Duka mendalam menyelimuti Diska, bocah tujuh tahun asal Desa Ma'minasata, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Ia harus menelan kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya, Hasbi (41) dan Malida (31), setelah kapal KM Nurul Salsa yang mereka tumpangi menuju Pelabuhan Benteng tenggelam di perairan pada Rabu, 15 Juli lalu.
Kisah pilu Diska mencuat setelah ia ditemukan selamat bersama empat penumpang lainnya oleh kapal nelayan yang melintas di Laut Flores pada Sabtu, 19 Juli. Selama berhari-hari, Diska dan para korban lainnya berjuang melawan maut di tengah ganasnya gelombang laut dengan hanya mengandalkan pelampung gabus sebagai tumpuan hidup.
Bau Asseng (23), tante Diska yang juga menjadi penyintas dalam insiden tersebut, menuturkan detik-detik mencekam saat kapal mulai karam. Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi membuat mereka sulit bertahan. Bahkan, ibu Diska sempat bertahan selama tiga malam di atas gabus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat dehidrasi dan kelelahan yang ekstrem.
Dalam situasi yang serba terbatas, jenazah ibu Diska terpaksa ditinggalkan di laut karena keterbatasan tenaga para penyintas untuk terus membawanya. Sebelum berpisah di tengah samudera yang luas, ayah Diska sempat menitipkan pesan haru kepada Bau Asseng agar menjaga sang buah hati. Amanah tersebut kini menjadi tanggung jawab yang diemban oleh keluarga besar dan pemerintah daerah.
Tragedi KM Nurul Salsa kembali menyoroti kerentanan moda transportasi laut antarpulau di Indonesia, terutama yang menggunakan kapal-kapal kecil di tengah cuaca yang tidak menentu. Meskipun akses transportasi air menjadi urat nadi ekonomi bagi warga di wilayah kepulauan seperti Selayar, aspek keselamatan sering kali menjadi taruhan di tengah infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai.
Menanggapi nasib Diska yang kini menjadi yatim piatu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar mengambil langkah konkret dengan menjamin masa depan pendidikannya. Bupati Kepulauan Selayar, Natsir Ali, menyatakan bahwa pemda akan menanggung seluruh biaya pendidikan Diska hingga jenjang perguruan tinggi sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan.
Langkah ini merupakan bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat yang tertimpa musibah. Namun, di luar bantuan pendidikan, insiden ini menjadi alarm keras bagi otoritas pelabuhan dan penyelenggara transportasi untuk memperketat pengawasan terhadap kelayakan kapal serta kepatuhan terhadap peringatan cuaca dari BMKG sebelum kapal diizinkan berlayar.
Sistem peringatan dini dan ketersediaan alat keselamatan di atas kapal kecil masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sektor transportasi maritim Indonesia. Seringkali, kapal-kapal pengangkut warga di wilayah terpencil beroperasi dengan standar keamanan yang minim, yang secara langsung meningkatkan risiko fatalitas saat terjadi kecelakaan di perairan terbuka.
Saat ini, proses pencarian korban KM Nurul Salsa lainnya masih terus dilakukan. Bupati Natsir Ali menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait guna memastikan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, sekaligus memohon doa dari masyarakat luas agar proses pencarian berjalan lancar.
Bagi Diska dan keluarga yang ditinggalkan, bantuan biaya pendidikan memang meringankan beban masa depan. Namun, trauma mendalam akibat kehilangan orang tua dalam kecelakaan laut tentu membutuhkan pendampingan psikologis yang berkelanjutan agar ia dapat tumbuh dengan baik dan pulih dari luka emosional yang dialami.
Ke depan, pemerintah perlu mengintegrasikan layanan bantuan pascabencana yang lebih komprehensif bagi anak-anak korban kecelakaan transportasi, tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga dukungan kesehatan mental. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan nyawa di atas laut adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh alasan apa pun.
Sebagai masyarakat, kita berharap tragedi serupa tidak terulang. Penguatan regulasi transportasi laut bagi masyarakat di wilayah kepulauan, serta peningkatan edukasi mengenai prosedur keselamatan di laut, menjadi langkah krusial agar tidak ada lagi anak-anak yang harus kehilangan orang tua karena ketidaksiapan menghadapi ancaman cuaca di perairan Nusantara.