Seorang anggota polisi berinisial MM, 23, mengalami luka memar setelah dikeroyok sekelompok pria saat mencoba melerai keributan di Lapangan Merdeka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (12/7) sekitar pukul 01.00 WITA itu kini ditangani Polres Bone. Enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
Korban saat itu tengah duduk bersama rekannya sambil memesan makanan. Salah seorang pelaku kemudian memukul tangan teman korban, yang memicu pertengkaran mulut. Melihat situasi memanas, MM berusaha melerai. Namun alih-alih mereda, ia justru menjadi sasaran amuk para pelaku. "Mereka memukul dan menendang korban berkali-kali hingga mengalami luka memar," ujar Kasi Humas Polres Bone Iptu Rayendra Muchtar saat dikonfirmasi, Selasa (14/7).
Para pelaku yang berhasil diamankan adalah FDL (20), SKR (23), ALW (25), FTR (20), RDW (22), dan EC (23). Mereka ditangkap di lokasi yang sama, Lapangan Merdeka, pada Senin (13/7) malam, sehari setelah insiden terjadi. Penangkapan dilakukan setelah korban melapor ke polisi.
Hingga saat ini, polisi masih mendalami motif pengeroyokan tersebut. "Keenam tersangka masih dalam pemeriksaan untuk pengembangan kasus," kata Rayendra.
Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi aparat keamanan di lapangan, terutama saat menjalankan tugas melindungi masyarakat. Bukan kali pertama anggota polisi menjadi korban kekerasan ketika berusaha meredam konflik. Situasi serupa pernah terjadi di berbagai daerah, menunjukkan bahwa eskalasi konflik di ruang publik kerap berujung pada serangan terhadap petugas.
Dampak dari insiden semacam ini tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Personel polisi yang bertugas di lapangan bisa merasa ragu saat hendak melakukan intervensi. Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap penegak hukum bisa tergerus jika tidak ada tindakan tegas. Karena itu, Polres Bone memastikan proses hukum berjalan tanpa pandang bulu.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan luka-luka, dengan ancaman hukuman penjara di atas lima tahun. Jika terbukti, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah mencederai aparat yang sedang menjaga ketertiban.
Rayendra mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan peristiwa ini. "Kami harap kejadian ini dapat menjadi pelajaran agar kita sama-sama menjaga situasi kondusif di Bone," katanya.
Di media sosial, peristiwa ini mendapat sorotan publik. Banyak yang mengecam tindakan para pelaku dan mendukung penegakan hukum tegas. Warganet juga menyoroti keberanian polisi muda yang tetap berusaha melerai meskipun dalam posisi tidak berpihak.
Langkah selanjutnya, penyidik akan melengkapi berkas perkara dan memeriksa saksi-saksi tambahan. Motif di balik serangan tengah diusut, termasuk kemungkinan adanya dendam atau pengaruh alkohol. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar penetapan status hukum para tersangka.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang peran polisi dalam de-eskalasi konflik dan perlindungan hukum yang memadai bagi mereka. Ketika aparat menjadi sasaran kekerasan saat menjalankan tugas, negara wajib hadir memastikan tidak ada impunitas.
Dengan penanganan cepat dan transparan, diharapkan keadilan dapat ditegakkan, dan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Masyarakat juga diharapkan bisa lebih menghargai peran polisi sebagai pelindung, bukan justru menyerang mereka saat tengah membantu.