Nasional

Polres Cilegon Salurkan Puluhan Ton Air Bersih ke Warga Krisis Kemarau

Ringkasan

  • Polres Cilegon salurkan puluhan ton air bersih Minggu ini ke warga Pulomerak terdampak kemarau sejak Juni 2026.

Kepolisian Resor Cilegon mendistribusikan puluhan ton air bersih kepada warga terdampak kekeringan di wilayah Polsek Pulomerak, Banten, pada Minggu ini. Bantuan itu menyasar kawasan perbukitan yang sejak akhir Juni 2026 kesulitan mengakses air untuk konsumsi dan kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK).

Kapolres Cilegon AKBP Martua Raja Taripar Laut Silitonga menyatakan aksi kemanusiaan tersebut berjalan aman dan tertib. Kerja sama antarinstansi menjadi kunci kelancaran pendistribusian di tengah musim kemarau yang mengeringkan sejumlah sumber air alami warga.

Krisis air di Cilegon tidak muncul tiba-tiba. Sejak akhir Juni 2026, wilayah perbukitan Pulomerak mulai kehilangan akses terhadap mata air yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Kemarau panjang memperparah kondisi fisik wilayah yang secara topografi sulit dijangkau jaringan pipa permanen.

Kelurahan Mekarsari menjadi salah satu titik paling terdampak. Di Lingkungan Tembulum, Gunung Batur 1, dan Gunung Batur 2, warga bergantung pada pasokan darurat yang disuplai lewat tangki. Keterbatasan infrastruktur air bersih membuat mereka rentan saat curah hujan menurun ekstrem.

Di Kelurahan Suralaya, sebanyak 32 ton air disalurkan ke Lingkungan Cisalak 1 dengan armada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim). Kondisi berbeda terjadi di Lingkungan Cisuru yang sudah mandiri melalui fasilitas sumur bor memadai, menunjukkan ketimpangan penanganan antarlingkungan.

Operasi ini melibatkan lintas sektor, bukan sekadar kepolisian. Baznas, Dinas Perkim, Perumda Cilegon Mandiri, PT PLN IP UBP Cilegon, CV Doa Ibu, hingga lembaga sosial kemasyarakatan bergabung memasok kebutuhan dasar warga. Kolaborasi semacam ini mencerminkan pentingnya sinergi saat bencana iklim bersifat lokal namun berdampak luas.

Bagi pembaca Indonesia, kejadian di Cilegon bukan kasus tunggal. Pola kekeringan musiman makin sering melanda berbagai daerah seperti Bekasi, Kudus, dan Jawa Timur. Ketergantungan pada bantuan tangki menunjukkan sistem ketahanan air di level kelurahan belum merata.

Perumda Cilegon Mandiri berkomitmen menambah 10 tangki air susulan untuk Mekarsari. Di Kelurahan Lebakgede, dari 6 RT yang ada, 5 RT sudah terkoneksi jaringan pipa Perumda langsung ke rumah warga. Satu RT tersisa dipasok dari Gunung Penawen sembari menunggu pengerjaan infrastruktur selesai.

Kapolres Cilegon menekankan prioritas pada lansia, balita, dan warga kurang mampu dalam setiap pengiriman. Kelompok rentan ini paling cepat merasakan dampak kesehatan saat pasokan sanitasi terganggu. Penanganan berbasis kebutuhan sosial menjadi kunci efektivitas bantuan.

Kapolsek Pulomerak Kompol Ambarita menilai kelancaran aksi jangka pendek ini harus menjadi pemantik solusi berkelanjutan. Ia mendorong pembuatan sumur bor baru dan sistem penampungan air hujan agar warga tidak tiap tahun bergantung pada tangki darurat.

“Penyaluran bantuan air bersih hari ini berjalan aman dan lancar. Sasaran utama kami adalah masyarakat terdampak, dengan prioritas khusus bagi lansia, balita, serta warga yang kurang mampu,” ucap AKBP Martua.

“Sinergi yang baik hari ini memotivasi kami untuk mendorong program pembuatan sumur bor baru dan sistem penampungan air hujan, demi memastikan pasokan air bersih bagi warga Pulomerak tetap aman di masa depan,” kata Kompol Ambarita.

Ke depan, Pemkot Cilegon dan kepolisian dituntut merancang peta jalan ketahanan air lingkungan. Investasi pada infrastruktur kecil seperti tandon komunal dan sumur bor lebih hemat daripada pengadaan tangki tiap kemarau. Warga perbukitan butuh kepastian, bukan sekadar respon sesudah krisis meluas.

Mengapa Ini Penting

Krisis air di Cilegon mengungkap kerentanan infrastruktur dasar di kawasan perbukitan urban yang kerap luput dari perencanaan tata kota. Ketergantungan pada bantuan darurat tiap kemarau membebani APBD dan masyarakat rentan secara berulang. Penguatan sistem lokal seperti sumur bor dan tandon hujan perlu jadi standar nasional, bukan sekadar respons insidental. Tanpa itu, daerah lain dengan topografi serupa akan menghadapi siklus kekeringan yang sama setiap tahun.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit