Medan – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat tren positif pada Stasiun Lubuk Pakam. Sepanjang semester I 2026, jumlah pengguna kereta api relasi Medan–Lubuk Pakam tumbuh enam persen dibanding periode sama 2025. Peningkatan ini menunjukkan moda transportasi rel kembali diminati masyarakat seiring perbaikan layanan dan fasilitas. Keberhasilan ini juga selaras dengan kebijakan nasional mendorong transportasi massal guna kurangi kemacetan koridor Medan–Deli Serdang.
Data humas KAI Divre I Sumut menyebut total penumpang Stasiun Lubuk Pakam semester I 2026 mencapai 38.592 orang, naik dari 36.243 orang tahun sebelumnya. Kenaikan absolut 2.349 penumpang tersebut signifikan karena stasiun ini melayani rute penyangga ibu kota provinsi. Pencapaian sejalan dengan program KAI yang mengutamakan ketepatan waktu, kenyamanan, dan tiket digital terintegrasi.
Manager Humas KAI Divre I Sumut, Anwar Yuli Prastyo, mengungkapkan peningkatan volume penumpang mencerminkan peran vital stasiun dalam melayani mobilitas warga. Kepercayaan publik tumbuh terhadap layanan kereta api yang aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau. Hal ini mempertegas posisi KAI sebagai pilihan utama transportasi darat di Sumatera Utara, sekaligus mengubah stigma lama kereta lokal yang dianggap usang.
Secara tata ruang, Stasiun Lubuk Pakam sangat strategis karena berada di pusat pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, dekat Kantor Bupati dan DPRD. Lokasi ini menjadikannya urat nadi mobilitas ASN, pelaku bisnis, dan masyarakat umum dengan urusan administratif. Kelancaran stasiun berdampak langsung pada produktivitas sektor publik dan swasta, serta memperkuat interkoneksi dengan metropolitan Medan.
Stasiun ini memiliki nilai sejarah panjang. Bangunan lamanya dibangun perusahaan swasta Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada era kolonial dan beroperasi 7 Februari 1890, sehingga kini berusia 136 tahun. Warisan tersebut menyaksikan transformasi dari angkutan perkebunan ke layanan penumpang modern yang mengedepankan keselamatan dan pelayanan prima.
Modernisasi besar dilakukan DJKA Kementerian Perhubungan pada 2021 dengan membangun stasiun baru berserta atap peneduh dan peron tinggi. Fasilitas ini menjamin kenyamanan dan keselamatan saat naik turun kereta, sekaligus mempercepat proses boarding dan mendukung akses disabilitas. Investasi fisik ini menjadi katalis utama peningkatan kepuasan pelanggan.
Frekuensi perjalanan cukup tinggi, yakni 14 trip hari kerja dan 16 trip akhir pekan berkat KA Sribilah Fakultatif. Layanaan meliputi KA Putri Deli, Sribilah Utama, Sribilah Fakultatif, dan lokal Siantar Ekspres. Variasi kelas ekonomi hingga eksekutif memungkinkan stasiun menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan pilihan jadwal fleksibel.
KAI Bandara, anak usaha KAI, mulai 1 Juli 2026 menguji coba penambahan empat perjalanan PP Medan–Lubuk Pakam. Langkah ini memperkuat konektivitas ibu kota provinsi dengan pusat pemerintahan Deli Serdang, sekaligus embrio integrasi multimoda termasuk akses bandara. Sinergi antarentitas KAI Group memberikan nilai tambah bagi pengguna akhir.
Pertumbuhan ini patut dilihat dalam konteks revitalisasi jalur kereta api Sumatera oleh pemerintah. Keberhasilan ridership Lubuk Pakam membuktikan investasi fasilitas dan frekuensi berdampak ekonomi multiplier bagi kabupaten penyangga kota besar. Model ini berpotensi direplikasi di stasiun lain di luar Jawa untuk dorong pemerataan pembangunan.
Ke depan, Stasiun Lubuk Pakam diproyeksikan jadi pusat integrasi transportasi andal di koridor timur Medan. Usia lebih satu abad dan posisi strategis memberi modal menjadi node transit-oriented development. Kolaborasi KAI, pemda, dan stakeholder akan menentukan keberlanjutan tren positif serta ketahanan mobilitas regional Sumut di era digital.