Nasional

Pembinaan SDM Unggul Tak Lepas dari Budaya Hidup Sehat

Ringkasan

  • Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan pembinaan SDM butuh budaya hidup sehat untuk cetak SDM unggul.
  • Disampaikan di Poral 2026, Jakarta, Selasa.

Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa pembinaan sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air harus dibarengi dengan penanaman budaya hidup sehat dan bugar. Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri pameran Pekan Olahraga TNI Angkatan Laut (Poral) 2026 di Markas Komando Armada Republik Indonesia, Jakarta, pada Selasa pekan ini.

Menurut Wiyagus, peningkatan profesionalisme melalui pelatihan teknis saja tidak cukup untuk melahirkan SDM yang kompetitif di era transformasi global saat ini. Fondasi utama harus dimulai dari kondisi fisik dan mental yang prima melalui pola hidup sehat yang konsisten diterapkan dalam rutinitas harian.

Pemerintah memang tengah gencar mendorong terciptanya ekosistem masyarakat yang sehat dari tingkat pusat hingga ke akar rumput. Hal ini menjadi bagian dari visi besar untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing secara seimbang di panggung internasional.

Penekanan pada budaya hidup sehat bukan sekadar wacana tahunan yang hilang ditelan waktu. Beban demografi dan tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia menuntut pendekatan yang lebih menyeluruh, terutama pasca pandemi yang secara drastis mengubah kesadaran kolektif akan pentingnya imunitas tubuh dan kebugaran jangka panjang.

Kementerian Dalam Negeri memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan kebijakan di tingkat pemerintah daerah. Selama ini, pembinaan SDM melalui instansi daerah sering kali hanya berfokus pada peningkatan kapasitas administratif, sehingga aspek pemeliharaan kesehatan fisik kerap terabaikan dalam evaluasi kinerja aparatur.

Kehadiran Wamendagri di gelaran olahraga militer seperti Poral 2026 mencerminkan upaya sinergi antara kementerian sipil dan institusi pertahanan negara. TNI AL dinilai memiliki disiplin operasional dan infrastruktur olahraga yang terstruktur, sehingga bisa dijadikan teladan nyata bagi aparatur sipil negara maupun masyarakat umum.

Dampak dari pergeseran paradigma ini sangat relevan bagi produktivitas nasional secara makro. SDM yang bugar cenderung memiliki tingkat absensi akibat sakit lebih rendah, serta daya saing kerja yang lebih tinggi, baik ketika berkarya di sektor publik maupun swasta.

Di sisi lain, pembangunan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga tingkat paling bawah akan memperkecil kesenjangan kualitas hidup antarwilayah. Masyarakat pesisir dan daerah terpencil, yang selama ini sulit mengakses fasilitas olahraga memadai, menjadi target prioritas agar mereka tidak tertinggal dalam arus pembangunan manusia.

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Mendagri sebelumnya yang menempatkan pembangunan SDM sebagai kunci utama menghadapi kompetisi dunia baru. Tanpa dukungan fisik yang kuat dan stabil, kecerdasan kognitif serta keahlian teknis tidak akan berjalan optimal dalam jangka panjang.

"Kesehatan adalah fondasi SDM yang unggul. Pemerintah juga sedang mengembangkan dan membangun masyarakat yang sehat mulai dari pusat sampai ke akar rumput," ujar Wiyagus dalam keterangan tertulis yang diterima usai acara tersebut.

Ia lebih lanjut mengapresiasi komitmen TNI AL dalam mencetak prajurit yang tidak hanya mahir secara militer, tetapi juga memiliki kebugaran prima sebagai penunjang tugas. "Gelaran ini sebagai bukti bahwa Angkatan Laut sebagai garda terdepan ketahanan maritim Indonesia memiliki SDM yang unggul," katanya. Semangat membudayakan olahraga dari institusi militer diharapkan menginspirasi warga sipil untuk menerapkan pola hidup serupa di lingkungan masing-masing.

Ke depan, kolaborasi antara Kemendagri dan TNI AL berpotensi melahirkan program turunan yang menyentuh masyarakat luas, khususnya di kawasan pesisir dan perbatasan. Pemerintah daerah diminta untuk mulai memasukkan indikator kebugaran sebagai bagian dari evaluasi kesejahteraan aparatur dan intervensi sosial di wilayahnya.

Tren pembinaan SDM di Indonesia diprediksi akan semakin mengintegrasikan aspek gaya hidup sehat ke dalam kurikulum pelatihan resmi di berbagai instansi. Hal ini menjadi langkah konkret menuju generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dan bugar secara fisik.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran fokus pembinaan SDM dari sekadar keahlian teknis ke arah kesegaran fisik menuntut pemerintah daerah menyiapkan anggaran promotif preventif yang lebih besar. Masyarakat pesisir yang selama ini minim fasilitas olahraga akan merasakan dampak langsung jika program ini benar-benar turun ke akar rumput. Integrasi budaya sehat juga krusial untuk menekan beban BPJS Kesehatan akibat penyakit degeneratif di kalangan usia produktif. Tanpa eksekusi konkret di level desa, retorika pembangunan SDM unggul hanya akan menjadi slogan tahunan yang tidak berdampak nyata.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit