Pemukim Israel menyerbu Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur pada Rabu (15/7) pagi sambil menyanyikan lagu dan meneriakkan slogan provokatif di halaman suci tersebut. Sehari sebelumnya, anggota parlemen Israel Tzvi Sukkot merusak papan nama sekolah yatim piatu di Kota Tua Yerusalem Timur yang memuat bendera Palestina.
Rekaman yang dirilis Kegubernuran Yerusalem memperlihatkan para pemukim berada di dalam kompleks masjid saat aksi berlangsung. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat bahwa pasukan Israel melakukan 26 kali penyerbuan ke Al Aqsa sepanjang Juni lalu.
Berdasarkan kesepakatan status quo, pemukim Israel dilarang memasuki Al Aqsa, apalagi untuk beribadah. Namun sejak 2003, kepolisian Israel mengizinkan warganya masuk setiap hari kecuali Jumat dan Sabtu. Kebijakan itu terus memicu ketegangan dengan warga Palestina.
Yerusalem merupakan kota suci tiga agama. Umat Islam menyebut Al Aqsa sebagai al-Haram al-Sharif, sementara Yahudi menamakannya Har-ha-Bayit. Palestina menilai Israel dalam puluhan tahun terakhir meningkatkan upaya Yahudisasi terhadap Yerusalem Timur dan menghapus identitas Arab serta Islam di kota itu.
Tindakan Sukkot di sekolah yatim piatu menambah daftar eskalasi. Anggota partai sayap kanan Religious Zionism itu mengunggah video dirinya menghancurkan papan nama sekolah. Ia beralasan lembaga di bawah Otoritas Palestina tidak boleh beroperasi di wilayah kedaulatan Israel.
Sukkot yang menjabat Ketua Komite Pendidikan Knesset mengancam menutup sekolah tersebut dan lembaga pendidikan Palestina lainnya. Langkah itu terjadi di tengah peningkatan serangan kelompok sayap kanan menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober.
Anggota Knesset Arab Israel Ayman Odeh mengecam keras aksi tersebut. Ia membandingkan jika ketua komite pendidikan negara lain merusak sekolah Yahudi hanya karena bendera Israel, dunia pasti merasa ngeri. Baginya, sekolah adalah ruang belajar anak, bukan arena politik.
Sekitar 390.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan menghadapi tekanan pendudukan setiap hari. Sebagian besar sekolah di sana masih menggunakan kurikulum Palestina kendati pemerintah Israel di bawah Netanyahu menekan adopsi kurikulum Israel.
Sukkot juga menggerebek sekolah Arab di wilayah Israel dengan alasan memantau kurikulum. Orang tua murid memprotes tindakan yang dianggap provokatif dan melemahkan pendidikan masyarakat Arab.
Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara masa depan sesuai resolusi internasional. Israel menduduki kota itu sejak 1967 dan melakukan aneksasi pada 1980 yang tidak diakui dunia.
Eskalasi ini diproyeksikan memanas mendekati pemilu Israel. Tekanan terhadap simbol dan institusi Palestina diperkirakan bertambah seiring manuver politik sayap kanan.
Ke depan, sekolah dan situs keagamaan di Yerusalem Timur akan tetap rawan benturan. Tanpa jaminan status quo yang kuat, stabilitas kota suci itu sulit terjaga.