Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) secara resmi menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Emir Qatar periode 1995 hingga 2013, yang meninggal dunia pada usia 74 tahun pada hari Minggu, 12 Juli 2026. Pernyataan duka cita tersebut disampaikan melalui akun media sosial resmi Kemlu di platform X, menegaskan solidaritas Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Qatar dalam menghadapi kehilangan tokoh negara senior tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Kemlu menyampaikan pesan belasungkawa secara langsung kepada Emir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani yang merupakan putra mendiang, seluruh anggota keluarga kerajaan Al Thani, serta pemerintah dan rakyat Qatar. Langkah diplomatik ini mencerminkan kedekatan hubungan bilateral yang telah dibangun selama puluhan tahun, di mana Qatar menjadi salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Timur Tengah, khususnya dalam sektor energi, tenaga kerja, dan kerja sama pengembangan infrastruktur.
Kabar duka secara resmi diumumkan oleh Amiri Diwan, kantor kepresidenan Qatar, yang dalam pernyataannya menyebut Sheikh Hamad sebagai sosok yang memiliki peran monumental dalam perjalanan modernisasi negara tersebut. "Dengan hati yang teguh dalam keimanan kepada ketetapan dan takdir Allah, Amiri Diwan berduka atas kehilangan besar bagi bangsa ini," tulis pernyataan resmi yang dikutip Al Jazeera. Pemerintah Qatar telah menetapkan masa berkabung nasional selama empat hari mulai tanggal 12 Juli, dengan bendera dibendera setengah tiang di seluruh wilayah negara.
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani memerintah Qatar selama hampir dua dekade, sejak menggantikan ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, melalui perpindahan kekuasaan tanpa aliran darah pada Juni 1995. Di bawah kepemimpinannya, Qatar mengalami transformasi radikal dari negara kecil bergantung mutiara dan perikanan menjadi salah satu ekonomi paling kaya dan berpengaruh di dunia, didorong oleh eksploitasi cadangan gas alam raksasa di Ladang Utara (North Field), cadangan gas non-asosiasi terbesar di dunia yang dibagi dengan Iran.
Pencapaian paling signifikan di era Sheikh Hamad adalah pembentukan Qatar menjadi eksportir Gas Cair (LNG) terbesar dunia selama bertahun-tahun, sebelum baru-baru ini digeser oleh Amerika Serikat dan Australia. Kebijakan visi "Qatar National Vision 2030" yang diluncurkan pada 2008 menjadi blueprint pengembangan jangka panjang yang mengarahkan pendapatan hidrokarbon ke diversifikasi ekonomi, pembangunan modal manusia, dan investasi global melalui Qatar Investment Authority (QIA), fonds sovran yang mengelola aset ratusan miliar dolar AS di seluruh dunia.
Di ranah diplomasi, Sheikh Hamad memposisikan Qatar sebagai pemediator konflik regional yang netral dan aktif, mulai dari mediasi kesepakatan Doha untuk Lebanon (2008), perdamaian Darfur, hingga peran kunci dalam negosiasi kesepakatan perdamaian Taliban-AS yang ditandatangani di Doha pada Februari 2020. Kebijakan "open door policy" dan keanggotaan aktif di Lembaga Kerja Sama Teluk (GCC), Organisasi Kerja Sama Islam (OIC), serta PBB membuat Qatar menjadi aktor kunci yang tidak bisa diabaikan dalam geopolitika Timur Tengah.
Bagi Indonesia, wafatnya Sheikh Hamad memiliki makna khusus mengingat Qatar merupakan tujuan utama Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di kawasan Teluk dengan populasi mencapai ratusan ribu, serta pemasok LNG jangka panjang bagi kebutuhan energi domestik. Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Doha pada Juni 2022 dan kunjungan balik Sheikh Tamim ke Jakarta pada Mei 2023 telah memperkuat kerangka kerja sama strategis yang mencakup investasi infrastruktur, pertahanan, keamanan pangan, hingga ekonomi kreatif. Duka cita yang disampaikan RI bukan sekadar formalitas protokol, melainkan pengakuan atas fondasi hubungan yang dibangun di era Sheikh Hamad.
Upacara pemakaman dijadwalkan berlangsung setelah Salat Maghrib waktu setempat di kawasan Lusail, kota baru yang menjadi simbol modernisasi Qatar di era kepemimpinan mendiang. Selanjutnya, Emir Sheikh Tamim dijadwalkan menerima ucapan belasungkawa dari kepala negara, pejabat tinggi, dan masyarakat umum pada 13 hingga 15 Juli di Istana Amiri. Transisi kekuasaan yang mulus pada 2013 dari Sheikh Hamad ke putranya Sheikh Tamim — yang saat itu berusia 33 tahun menjadi pemimpin paling muda di GCC — telah terbukti stabil, memastikan kontinuitas kebijakan luar negeri dan pembangunan nasional Qatar tetap berjalan lancar pasca era "Father Emir".