Nasional

PTDI Serahkan NC212i Ke-8 ke TNI AU, Satu Unit Lagi Menuju Penuntasan Kontrak 2027

Ringkasan

  • PT Dirgantara Indonesia mengirimkan pesawat NC212i unit ke-8 bermesin Honeywell dan baling-baling MTV-27 buatan Jerman ke Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Kamis (9/7/2026), sebagai bagian penuntasan kontrak sembilan unit dengan Kementerian Pertahanan.

Pesawat transport taktis buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bertipe NC212i nomor registrasi AX-2135 resmi mendarat di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, setelah melakukan penerbangan ferrry dari Pusat Pengiriman PTDI di Bandung. Pengiriman unit ke-8 ini menandai kemajuan signifikan dalam program pengadaan alutsista multiperan untuk TNI Angkatan Udara yang dikontrakkan sejak beberapa tahun lalu.

Direktur Produksi PTDI Dena Hendriana menegaskan bahwa pengiriman ini merupakan manifestasi komitmen perusahaan BUMN menghadapi target penyerahan sembilan unit pesawat hingga Oktober 2027. "Ini merupakan unit ke-8 dari 9 yang di-order. Insya Allah, ini akan memperkuat kekuatan TNI AU yang bermarkas di Malang," ucap Dena di Bandung, Kamis. Konfigurasi khusus Troop Transport, Rainmaking, dan Camera menjadikan pesawat ini fleksibel untuk berbagai misi operasi militer maupun non-militer.

Latar belakang pengadaan NC212i bermula dari kebutuhan TNI AU menggantikan armada lama bertipe CN-235 dan NC-212 versi lama yang sudah berusia puluhan tahun. Kementerian Pertahanan melalui program Minimum Essential Force (MEF) menargetkan modernisasi armada transport taktis agar mampu menjawab tantangan operasional di wilayah NKRI yang luas dan bergeografis kompleks. Pemilihan NC212i berbasis platform N-212 yang sudah terbukti handal dioperasikan TNI AU sejak era 1980-an dianggap langkah efisien karena kesamaan logistik dan pelatihan kru.

Keunggulan teknis NC212i terletak pada sistem propulsinya. Baling-baling MTV-27 buatan MT Propeller Jerman bersertifikasi EASA dipadukan dengan mesin turbo-prop Honeywell TPE331-12B. Kombinasi ini menghasilkan penurunan getaran dan tingkat kebisingan kabin hingga 40 persen dibanding versi sebelumnya. Pilot in Command Ferry Letkol Pnb Andika Ardyagana mengonfirmasi performa mesin start yang lebih halus serta stabilitas terbang single-engine di ketinggian tinggi — kritikal untuk keamanan misi di kawasan pegunungan Papua dan perbatasan.

Dalam konteks industri pertahanan nasional, pengiriman ini memperkuat narasi kemandirian dirgantara. PTDI tidak hanya merakit rangka pesawat tetapi juga mengintegrasikan avionik modern, sistem komunikasi taktis, dan modifikasi struktur untuk menopang beban misi khusus. Kapasitas produksi PTDI saat ini mencapai 6-8 unit per tahun untuk segmen CN-235 dan NC212i, didukung fasilitas pabrik di Bandung yang telah melalui sertifikasi AS9100 dan Part 21 DOA dari Kementerian Perhubungan.

Sisi lain yang patut diperhatikan adalah peran ganda NC212i untuk kepentingan sipil. Konfigurasi Rainmaking memungkinkan pesawat ini dikerahkan untuk operasi modifikasi cuaca penanggulangan kebakaran hutan dan lahan serta peningkatan cadangan air waduk. Kemampuan pemetaan foto udara dengan kamera metrik presisi tinggi mendukung kegiatan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan perencanaan pembangunan infrastruktur di daerah 3T. Fleksibilitas multiperan ini mengoptimalkan biaya operasional per jam terbang.

Namun, tantangan tetap ada pada rantai pasokan komponen impor. Mesin Honeywell dan baling-baling MT Propeller sepenuhnya diimpor, membuat ketersediaan suku cadang rentan terhadap fluktuasi kurs dan kebijakan ekspor negara asal. PTDI telah memulai program indigenisasi bertahap melalui kerja sama dengan BRIN dan PT Pindad untuk pengembangan komponen struktural dan sistem avionik lokal. Target jangka menengah adalah mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 55 persen untuk varian generasi mendatang.

Letkol Pnb Andika Ardyagana yang menuntun ferry flight bersama Kopilot Kapten Irvan Fajar mengungkapkan keyakinan penuh atas kesiapan operasional unit AX-2135. "Kemarin kami melaksanakan pengembangan. Alhamdulillah, dapat mencapai kemampuan maksimumnya," ujarnya pasca lulus sertifikasi Flight Acceptance Certificate pada 9 Juli 2026. Proses penerimaan resmi oleh Kementerian Pertahanan dan TNI AU akan segera dilaksanakan sebelum pesawat diintegrasikan ke Skadron Udara 31 di Malang.

Sisa satu unit terakhir dari kontrak sembilan unit dijadwalkan rampung dan dikirimkan pada Oktober 2027. Penuntasan kontrak ini akan menutup babak pengadaan NC212i batch pertama dan membuka peluang negosiasi kontrak lanjutan. TNI AU telah mengindikasikan kebutuhan tambahan hingga 12 unit untuk menggantikan seluruh armada NC-212 lama yang masih beroperasi di sejumlah lanud. Keputusan ini akan bergantung pada evaluasi kinerja armada saat ini dan ketersediaan anggaran APBN.

Di tingkat strategis, keberhasilan program NC212i menjadi bukti nyata bahwa industri dirgantara nasional mampu memenuhi kebutuhan alutsista utama dengan standar internasional. Hal ini memperkuat posisi tawar Indonesia dalam kerja sama pertahanan bilateral, terutama dengan negara-negara ASEAN yang mulai menunjukkan minat pada platform transport taktis buatan PTDI. Filipina dan Thailand pernah mengeksplorasi kemungkinan pembelian CN-235 dan N-219, membuka peluang ekspor bernilai ratusan juta dolar AS.

Masa depan industri ini akan diuji pada proyek N-219 Nurtanio dan KFX/IF-X bersama Korea Selatan. Pengalaman manajemen proyek, sertifikasi, dan logistik pendukung dari program NC212i menjadi modal berharga. PTDI harus memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat sertifikasi tipe N-219 yang sudah tertunda, serta membangun ekosistem suplai domestik yang lebih mandiri. Kemandirian dirgantara bukan hanya soal merakit pesawat, tapi menguasai teknologi inti dari desain hingga sertifikasi.

Mengapa Ini Penting

Pengiriman NC212i ke-8 bukan sekadar penambangka angka armada bertambah. Ini menandakan PTDI mampu memproduksi platform kompleks dengan konsistensi kualitas bertahun-tahun — hal yang jarang dicapai industri manufaktur tinggi di Indonesia. Kemandirian komponen propulsor (mesin dan baling-baling) masih bergantung impor, tapi integrasi sistem, modifikasi misi, dan sertifikasi flight acceptance sudah dikuasai dalam negeri. Jika PTDI berhasil naikkan TKDN dan luncurkan N-219 tepat waktu, Indonesia punya dua platform transport taktis dan perintis yang bisa diekspor ke pasar ASEAN. Kegagalan pada N-219 akan meninggalkan celah kapasitas yang harus diisi impor mahal. Momentum ini menentukan apakah industri dirgantara nasional jadi pilar ketahanan atau tetap perakit komponen orang lain.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit