangan sepak bola dari urusan kedaulatan. Sikap itu mencerminkan pendekatan pragmatis pemerintahan libertarian yang lebih mengandalkan jalur diplomatik daripada retorika nasionalis.
Dalam wawancara di Radio Mitre, Milei menegaskan bahwa trofi sepak bola tidak mengganti klaim wilayah. "Kepulauan Malvinas akan direbut kembali melalui diplomasi yang bijaksana, bukan melalui pertunjukan patriotisme murahan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Argentina telah membuat kemajuan dengan mendorong PBB mewajibkan Inggris duduk berunding.
Quirno sebelumnya menulis di X bahwa diplomasi tidak perlu digembar-gemborkan seperti tujuan politik, namun didorong oleh kebanggaan dan pembelaan kepentingan nasional. Pernyataan itu sekaligus menepis anggapan bahwa protes dikirimkan sebagai respons emosional atas pertandingan semifinal.
Ke depan, Argentina diprediksi akan terus menekan Inggris melalui forum multilateral termasuk Majelis Umum PBB. London kemungkinan mempertahankan posisi bahwa status kepulauan ditentukan warga setempat melalui referendum 2013 yang menolak bergabung dengan Argentina. Jalur diplomasi Milei membutuhkan waktu namun lebih rendah risiko dibanding konfrontasi militer.
Perkembangan ini juga akan diawasi negara berkembang lain yang memiliki sengketa maritim. Preseden penyelesaian damai di Atlantik Selatan dapat menjadi rujukan, sekaligus ujian bagi efektivitas resolusi PBB di era geopolitik yang semakin fragmentatif.