Nasional

Prabowo Tegaskan: Pesimisme Tak Membangun, Siap Pindah ke Negara Lain Jika Merasa Indonesia Suram

Ringkasan

  • Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak ada ruang bagi pesimisme dalam membangun Indonesia.
  • Pada Harkopnas ke-79, ia menantang yang merasa Indonesia suram untuk mencari negara lain, sambil menggarisbawahi peran koperasi sebagai motor perekonomian kerakyatan.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan teguran keras bagi pihak-pihak yang menebar pesimisme terhadap prospek masa depan Indonesia. Dalam pidatonya pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7), kepala negara itu mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu membangun negeri daripada terjebak dalam narasi suram yang tidak produktif.

"Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan. Tidak ada yang melarang," tegas Prabowo di hadapan ribuan peserta Harkopnas yang hadir di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Pernyataan tajam ini langsung menuai perhatian publik dan menjadi sorotan media sosial, mencerminkan gaya komunikasi langsung dan tidak bertele-tele yang khas pribadi mantan Panglima TNI ini.

Di balik nada tegas tersebut, Prabowo menyoroti potensi ekonomi Indonesia yang masif. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus menggerakkan roda perekonomian dari tingkat paling bawah—desa dan kabupaten—melalui penguatan koperasi sebagai tulang punggung pemberdayaan ekonomi rakyat. Program-program seperti Koperasi Desa (Kopdes), Bantuan Modal Usaha Koperasi, hingga skema penyediaan pangan dan energi terbarukan berbasis koperasi menjadi instrumen konkret yang digulirkan administrasi ini.

Konteks pidato ini tidak terlepas dari dinamika politik dan sosial pasca-Pemilu 2024 yang masih mempolarisasi sebagian masyarakat. Narasi "Indonesia suram" kerap muncul di ruang publik, baik dari kritik oposisi, analisis ekonomi pesimistis, hingga isu-isu hukum dan HAM yang diangkat oleh kelompok sipil. Prabowo cerdas memanfaatkan momentum Harkopnas—momen yang identik dengan semangat gotong royong dan ekonomi kerakyatan—untuk mengalihkan fokus dari perdebatan ideologis ke aksi kolaboratif.

"Mari kita bersatu. Mari kita gotong royong. Mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah. Yang lemah kerja sama yang baik. Insya Allah kita akan bangkit," ujarnya, menggarisbawahi filosofi Pancasila sebagai landasan kebersamaan. Presiden juga menegaskan bahwa perbedaan latar belakang politik, suku, agama, maupun afiliasi partai tidak boleh menjadi dinding pemisah. "Kita ini satu keluarga. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun partai kita. Semua partai banyak patriot," pungkasnya.

Analis politik menilai retorika Prabowo ini bertujuan mengonsolidasi basis dukungan di tengah tekanan tantangan ekonomi global, seperti ketidakpastian harga komoditas, perang dagang AS-Tiongkok, serta transisi energi yang menuntut biaya masif. Dengan menempatkan koperasi sebagai Lokomotif, pemerintah berusaha membuktikan bahwa pembangunan inklusif bukan sekadar jargon, melainkan strategi survival ekonomi nasional.

Namun, tantangan implementasi tetap besar. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan hanya sekitar 30 persen dari 300 ribu koperasi terdaftar yang aktif dan sehat. Birokrasi perizinan, akses pembiayaan terbatas, serta tata kelola yang lemah menjadi hambatan klasik. Pernyataan Presiden harus diikuti reformasi struktural—mulai dari penyederhanaan regulasi, digitalisasi koperasi, hingga penegakan hukum terhadap penggelapan dana koperasi—agar semangat "gotong royong" tidak berhenti pada level retorika.

Secara luas, pidato ini mengirim sinyal ke investor domestik dan asing bahwa stabilitas politik dijaga melalui pendekatan inklusif, bukan konfrontif. Bagi masyarakat awam, pesan "silakan cari negara lain" bisa diterjemahkan sebagai dorongan untuk berpartisipasi aktif—mengawasi, berkontribusi, atau membangun—daripada sekadar mengkritik dari pinggir. Indonesia memang tidak sempurna, tapi seperti yang ditekankan Prabowo, masa depan bangsa ditentukan oleh siapa yang mau berdiri dan bekerja, bukan siapa yang paling jago mencela.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Prabowo memicu diskursus publik tentang batasan kritik konstruktif versus pesimisme destruktif dalam demokrasi. Bagi sektor teknologi dan startup, dorongan digitalisasi koperasi membuka peluang kolaborasi B2B2C masif di tingkat desa. Stabilitas narasi politik ini juga menjadi sinyal bagi investor venture capital global soal keberlanjutan kebijakan pro-ekonomi digital Indonesia.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit