Nasional

Ratusan Kapal Iringi Nadran Muaragembong, Nelayan Bekasi Syukuri Berkah Laut

Ringkasan

  • Sedikitnya 700 kapal nelayan mengiringi prosesi larung sesaji dalam tradisi Nadran di perairan Muaragembong, Bekasi, Selasa, sebagai wujud syukur atas hasil laut.

Ribuan nelayan dari pesisir utara Kabupaten Bekasi memadati perairan Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, dalam sebuah prosesi tradisi pesta laut atau nadran. Sedikitnya 700 hingga 800 kapal motor berbagai ukuran ikut serta meramaikan agenda tahunan tersebut. Mereka berlayar bersama mengiringi sesaji yang dihanyutkan ke tengah laut sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh selama setahun terakhir.

Prosesi inti berupa larung sesaji kepala kerbau dilakukan pada Selasa. Titik pelepasan berada sejauh tiga kilometer dari Kampung Muara Bendera, dengan kedalaman perairan mencapai belasan meter. Lautan di wilayah tersebut menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat pesisir masih memegang teguh kearifan leluhur di tengah gempuran modernisasi industri perikanan.

Nadran merupakan tradisi turun-temurun yang telah lama mengakar dalam kehidupan sosial budaya nelayan Muaragembong. Ritual ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang perekat sosial bagi warga pesisir yang mata pencahariannya sangat bergantung pada kondisi alam. Melalui nadran, masyarakat setempat mengekspresikan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan hasil tangkapan ikan yang selama ini menopang ekonomi keluarga.

Penyelenggaraan tahun ini terasa sangat istimewa bagi warga setempat. Pasalnya, pada 2025 lalu, tradisi tersebut terpaksa tidak digelar karena krisis energi yang melanda sektor kelautan. Kelangkaan bahan bakar minyak dan elpiji membuat nelayan tidak bisa melaut secara maksimal, sehingga momentum syukuran pun urung dilaksanakan.

Ketika harga dan ketersediaan energi kembali agak stabil memasuki 2026, antusiasme warga meledak. Mereka turun ke laut dengan semangat yang jauh lebih besar dibandingkan pelaksanaan terakhir pada 2024. Kemeriahan ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan emosional nelayan terhadap laut yang mereka sebut sebagai ibu penyambung hidup.

Di balik kemeriahan ritual, tersimpan persoalan pelik yang dihadapi nelayan kecil di Bekasi. Akses terhadap BBM bersubsidi dan LPG untuk operasional kapal masih menjadi kendala struktural. Kapal-kapal nelayan tradisional di Muaragembong mayoritas berukuran kecil dan mengandalkan elpiji sebagai bahan bakar mesin tempel. Ketika pasokan langka, biaya operasional melonjak tajam dan menggerus margin keuntungan nelayan.

Kondisi ini memunculkan ironi tersendiri. Di satu sisi, negara berupaya mendorong ketahanan pangan laut dan peningkatan produksi perikanan nasional. Di sisi lain, nelayan di garis depan justru kesulitan mendapatkan energi dasar untuk sekadar bisa mengais rezeki di laut. Tanpa dukungan logistik energi yang memadai, tradisi nadran yang penuh harap akan tangkapan melimpah berisiko hanya menjadi bunga tidur.

Minimnya sentuhan pemerintah dalam pelestarian tradisi ini juga layak menjadi catatan. Hampir seluruh biaya penyelenggaraan nadran 2026 ditanggung secara swadaya oleh masyarakat. Padahal, kegiatan semacam ini merupakan aset kearifan lokal yang bisa diangkat sebagai potensi pariwisata budaya sekaligus daya tarik investasi daerah pesisir.

Ketua Panitia Nadran 2026, Rasim, mengungkapkan kebanggaannya melihat partisipasi warga yang begitu masif. "Tahun ini alhamdulillah sangat meriah, peserta lebih antusias. Terakhir kita gelar tahun 2024, 2025 kita tidak mengadakan karena memang banyak nelayan yang tidak melaut saat itu," ujar dia. Rasim menambahkan, pelaksanaan kali ini membuktikan bahwa tradisi leluhur tetap hidup di tengah keterbatasan ekonomi warga.

Rasim juga menyoroti soal nasib nelayan yang kerap kali terpinggirkan. Menurutnya, kendala utama bukan pada hasil laut yang menyusut, melainkan mahal dan sulitnya energi untuk melaut. "Kendala utama kami BBM karena sering sulit didapat dan harganya tinggi. Termasuk LPG juga sulit, padahal kapal-kapal kecil banyak yang menggunakan LPG," kata Rasim. Ia berharap pemerintah daerah lebih peka terhadap nasib nelayan dan tradisi yang mereka jaga.

Ke depan, keberlangsungan nadran dan kesejahteraan nelayan Muaragembong akan sangat bergantung pada kebijakan energi nasional. Jika kelangkaan BBM dan LPG kembali terjadi, bukan tidak mungkin tradisi ini kembali vakum dan mata rantai kearifan lokal putus. Pemerintah Kabupaten Bekasi perlu merumuskan skema pendampingan, baik melalui alokasi dana pelestarian budaya maupun jaminan pasokan energi nelayan.

Harapan besar kini ditumpukan pada transisi energi yang lebih adil untuk sektor perikanan rakyat. Nelayan Muaragembong tetap berikhtiar menjaga laut dengan cara leluhur, sembari menanti kehadiran negara yang lebih peduli. Tradisi nadran telah membuktikan daya tahannya, namun daya tahan nelayan menghadapi krisis ekonomi membutuhkan dukungan nyata di luar ritual syukur.

Mengapa Ini Penting

Tradisi nadran di Muaragembong menyoroti ketimpangan struktural antara kekayaan laut Indonesia dan kesejahteraan nelayan di garis depan yang masih kesulitan akses energi dasar. Minimnya intervensi pemerintah daerah dalam mendanai pelestarian budaya pesisir memicu ketahanan tradisi yang rapuh terhadap guncangan ekonomi seperti kelangkaan BBM. Ke depan, nadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan indikator kesehatan ekosistem sosial-ekonomi perikanan rakyat yang butuh perlindungan kebijakan nyata.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit