Nasional

Prabowo Peringati Ancaman Karma bagi Pemimpin Provokator Kerusuhan, Tekankan Sportivitas Demokrasi

Ringkasan

  • Presiden Prabowo Subianto memperingati pemimpin yang memprovokasi kerusuhan akan kena karma, menegaskan sportivitas demokrasi berdasarkan pengalaman empat kali kalah Pilpres tanpa pernah mengajak massa anarkis.

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan peringatan keras bagi pemimpin yang diduga memprovokasi massa untuk melakukan kerusuhan di muka bumi republik. Dalam pidatonya pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional di Kawasan Senayan, Jakarta, Ahad (12/7/2026), Kepala Negara itu menegaskan bahwa tokoh-tokoh yang menganjurkan aksi anarkis tersebut adalah "pemimpin pengkhianat" yang akan menerima balasan hukum karma.

"Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di republik ini, itu adalah pemimpin pengkhianat, saudara-saudara sekalian. Saya percaya, hukum karma akan kena kepada mereka semua itu," ucap Prabowo dengan nada tegas di hadapan ribuan peserta acara yang dihadiri pula oleh jajaran pejabat tinggi negara dan pengurus koperasi se-Indonesia. Pernyataan ini datang di tengah suasana politik yang masih hangat pasca Pilkada Serentak 2024 dan dinamika koalisi pemerintahan.

Meski tidak menunjuk nominatif siapa pemimpin yang dimaksud, konteks pidato Prabowo mengarah pada dinamika kontestasi politik domestik di mana sejumlah tokoh oposisi atau figur publik dinilai menggerakkan massa untuk menolak hasil pilkada atau kebijakan pemerintah. Presiden menekankan bahwa dalam setiap kontestasi politik pasti ada yang menang dan kalah, namun perbedaan pilihan politik tidak boleh dijadikan alasan untuk menghancurkan tatanan negara.

"Tiap sekian tahun kita bertanding dengan baik. Enggak ada masalah. Siapa yang menang, monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar, itu bangsa apa?" tandas mantan Menteri Pertahanan itu. Retorika ini mencerminkan pandangan Prabowo yang konsisten sejak era kampanye: demokrasi Indonesia harus berlandaskan sportivitas, bukan kekerasan jalanan. Ia mengaitkan perilaku destruktif itu sebagai pengkhianatan terhadap bangsa, bukan sekadar perbedaan ideologi.

Untuk memperkuat argumen, Prabowo mengulas riwayat perjuangan politiknya sendiri yang penuh cobaan. Ia mengaku telah lima kali maju dalam Pilpres dan empat kali mengalami kekalahan — 2004 (sebagai Cawapres), 2009 (Cawapres), 2014, dan 2019 — namun tidak pernah memerintahkan pendukung untuk melakukan demo bersifat anarkis atau mengganggu ketertiban umum. Bahkan, ia hadir di pelantikan Presiden terpilih lawan politiknya sebagai bentuk penghormatan terhadap keputusan rakyat.

"Saya maju lima kali pemilihan. Empat kali kalah. Enggak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo saja enggak. Saya datang pelantikan rival saya, saya datang, saya hormat, saya kasih selamat," cerita Prabowo yang digreeting tepuk tangan meriah. Narasi pengalaman pribadi ini dipakai sebagai bukti nyata bahwa kekalahan politik bukan akhir segalanya, melainkan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati.

Analogi olahraga digunakan Prabowo untuk menyederhanakan konsep persaingan politik. "Bersaing itu baik. Pertandingan itu baik, iya, kan? Sepak bola ada pertandingan. Kan ada dua, satu harus menang, kalau satu kalah, masak, wasitnya mau digebukin? Persaingan itu biasa," ujarnya. Metafora ini bertujuan menormalkan kekalahan sebagai hal wajar, bukan kehormatan yang harus ditebus dengan kekerasan.

Pidato ini juga mengandung sinyal politik bagi koalisi dan oposisi. Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra yang kini memimpin Kabinet Merah Putih, Prabowo berusaha menegaskan legitimasi kepemimpinan berbasis hukum dan konstitusi, sekaligus mengisolir gerakan extra-parlementer yang berpotensi mengganggu stabilitas. Pakar politik menilai retorika "karma" dan "pengkhianat" merupakan framing moral yang kuat untuk mendelegitimasi aksi-aksi jalanan yang tidak konstitusional.

Di sisi lain, pernyataan Presiden ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan — termasuk aparat penegak hukum — untuk bersikap tegas terhadap provokator kerusuhan, sambil tetap menjamin ruang ekspresi opini yang konstitusional. Keseimbangan antara penegakan hukum dan kebebasan berbicara akan menjadi uji nyata komitmen pemerintah Prabowo dalam mengelola perbedaan politik di era digital yang penuh polarisasi.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Prabowo merefleksikan upaya presiden baru mengonsolidasikan otoritas moral di tengah polarisasi politik pasca-pemilu. Framing "karma" dan "pengkhianat» bagi provokator kerusuhan berfungsi sebagai deterrence naratif bagi aktor non-negara yang memanfaatkan kebebasan berkumpul untuk tujuan destruktif. Bagi publik, ini menegaskan batas-batas ekspresi politik yang konstitusional. Jangka panjang, konsistensi antara retorik sportivitas dan penegakan hukum terhadap anarkisme akan menentukan kepercayaan masyarakat pada komitmen reformasi birokrasi dan supremasi hukum di era Kabinet Merah Putih.

Sumber Asli
Tempo
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit