Internasional

Netanyahu Tuduh Iran Targetkan Anaknya, Pakar Sebut Trik Politik Jelang Pemilu

Ringkasan

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Iran mencoba membunuh salah satu putranya dalam wawancara Channel 14, namun enggan mengungkap detail; analis menilai tuduhan ini sebagai upaya menggenjot popularitas menjelang pemilu Oktober.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melempar tuduhan berat kepada Iran pada Senin (24/8) lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi konservatif Channel 14, ia menyatakan bahwa Tehran telah merencanakan pembunuhan terhadap salah satu anak laki-lakinya. "Ini kasus yang sulit dipercaya. Iran menargetkan salah satu anak laki-laki saya," ujar Netanyahu sebagaimana dikutip Al Jazeera. Ia mengulang klaim tersebut tanpa memberikan rincian waktu, lokasi, maupun identitas putra yang jadi sasaran.

Klaim itu muncul di tengah perang terbuka antara Israel dan Iran yang sudah berlangsung sejak akhir Februari. Konflik yang meledak di bulan suci Ramadan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya, termasuk putrinya. Estafet kekuasaan kemudian dialihkan ke Mojtaba Khamenei, putra lain pemimpin revolusi, melalui proses konstitusional. Netanyahu sendiri memiliki dua putra dan satu putri. Kedua putranya serta istrinya dilindungi oleh unit keamanan pribadi Israel. Putra tertua, Yair Netanyahu (35), dilaporkan berada di Miami, Amerika Serikat, sejak awal 2024.

Latar belakang tuduhan ini tidak terlepas dari dinamika politik internal Israel yang memanas. Survei terbaru menunjukkan popularitas Netanyahu dan kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya mengalami penurunan tajam. Pemilihan umum dijadwalkan digelar Oktober mendatang, atau kurang lebih dua bulan lagi. Sejumlah pakar keamanan dan pengamat politik menilai narasi ancaman keamanan pribadi sering digunakan sebagai alat untuk mengonsolidasi basis pendukung dan menggeser perhatian dari kegagalan kebijakan domestik.

"Tuduhan tanpa bukti konkret ini mencerminkan keputusaan politik," kata seorang analis senior dari Institute for National Security Studies (INSS) di Tel Aviv yang meminta anonimitas. "Dengan membingkai Iran sebagai ancaman eksistensial yang menargetkan keluarga pemimpin, Netanyahu berusaha memosisikan dirinya sebagai satu-satunya penjamin keamanan Israel." Strategi serupa pernah ia gunakan pada kampanye sebelumnya, meski kali ini konteksnya dipertajam oleh perang skala penuh.

Di sisi lain, Iran belum mengeluarkan respons resmi terhadap tuduhan Netanyahu. Tehran secara konsisten menolak terlibat dalam operasi pembunuhan tertarget di luar wilayahnya, meski Israel rutin mengklaim menggugurkan komandan IRGC dan ilmuwan nuklir di tanah Iran. Ketegangan di Selat Hormuz juga terus meningkat, dengan lalu lintas tanker minyak anjlok drastis dan pelaut ditinggal oleh perusahaan pengangkut internasional. Ketidakstabilan ini berdampak langsung pada harga energi global.

Bagi Indonesia, meski tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, eskalasi konflik ini membawa implikasi ekonomi nyata. Kenaikan harga minyak mentah akan menambah beban subsi energi dan tekanan inflasi domestik. Lebih dari 200.000 tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah — terutama di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar — berpotensi terdampak jika konflik melebar ke negara-negara Teluk. Pemerintah melalui Kemlu dan Kemenaker harus siap dengan skenario evakuasi darurat.

Kembali ke dinamika internal Israel, dua bulan menuju pemilu menjadi periode kritis. Netanyahu yang memimpin Partai Likud menghadapi tantangan dari blok oposisi yang terpecah namun bersatu pada naranti anti-korupsi dan kegagalan keamanan 7 Oktober 2023. Tuduhan terhadap Iran berfungsi sebagai 'rally around the flag' — upaya menyatukan pendukung di balik bendera keamanan nasional. Namun, risikonya tinggi: jika klaim terbukti tidak bermuatan, kredibilitas Netanyahu akan further eroded.

Secara militer, Israel terus melakukan serangan presisi di Suriah dan Lebanon untuk menghancurkan jaringan logistik Iran. AS sebagai sekutu utama menyediakan pelindung rudal dan intelijen real-time, namun Washington juga menekan Israel untuk menghindari eskalasi tidak terkendali yang bisa menarik militer AS ke perang langsung. Keseimbangan rapuh ini menentukan apakah konflik akan terbatas atau meluas ke perang regional penuh.

Pengamat geopolitik menilai tuduhan Netanyahu juga mengirim sinyal ke Washington: Israel butuh dukungan AS yang tak terbantahkan, termasuk persetujuan untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Pemerintahan Biden, yang menghadapi tekanan domestik soal dukungan ke Israel, kini berada di posisi sulit. Menolak berarti melemahkan sekutu kunci; menyetujui berarti risiko perang total.

Jelang Oktober, perhatian dunia akan tertuju pada apakah Netanyahu mampu mengubah narasi keamanan menjadi suara di kotak suara. Sejarah menunjukkan Israelis cenderung memilih pemimpin 'kuat' saat perang. Namun, kekecewaan publik terhadap biaya hidup tinggi, ketidakadilan sosial, dan korupsi mungkin lebih berat dari retorika ancaman eksternal. Pilihan pemilih Israel akan menentukan arah perang — dan stabilitas Timur Tengah — untuk tahun-tahun mendatang.

Mengapa Ini Penting

Klaim Netanyahu tanpa bukti mencerminkan instrumentalisasi isu keamanan untuk kepentingan politik domestik, pola yang berulang di demokrasi yang menghadapi perang. Bagi Indonesia, eskalasi Israel-Iran mengancam pasokan energi dan keselamatan ratusan ribu pekerja migran di wilayah Teluk. Lebih jauh, ketidakstabilan Timur Tengah memperkuat polarisasi geopolitik global yang mempersulit diplomasi bebas aktif Indonesia di forum internasional.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
25 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit