Nasional

Prabowo Tegaskan Indonesia Bangkit, yang Pesimis Silakan Cari Negara Lain

Ringkasan

  • Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan tegas di puncak Hari Koperasi Nasional: yang merasa Indonesia suram silakan cari negara lain.
  • Ia menegaskan kekayaan Indonesia berlimpah, meminta persatuan, serta menolak budaya caci maki dan kebencian antar warga negara.

PRESIDEN Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan tegas di hadapan ribuan peserta puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (HKN) ke-78 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Ahad (12/7/2026). Kepala Negara itu mempersilakan pihak-pihak yang meragukan masa depan Indonesia untuk mencari negara lain, sambil menegaskan keyakinannya bahwa negeri ini memiliki kekayaan melimpah dan pasti akan bangkit.

"Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah aja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," ucap Prabowo dengan nada tegas yang disambut tepuk tangan hadirin. Pernyataan ini datang di tengah dinamika politik dan ekonomi pasca-pemilu 2024, di mana polarisasi masyarakat masih terasa meskipun proses transisi kekuasaan telah berjalan lancar.

Dalam pidatonya, Prabowo tidak hanya berbicara tentang optimisme ekonomi, tetapi juga menuntut perubahan budaya politik bangsa. Ia mengajak seluruh elemen meninggalkan budaya saling memaki, membenci, dan tidak percaya satu sama lain. "Marilah kita kembali ke sifat bangsa Indonesia yaitu saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu, jangan ikut-ikut budaya caci maki, dengki, budaya curiga," tegas mantan Menteri Pertahanan itu.

Presiden juga menekankan pentingnya gotong royong sebagai fondasi kebangkitan nasional. Menurutnya, pihak-pihak yang kuat secara ekonomi atau politik wajib memberikan bantuan kepada yang lemah, sementara pihak lemah harus bekerja sama dengan baik. Pendekatan ini mencerminkan filosofi koperasi yang menjadi tema peringatan HKN tahun ini: "Koperasi: Pilar Ekonomi Rakyat untuk Indonesia Emas 2045".

Konteks pidato ini tidak terlepas dari tantangan nyata yang dihadapi pemerintah. Indonesia saat ini berusaha mengeksekusi program-program strategis seperti Makan Bergizi Gratis, percepatan downstreaming mineral, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Semua itu membutuhkan stabilitas politik dan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing. Retorika Prabowo yang menolak pesimismo bertujuan mengunci narasi nasional ke arah konstruktif.

Analis politik menilai pernyataan "silakan cari negara lain" tersebut sebagai gaya komunikasi khas Prabowo yang populis namun berani. Dr. Arya Fernandes dari CSIS menganggap kalimat itu sebagai "shock therapy" bagi opini publik yang terlalu fokus pada keluh kesah tanpa menawarkan solusi. "Presiden ingin menggeser narasi dari keluhan menuju aksi kolektif," ucapnya saat dihubungi Tempo.

Di sisi ekonomi, data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan PDB triwulan II-2026 sebesar 5,12% (yoy), inflasi terkendali di level 2,3%, dan cadangan devisa mencatat rekor tinggi US$150,2 miliar per Juni 2026. Faktanya, Indonesia justru dinilai agensi rating internasional seperti Moody's dan Fitch sebagai salah satu ekonomi besar paling tangguh di Asia Tenggara. Realita ini mendukung keyakinan Prabowo soal "kekayaan berlimpah".

Namun, tantangan struktural tetap ada: kesenjangan ekonomi (rasio Gini 0,39), kemiskinan multidimensi, dan ketergantungan komoditas. Prabowo sadar hal ini, sehingga ia menutup pidato dengan mengingatkan bahwa perbedaan suku, agama, maupun pilihan politik tidak boleh memecah belah. "Untuk apa kita bertikai, kita ini satu keluarga... Semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga," ucapnya, menutup pidato dengan nada realistis namun menyatukan.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Prabowo mencerminkan strategi komunikasi presiden baru dalam mengelola ekspektasi publik di tengah tantangan struktural. Retorika "silakan cari negara lain" berfungsi sebagai filter narasi: memisahkan kritikus konstruktif dari pesimis kronis yang menghambat momentum reformasi. Bagi industri teknologi dan startup, stabilitas politik dan narasi optimisme ini krusial untuk mempertahankan kepercayaan investor global dan talenta digital yang mulai mempertimbangkan relokasi. Implikasinya, kebijakan downstreaming, IKN, dan transformasi digital butuh dukungan narasi nasional yang kohesif, bukan fragmentasi opini yang melumpuhkan eksekusi program strategis.

Sumber Asli
Tempo
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit