Presiden Prabowo Subianto menyerukan peringatan tegas kepada jajaran Kabinet Merah Putih agar menjaga kesehatan dan tidak sampai tumbang akibat kelelahan. Peringatan itu disampaikan saat ia berpidato dalam acara panen raya Tentara Nasional Indonesia di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026), sebagaimana dikutip dari siaran Sekretariat Presiden.
Prabowo bahkan menawarkan "ilmu khusus" kepada para pembantunya untuk menjaga kebugaran. "Menteri-menteri, jenderal-jenderal, jangan ambruk. Kalau mau ilmu, nanti saya kasih ilmu," ucapnya dengan nada bercanda di hadapan hadirin.
Kepala Negara kemudian berbagi pengalaman dari masa pendidikan militernya. Menurut Prabowo, prajurit memiliki cara sendiri yang unik untuk memanfaatkan setiap kesempatan beristirahat. "Tentara itu pintar cari waktu istirahat ya. Upacara saja bisa tidur," kata Prabowo, lantas menambahkan bahwa lulusan Akademi Militer dan Akademi Polisi semuanya memiliki kemampuan serupa, termasuk tidur di kelas.
Kendati demikian, Prabowo menegaskan bahwa kondisi tersebut sudah tidak berlaku bagi generasi taruna saat ini. Eks Menteri Pertahanan era Presiden Joko Widodo itu menjelaskan bahwa asupan gizi yang lebih baik telah mengubah kebiasaan tersebut. "Sekarang enggak, itu zaman dulu. Zaman kalian, enggak tidur di kelas, kan? Karena gizi sudah bagus," tuturnya.
Di sisi lain, Prabowo membanggakan kerja keras jajaran kabinetnya. Ia mengklaim para menteri dan kepala badan telah bekerja dengan gesit dan tanpa kenal lelah demi mengejar target-target yang telah ditetapkan pemerintahannya. Banyak di antara mereka, ujar Prabowo, yang bahkan harus masuk rumah sakit karena intensitas kerja yang tinggi.
Pidato Prabowo di Malang itu sejatinya bukan sekadar humor semata. Di balik candaan tentang tentara yang tidur saat upacara, tersembunyi pesan strategis tentang budaya kerja pemerintahannya. Prabowo menegaskan tekadnya untuk membawa Indonesia mencapai sasaran tertinggi dalam waktu secepat mungkin, mengingat rakyat Indonesia sudah terlalu lama menjalani kehidupan yang tidak seharusnya dialami oleh negara sebesar dan seberkah Indonesia.
Konteks pernyataan Prabowo ini perlu dilihat dari sisi beban kerja Kabinet Merah Putih yang memang tergolong berat. Sejak dilantik, kabinet ini dituntut untuk mengejar berbagai target ambisius, mulai dari program makan bergizi gratis hingga percepatan pembangunan infrastruktur. Tuntutan tersebut kerap kali memaksa para menteri bekerja melebihi jam normal, bahkan di akhir pekan.
Prabowo juga menegaskan bahwa ia tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang bersantai-santai. "Kita akan buktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia sedang bangkit dengan kekuatan kita sendiri," tuturnya dengan nada tegas. Pernyataan ini menggarisbawahi visi pemerintahannya yang mengedepankan akselerasi di berbagai sektor strategis.
Sejumlah pengamat politik menilai, pernyataan Prabowo tentang pentingnya menjaga kesehatan pejabat negara memiliki dimensi ganda. Di satu sisi, ini menunjukkan kepedulian presiden terhadap kesejahteraan jajarannya. Di sisi lain, ini juga bisa diartikan sebagai sinyal bahwa Prabowo menyadari risiko kelelahan yang mengancam kabinetnya mengingat volume pekerjaan yang sangat besar.
Kesehatan pejabat publik memang bukan isu sepele. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah menteri dan pejabat tinggi di berbagai negara diketahui mengalami masalah kesehatan serius akibat tekanan kerja yang berlebihan. Di Indonesia sendiri, beberapa menteri di kabinet-kabinet sebelumnya pernah harus menjalani perawatan medis akibat kelelahan kronis.
Ke depannya, pernyataan Prabowo ini berpotensi mendorong diskusi lebih lanjut tentang tata kelola beban kerja di lingkaran pemerintahan. Apakah kabinet akan menerapkan sistem kerja yang lebih terstruktur agar kesehatan pejabat tetap terjaga tanpa mengorbankan produktivitas? Pertanyaan itu kini mengemuka setelah peringatan langsung dari orang nomor satu di Indonesia.