Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kekecewaan karena Indonesia, dengan penduduk mendekati 300 juta jiwa, belum pernah melangkah ke putaran final Piala Dunia FIFA. Pernyataan itu disampaikan saat ia bertemu sekitar 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Dalam sambutannya, Prabowo membandingkan kondisi sepak bola nasional dengan Cape Verde, negara kepulauan di Samudra Atlantik yang hanya berpenduduk sekitar 500 ribu namun sudah menembus panggung paling bergengsi dunia. Menurutnya, perbandingan ini bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan memicu introspeksi mendalam.
Latar belakang kekhawatiran ini berakar pada sejarah panjang sepak bola Indonesia yang kaya potensi bakat namun terbentur keterbatasan infrastruktur, sistem pembinaan muda, serta kualitas pelatih. Meskipun beberapa kali menggelar liga profesional dan mengundang pelatih asing, tim nasional Garuda tetap gagal menembus zona Asia ke Piala Dunia.
Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan Cape Verde patut dijadikan bahan pembelajaran: bagaimana negara kecil itu menyusun akademi, merekrut pelatih, dan mengintegrasikan sains olahraga ke dalam program pengembangan pemain. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan — dari federasi, klub, hingga pemerintah daerah — untuk menelusuri akar masalah dengan data yang objektif.
Kepala Negara juga menyoroti pentingnya budaya berbasis fakta dan realitas. "Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat," ujarnya, menekankan bahwa keberanian mengevaluasi kekurangan menjadi langkah awal menuju solusi yang lebih baik.
Kehadiran sejumlah menteri kabinet — di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid — menunjukkan bahwa isu sepak bola kini dilihat sebagai urusan lintas sektor, bukan hanya domain Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Para pengamat olahraga menilai ucapan ini dapat menjadi katalisator bagi penyusunan peta jalan sepak bola nasional yang lebih terukur. Beberapa pakar telah lama menyarankan penguatan sistem kompetisi usia dini, standarisasi lisensi pelatih, serta pemanfaatan teknologi analisis performa yang saat ini masih minim di klub-klub liga bawah.
Dalam konteks yang lebih luas, Prabowo mengaitkan kemajuan olahraga dengan penguasaan sains dan teknologi. Ia berpendapat bangsa yang mampu menguasai ilmu pengetahuan akan maju pesat, dan hal itu berlaku pula untuk pengembangan atlet berbasis riset biomekanika, nutrisi, dan psikologi olahraga.
BRIN, sebagai lembaga riset nasional, diharapkan memainkan peran strategis menyediakan data empiris dan inovasi teknologi yang dapat diadopsi federasi dan klub. Kolaborasi antara peneliti, pelatih, dan manajemen klub diharapkan melahirkan model pembinaan yang terukur dan berkelanjutan.
Masyarakat sepak bola Indonesia menantikan langkah konkret pasca pernyataan ini, misalnya alokasi anggaran khusus untuk akademi daerah, program sertifikasi pelatih bertaraf internasional, serta integrasi platform analitik video dan wearable tech di latihan harian.
Jika upaya introspeksi dan kolaborasi lintas sektor tersebut terealisasi, Indonesia memiliki peluang realistis untuk mengubah narasi "negara besar yang gagal ke Piala Dunia" menjadi "negara besar yang belajar dari yang kecil dan bangkit". Hal itu tidak hanya memuaskan kebanggaan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi lewat industri sepak bola yang lebih matang.
Singkatnya, kekecewaan Prabowo bukan sekadar keluhan, melainkan panggilan aksi bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia untuk bertransformasi berbasis bukti, belajar dari praktik terbaik global, dan memanfaatkan kemajuan sains-teknologi demi cita-cita lolos ke Piala Dunia mendatang.